Sekilas Buku


Thinking Outside the Box

Ketika terjadi tsunami di Aceh, tawaran bantuan kemanusiaan dari militer dan LSM asing berdatangan. Kehadiran pasukan asing ini dapat menimbulkan risiko politik di dalam negeri.

SBY memahami sekali semua hal ini. Namun beliau berpikir sangat jernih dan sangat fokus pada misi, yaitu untuk menyelamatkan rakyat, bukan berpolitik. Dalam perbincangan dengan pembantunya, SBY mengatakan, "Ayo, think outside the box! Kita harus berpikir terang. Ini kan bukan perang, bukan latihan perang, bukan aliansi, bukan konflik, bukan persaingan geopolitik. Ini murni bencana alam dan tragedi kemanusiaan yang sangat buruk, dan kita sangat butuh bantuan..." selengkapnya »


Dobrak Birokrasi

Suatu hari di tahun 2005, Presiden SBY menerima Dr. Kuntoro Mangkusubroto, Ketua Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh, di kediaman Cikeas.

Kuntoro menceritakan ada negara donor ingin menyumbang kompor gas, jumlahnya seribu unit lebih. Kalau dihitung, 1 kompor gas bisa dipakai untuk 5 orang. Jadi kompor gas itu akan membantu sedikitnya 250 ribu orang, atau separuh dari total pengungsi korban tsunami Aceh.

SBY: "Bagus dong. Gratis?"
Kuntoro: "Gratis, Bapak Presiden. Ini hibah."
SBY: "Masalahnya?"
Kuntoro: "Masalahnya kompor itu sudah 9 bulan mandek di Tanjung Priok."
SBY (dengan suara meninggi): "Kenapa?"
Kuntoro: "Iya, birokrasi Pak. Barang-barang itu akhirnya ditahan di pelabuhan, sampai sekarang, sementara petugas imigrasi dan beacukai lempar-lemparan... Sudah 9 bulan bantuan itu madek."

Saya tidak pernah melihat SBY segeram itu. Segera Presiden meminta disambungkan ajudan dengan beberapa menteri, yang dihadiahi dampratan keras. selengkapnya »


Pemimpin yang Menyentuh Hati dan Menyembuhkan Luka

Di pertengahan pidato, beliau menunjuk pada surat Maggie, dan membaca surat itu kepada hadirin… Presiden kemudian membacakan surat balasan dari Nada Luthfiyyah. Kedua gadis dengan latar berbeda (Nada menjadi yatim piatu setelah tsunami, sementara Maggie adalah gadis kecil asal Michigan), dipertemukan melalui sebuah korespondensi. Surat-menyurat dengan bahasa yang polos dan menyentuh itulah yang dibacakan Presiden SBY, usai pertemuan bilateral dengan Presiden Bush di Gedung Putih.

Semua yang hadir, termasuk wartawan, berlinangan air mata. Saya melihat mata Presiden Bush berkaca-kaca. selengkapnya »