Rabu, 17 Februari 2010
Ibu Ani Ikon Pencegahan Penyakit Thalasamaemia Indonesia
Ibu Ani berbincang-bincang dengan anak penderita Thalasamaemia di Istana Merdeka, Rabu (17/2) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Yayasan Thalasamaemia Indonesia meminta Ibu Ani Bambang Yudhoyono untuk menjadi ikon pencegahan penyakit Thalasamaemia. Permintaan ini disampaikan Yayasan Thalasamaemia Indonesia diterima Ibu Ani di Istana Merdeka, Rabu (17/2) pagi. "Kami menginginkan Ibu Negara menjadi ikon dalam rangka pencegahan penyakit ini. Ini juga terdapat dalam program kami di tahun 2010, yang juga sudah disampaikan pada Meteri Kesehatan," ujar Ketua Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasamaemia Indonesia, Ruswadi.
Tugas yang diemban Ibu Negara salah satunya adalah mensosialisasikan tentang pentingnya memeriksa darah sebelum menikah, sehingga kita bisa tahu bahwa mencegah terjadinya atau bertambahnya anak-anak berpenyakit Thalasamaemia. "Insya Allah saya bersedia untuk menjalankan tugas yang diembankan kepada saya," ujar Ibu Ani menyanggupi permintaan Yayasan Thalasamaemia Indonesia. "Mengenai sosialisasi tentang pentingnya memeriksa darah sebelum menikah nanti kita bisa sampaikan kepada Departemen Agama," Ibu Ani menjelaskan.
Kepada para penderita Thalasamaemia, Ibu Ani berharap agar tetap semangat dalam menjalani keseharian. Dona, salah satu pasien penderita Thalasamaemia menjelaskan bahwa setiap penderita pasti memiliki rasa patah semangat . "Kalau boleh saya jujur, setiap bulan saya melakukan transfusi selama 24 tahun adalah hal yang membosankan. Yang lebih menjenuhkan lagi harus memakai
treartment suntik destral setiap hari selama satu minggu, minimal 5 kali," ujar Dona.
Sekali lagi Ibu Ani mengingatkan pentingnya saling memberi semangat antara sesama penderita penyakit ini. "Tapi tolonglah kalian jangan putus asa," pesan Ibu Ani.
Dalam kesempatan tersebut, para penderita penyakit Thalasamaemia ini meminta kepada Ibu Ani agar Jaminan Kesehatan Masyarakat tidak dihapuskan. Transfusi darah serta obat-obatan yang dibutuhkan guna menunjang hidup penderita Thalasamaemia sangatlah mahal, ditambah lagi kebanyakan penderita adalah masyarakat yang kurang mampu. "Saya sebenarnya bertanggung jawab kalau mereka tidak membayar. Tapi disatu sisi saya juga merasakan beratnya untuk membayar," kata Intan, salah seorang terang penderita Thalasamaemia yang kebetulan juga bekerja di bagian keuangan Yayasan Thalasamaemia.
"Mudah-mudahan menjadi perhatian dari pemerintah. Jadi nanti kita juga akan mencoba untuk mencarikan barangkali donatur-donatur untuk membantu, meringankan," kata Ibu Ani. (dit)