Sambil menikmati pisang goreng, kopi atau teh panas dan menu lainnya, warga desa Senoni pun bisa bernyanyi melepaskan penat setelah seharian bekerja. Ini adalah terobosan kreatif yang distimulasi oleh adanya Dana Desa. Tujuan Dana Desa antara lain memang juga untuk mendorong setiap desa agar mengembangkan ekonomi desa melalui BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) dengan mengembangkan berbagai usaha kreatif. Bermula dari ide-ide sedehana seperti angkringan desa Senoni, roda perekonomian desa pun bisa berputar lebih lancar dan lebih baik sebagaimana diharapkan Presiden Jokowi melalui program Dana Desa.

Desa adalah unit terkecil dalam sistem pemerintahan yang merupakan salah satu ujung tombak program-program pembangunan yang dilakukan pemerintah. Presiden Jokowi telah menggelontorkan dana besar setiap tahun untuk memajukan pembangunan di desa-desa seluruh pelosok nusantara melalui program Dana Desa. Ini merupakan upaya langsung pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Dana Desa dialokasikan khusus dalam APBN. Dana Desa pertama kali digulirkan pada tahun 2015 dengan jumlah anggaran sebesar Rp 20,76 triliun.  Adapun penyerapannya di tahap awal sudah bisa mencapai sekitar 82%.

Geliat pembangunan di desa-desa pun serta-merta mulai meningkat sejak Dana Desa mulai dicairkan. Karena itulah alokasi Dana Desa pun terus meningkat. Di tahun 2016 menjadi Rp 46,9 triliun, kemudian Rp 60 triliun pada tahun 2017, dan direncanakan untuk tahun 2018 akan naik dua kali lipat menjadi Rp 120 triliun. Peningkatan ini merupakan wujud komitmen Presiden Jokowi untuk melakukan pemerataan pembangunan sampai ke semua pelosok desa dan daerah-daerah terluar. Di wilayah Kalimantan Timur misalnya, sebuah desa kecil bernama Desa Senoni di Kabupaten Kutai Kartanegara, merasakan langsung manfaat program Dana Desa.

Desa Senoni terletak di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara. Berpenduduk sekitar 3600 jiwa dan sebagian kerap bekerja di luar desa. Mata pencarian sebagian besar penduduk Desa Senoni adalah petani, industri kayu, dan sebagai masyarakat pekerja pada perusahaan tambang batu bara dan perkebunan sawit. Desa Senoni mempunyai potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, seperti batu gunung, batu bara, karet, buah dan berbagai jenis ikan di dalam sungai Mahakam. Desa Senoni adalah merupakan desa pecahan dari desa Selerong, pada tahun 2000 desa ini mekar dan definitif.

Melalui program Dana Desa, Desa Senoni bisa semakin meningkatkan geliat pembangunannya, terutama infrastruktur desa seperti fasilitas jalan aspal dan jembatan. Saat ini terdapat berbagai fasilitas pendidikan dan kesehatan di desa ini antara lain TK, TK/TPA, Sekolah Dasar, SLTP Negeri dan Puskesmas Desa. “Pembangunan jalan yang menanjak dari rumah warga di bawah sampai ke atas tujuannya untuk memudahkan anak-anak pergi ke sekolah, karena sekolah mereka ada di atas,” tutur Abdullah Romli Kepala Desa Senoni yang tadinya adalah seorang perawat di Puskesmas Desa.

 

Tidak hanya infrastruktur yang menjadi wujud dana desa, tapi juga rintisan program pembangunan sumber daya manusia. Di bidang pendidikan, dengan adanya dana desa para guru Pendidikan Usia Dini (PAUD) kini bisa mendapatkan honor. “Memang masih ala kadarnya, tapi paling tidak kami sudah bisa memberikan sedikit honor sebagai bentuk penghargaan pada para guru PAUD,” ujar Romli. Selain itu, masih ada lagi program rintisan dari BUMDES Senoni yang melibatkan anak muda desa dan para ibu. “Anak-anak muda dan ibu-ibu mendirikan dan mengelola sebuah tempat nongkrong di pinggir sungai Mahakam, yaitu angkringan dan karaoke yang dinamakan angkringan Kepikiran,” tambah Romli.

BUMDES secara konseptual adalah titik temu antara mazhab pertumbuhan dan pemerataan dalam teori perekonomian. Melalui BUMDES, pertumbuhan perekonomian desa bisa diwujudkan dan sekaligus pada saat yang sama akan berlangsung juga proses pemerataan peningkatan kesejahteraan di tingkat nasional. Karena itulah dana desa menjadi sangat penting untuk mendorong dan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya BUMDES di seluruh desa Indonesia.*