BERITA UTAMA

PROGRAM PRIORITAS

BLUSUKAN

Sebelum Kembali Ke Jakarta, Sambangi Lokasi Pasar Aksara Medan

Dalam perjalanan menuju Bandar Udara Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, usai menghadiri Munas ke-10 KAHMI, Presiden Joko Widodo sempat menghentikan laju kendaraannya di...

Ingatkan Kembali Agar Tak Terjebak Pada Kegiatan Rutinitas

Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meninggalkan pola-pola lama dalam bekerja maupun kehidupan sehari-hari. Hal tersebut penting dilakukan mengingat tantangan dan perubahan...

Targetkan Sertifikasi Tanah di Jawa Timur Rampung Tahun 2023

Presiden Joko Widodo terus menunjukkan komitmen pemerintah untuk mewujudkan pemerataan ekonomi melalui reforma agraria. Salah satunya adalah dengan menetapkan target penerbitan sertifikat di setiap...

Persiapan Pernikahan Kahiyang Sudah 100 persen

Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa persiapan acara pernikahan putrinya, Kahiyang Ayu dengan Muhammad Bobby Afif Nasution telah siap 100 persen. Demikian disampaikannya saat ditanya...

Dorong Masyarakat Kerja Keras Manfaatkan Hutan Sosial

Presiden Joko Widodo pagi ini, Senin, 6 November 2017, kembali melakukan peninjauan kawasan perhutanan sosial yang ada di Desa Dungus, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa...

FOTO VIDEO

Dua tahun lalu saya terbang ke Nduga, daerah terpencil di Papua. Letaknya di hamparan Lembah Baliem, yang dikelilingi gugus Pegunungan Jayawijaya. Nduga saat itu dianggap daerah rawan keamanan.

Keinginan ke Nduga saya sampaikan kepada Kapolri dan Panglima saat saya sudah di Wamena. Kapolri dan Panglima menyampaikan ke saya, “Pak, ini daerah merah. Sebaiknya tidak ke sana.”

Tapi saya berkeras untuk ke sana. Saat akhirnya sampai ke Nduga, saya menyaksikan sendiri bagaimana salah satu daerah bagian timur Indonesia itu butuh untuk diperhatikan dan dibangun. Kalau hal seperti ini tidak kita perhatikan, keadilan dan pemerataan tidak kita hadirkan, bagaimana kita berbicara mengenai keindonesiaan kita?

Ketimpangan infrastruktur ini tidak akan terasa kalau tidak dilihat dengan mata kepala sendiri.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook

Politik yang beretika itu cukup sederhana, yakni mengedepankan karakter keindonesiaan kita. Politik yang mengembangkan nilai-nilai kesantunan, bukan yang mencela, mencaci-maki, dan menjelekkan. ... See MoreSee Less

View on Facebook

Orang-orang kini menjadikan rekreasi dan gaya hidup sebagai kebutuhan yang bahkan lebih penting dari berbelanja. Ini kesempatan besar kita, dengan mengembangkan tujuan-tujuan wisata baru di luar Pulau Bali. Kita tengah mengembangkan sepuluh "Bali baru" tujuan wisata di Indonesia.

Sekadar gambaran, jumlah wisatawan asal Tiongkok ke seluruh penjuru dunia kini melonjak sampai 125 juta orang setiap tahun dan akan bertambah menjadi 180 juta dalam lima tahun ke depan. Separuhnya atau sekitar 62 juta orang berwisata ke Asia.

Dengan sepuluh "Bali baru" kita harapkan bisa kedatangan sepertiga atau 20 juta wisatawan Tiongkok. Itu baru dari satu negara.

Karena itulah, mari bersiap. Kita kembangkan dan lakukan diferensiasi masing-masing destinasi wisata agar pelancong punya pilihan tujuan berwisata yang banyak.

Kawasan Mandalika atau Danau Toba, misalnya, lingkungannya harus disiapkan. Bukit-bukit yang ada di kanan-kiri Mandalika itu gundul semuanya, maka itu segera tanam. Bangunan-bangunan adat jangan malah dihilangkan dan diganti dengan arsitektur Spanyol dan mediterania, misalnya.

Segera siapkan fasilitas publik yang diperlukan di situ. Salah satunya kawasan khusus bagi para pedagang dari masyarakat sekitar. Jangan sampai Kita keduluan oleh pedagang-pedagang kaki lima yang akan bertebaran di mana-mana. ... See MoreSee Less

View on Facebook

Sudah terlalu lama bangsa kita selalu menengok ke barat, ke Amerika, ke Eropa. Atau ke Jepang. Kita melupakan bahwa mitra-mitra baru itu diperlukan.

Itulah yang mendorong langkah saya, setelah dilantik sebagai Presiden di akhir 2014, pergi ke negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Iran, Qatar. Untuk apa? Karena kita memerlukan keseimbangan dalam posisi ketidakpastian seperti ini, ketika tantangan dan perubahan dunia bergerak begitu cepat.

Di hadapan peserta Musyawarah Nasional ke-10 Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam di Medan, kemarin, saya mengisahkan perjalanan saya ke Timur Tengah dulu itu. Waktu saya pergi ke Arab Saudi saya kaget, Raja Salman menjemput saya di depan pintu pesawat. Hal yang tidak lazim sebetulnya. Begitu beliau datang ke Jakarta, saya juga menjemputnya di depan pesawat.

Begitu juga saat berkunjung ke Uni Emirat Arab, saya dijemput di depan pintu pesawat oleh Syekh Muhammad, Perdana Menteri yang juga Putra Mahkota. Dijemput dengan mobil yang dikemudikannya sendiri. Dan ini di luar skenario. Paspampres di belakang pontang panting mengikuti kami.

Saya tanya ke Syekh Muhammad, kenapa tidak investasi di Indonesia? “Bagaimana saya bisa investasi di Indonesia kalau saya tidak tahu mengenai investasi apa yang menguntungkan di Indonesia. Saya tidak pernah bertemu menteri ataupun pemerintah Indonesia," katanya.

Begitulah. Dengan pendekatan seperti itu, saya meyakini negara-negara mitra baru ini bisa menanamkan investasi yang cukup besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

Foto: Biro Pers Setpres ... See MoreSee Less

View on Facebook