BERITA UTAMA

PROGRAM PRIORITAS

BLUSUKAN

Teruslah Belajar untuk Wujudkan Cita-Cita

Sebagai realisasi program strategis nasional, Presiden Joko Widodo menyerahkan 1.000 Kartu Indonesia Pintar kepada siswa SD, SMP, SMA, SMK dan juga program Kesetaraan (Paket...

Pasar Mama-mama, Perhatian kepada Pedagang Tradisional Papua

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau pembangunan Pasar Mama-Mama, di kota Jayapura. Pembangunan pasar bagi Mama-Mama Papua ini merupakan bagian dari Program Nawacita Presiden Joko...

Naik Trail, Presiden Lihat Sulitnya Membangun Trans Papua

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengendarai sendiri motor trail menyusuri jalan Trans Papua sepanjang kurang lebih 6 km yang belum diaspal. Itu dilakukan Presiden saat...

Terobosan Pembangunan Pembangkit Listrik di Indonesia Timur

Keluhan yang kerap didengar Presiden Joko Widodo (Jokowi) setiap berkunjung ke provinsi, ke kabupaten dan kota manapun, adalah masalah listrik. “Ada yang lapor, Bupati, “Pak, listrik...

PLBN Skouw dan Bukti Pembangunan Daerah Perbatasan

Sejak hari pertama dilantik, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan keinginan untuk membangun daerah-daerah perbatasan. Pembangunan beranda-beranda terdepan Indonesia tidak boleh dilupakan. “Seperti di mana...

FOTO VIDEO

Membelah belantara, naik gunung yang sangat tinggi, sampai 3.200 meter di atas permukaan laut. Inilah medan berat yang harus diatasi Kementerian PUPR dan TNI yang bersama-sama membangun jalan di Trans Papua ini.

Saya menyusuri tujuh kilometer dari 287 kilometer jalur Wamena sampai ke Kenyam dengan sepeda motor.

Simak video saya dari jalur Trans Papua ini .... ... See MoreSee Less

View on Facebook

Negara Pancasila itu sudah final.

Bila ada organisasi massa yang ingin keluar dan mengganggu ideologi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan kebinekaan bangsa, saya pastikan bahwa negara tidak akan tinggal diam.

Bagaimana kalau ada ormas yang seperti itu? Kita gebuk!

Begitu juga PKI yang berhaluan komunis. Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 telah menyatakan bahwa PKI sebagai organisasi terlarang. Bila PKI bangkit lagi di Tanah Air, ya kita gebuk. Kita tendang.

Itu sudah jelas. Jangan ditanyakan lagi karena payung hukumnya jelas: Tap MPRS. ... See MoreSee Less

View on Facebook

Indonesia dan Swedia terpisah benua, berjarak lebih dari 10.000 kilometer, tapi kedua negara memiliki begitu banyak kesamaan. Dalam politik luar negeri, misalnya, kita sama-sama berperan aktif dalam pasukan perdamaian PBB, sama-sama mendukung kemerdekaan Palestina, dan bahkan juga sepakat bekerja sama trilateral membantu Palestina sejak tahun 2015.

Kedatangan Raja Swedia Carl XVII Gustaf dan Ratu Silvia di Istana Kepresidenan Bogor, Senin kemarin, kita sambut dengan meriah. Ada pasukan Nusantara, korps musik, pasukan berkuda oleh Paspampres, juga para pelajar dari Kota Bogor yang mengenakan pakaian adat Nusantara. Saya mengajak Raja Carl XVI berkeliling area Kebun Raya Bogor dengan kendaraan buggy yang saya kemudikan sendiri.

Kami juga berbincang di beranda Istana Bogor sambil menikmati keindahan patung "The Hand of God", sebuah karya dari pematung asal Swedia yang ada di halaman belakang Istana Bogor. Di halaman itu pula kami menanam pohon ulin: kayu yang paling kuat, supaya hubungan kita menjadi kuat sekali. Sekuat kayu ini.

Kepada Raja Swedia Carl XVI Gustaf, pemerintah menganugerahkan Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Adipurna, sebagaimana saya juga dulu mendapat kehormatan serupa, penghargaan The Royal Order of the Seraphim dari Raja Swedia.

Ini memang kunjungan bersejarah mengingat 65 tahun menjalin hubungan bilateral, baru pertama kalinya seorang Kepala Negara Swedia melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Tentu saja, kedatangan Raja Carl XVII menjadi kesempatan untuk meningkatkan hubungan dan kerja sama yang lebih luas antara dua negara.

Swedia merupakan mitra perdagangan terbesar bagi Indonesia di kawasan Nordic. Dalam kunjungannya ke Indonesia, Raja Swedia didampingi 35 delegasi bisnis, dan kedua negara akan menyelenggarakan Indonesia-Sweden Executive Forum.

Kedua negara juga menandatangani tiga nota kesepahaman, yakni kerja sama mengenai bebas visa untuk paspor diplomatik dan dinas, kerja sama di bidang transportasi, navigasi udara, dan airport, serta kerja sama dalam bidang industri kreatif. Ada juga yang ditandatangani secara terpisah, yaitu kerja sama di bidang inovasi, kewirausahaan, science park, dan pembiayaan pendidikan.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik dan radikalisme terorisme. Jutaan saudara-saudara kita harus keluar dari negaranya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jutaan generasi muda kehilangan harapan masa depannya.

Kondisi ini membuat anak-anak muda frustrasi dan marah, perasaan yang dapat berakhir dengan munculnya bibit-bibit baru ektremisme dan radikalisme.

Inilah yang saya paparkan di forum Konferensi Tingkat Tinggi Arab Islam Amerika di Conference Hall King Abdulaziz Convention Center, Riyadh Arab Saudi, Minggu 21 Mei kemarin. Tujuh kepala negara dan pemerintahan tampil sebagai pembicara di forum yang dihadiri 55 pemimpin negara berpenduduk mayoritas muslim dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu. Salah satunya adalah saya sebagai Presiden Republik Indonesia.

Tentu saja, kesempatan itu saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menyampaikan pemikiran mengenai konflik, radikalisme dan terorisme yang sedang menjadi ancaman di mana-mana. Dan Indonesia adalah salah satu korban aksi terorisme. Contohnya, serangan bom di Bali tahun 2002 dan 2005, dan di Jakarta pada bulan Januari 2016.

Dunia marah dan berduka melihat jatuhnya korban serangan terorisme di berbagai belahan dunia di Perancis, Belgia, Inggris, Australia dan lain-lain. Dunia seharusnya juga sangat prihatin terhadap jatuhnya lebih banyak korban jiwa akibat konflik dan aksi terorisme di beberapa negara seperti Irak, Yaman, Suriah, Libya.

Bagaimana mengatasi ini semua?

Saya menyampaikan empat pemikiran kepada para pemimpin dunia. Pertama umat Islam se dunia harus bersatu bersatu untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah. Persatuan umat Islam merupakan kunci untuk keberhasilan memberantas terorisme; janganlah energi kita habis untuk saling bermusuhan.

Kedua, kerja sama pemberantasan radikalisme dan terorisme harus ditingkatkan, termasuk: pertukaran informasi intelijen; pertukaran penanganan FTF (Foreign Terrorist Fighters), peningkatan kapasitas. Semua sumber pendanaan harus dihentikan. Kita semua tahu banyaknya dana yang mengalir sampai ke akar rumput di banyak negara dalam rangka penyebaran ideologi ekstrem dan radikal.

Ketiga, upaya menyelesaikan akar masalah harus ditingkatkan, ketimpangan dan ketidakadilan harus diakhiri; pemberdayaan ekonomi yang inklusif harus diperkuat

Keempat, saya berharap bahwa setiap dari kita harus berani menjadi “part of solution” dan bukan “part of problem” dari upaya pemberantasan terorisme. Setiap dari kita harus dapat menjadi bagian upaya penciptaan perdamaian dunia.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook