Pabrik sagu Perhutani ditargetkan meraih pendapatan Rp100 milyar per tahun. Sehingga dapat memicu dan menggerakkan ekonomi di wilayah Sorong Selatan

Pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan di Tanah Papua hanya akan terwujud bila kapasitas produksi dan produktivitasnya ditingkatkan. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan produksi dan produktivitas adalah aktivitas ekonomi yang dapat memberikan nilai tambah pada masyarakat Papua. Bukan yang semata-mata mengeksploitasi sumber daya alam, tapi yang dapat diolah dan memberi keuntungan ganda bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat.

Sagu adalah produksi pangan olahan khas Papua, yang paling tepat untuk menjawab tantangan produksi dan produktivitas tadi. Memiliki nama latin Metroxylon Sp, sagu adalah sumber karbohidrat utama yang juga dapat dimanfaatkan untuk makanan sehat, bioethanol, gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas mapun kebutuhan industri farmasi.

Terlebih jika melihat kualitas pohon Sagu Raja di Papua yang bisa menghasilkan tepung sagu hingga 900 kilogram per batangnya. Jauh di atas sagu dari negara tetangga seperti Malaysia yang rata-rata hanya menghasilkan 250 kilogram per batang.

Di sinilah nilai strategis pembangunan Pabrik Sagu Perum Perhutani di Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat yang dikunjungi oleh Presiden Jokowi pada tanggal 1 Januari 2016. Pabrik yang rencananya akan beroperasi penuh pada bulan Maret 2016 ini, dibangun dengan total investasi Rp150 miliar dan jumlah tenaga kerja yang mencapai total 600-an orang. “Yang bekerja berasal dari lingkungan masyarakat sekitarnya,” ujar Presiden saat berkeliling melihat proses pengolahan sagu.

Secara ekonomis, pembuatan pabrik sagu di Papua akan sangat menguntungkan, terutama mempertimbangkan permintaan atau kebutuhan sagu nasional yang dalam perhitungan Perhutani mencapai 5 juta ton per tahun. Bandingkan dengan pabrik sagu PT Perhutani di Sorong ini yang memiliki kapasitas produksi lebih dari 30.000 ton per tahun – di tahun pertama dimulainya produksi dan akan meningkat hingga 50% lagi dalam tahun-tahun berikutnya. Kendati kelak akan muncul kompetitor baru sekalipun, pasar yang tersedia masih lebih dari cukup untuk meraih keuntungan.

Harga sagu selama ini terus menunjukkan tren kenaikan. Di tahun 2012, saat sebelum pabrik sagu dibangun harga jualnya adalah Rp5.200 per kilogram hingga Rp6.500 per kilogram. Di akhir tahun 2015, harga pasaran tepung sagu di Jawa telah mencapai Rp6.800 per kilogram. Harga ini diyakini maih akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kebutuhan tepung sagu untuk bahan pangan secara nasional.

Pabrik sagu Perhutani ditargetkan akan memberikan kontribusi pendapatan ke perusahaan sebesar Rp100 milyar per tahun. Namun, dampak yang diharapkan tidak terbatas pada keuangan perusahaan, tapi kehadiran pabrik ini jelas akan menjadi pemicu dan penggerak ekonomi di wilayah Sorong Selatan. Belanja kebutuhan pabrik, maupun pengeluaran lain-lain – termasuk dari ratusan pekerja di sana – secara alami akan memunculkan kegiatan perdagangan lokal.

Dalam kacamata strategi dan ideologi pembangunan. Inilah yang dapat dikategorikan sebagai pembangunan ketahanan, dan bahkan, kedaulatan pangan. Dengan mesin-mesin produksi yang dijalankan oleh anak-anak negeri, pabrik sagu ini kelak dapat menampung hasil tanaman sagu penduduk setempat dalam pola kemitraan yang saling menguntungkan. Dengan cara inilah, kita dapat bersaing dan lebih dari itu, meraih keunggulan dalam kompetisi perdagangan dunia.

Bagaimanapun perdagangan dan kompetisi global adalah keniscayaan, yang harus dihadapi dengan persiapan dan kerja keras membangun produktivitas dan daya saing. Tak bisa lagi mundur ke belakang, apalagi Papua sudah memulai dan menunjukkan bahwa kita bisa. Indonesia bisa!