Pidato Presiden

Karawang, Jawa Barat, Kamis, 19 April 2007

Sambutan Acara Pencanangan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu

 

SAMBUTAN
IBU NEGARA REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA PENCANANGAN
REVITALISASI GERAKAN SAYANG IBU
KARAWANG, JAWA BARAT
KAMIS, 19 APRIL 2007


Assalamu’alaikum Wrb. Wrt.
Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semua,

Yang saya hormati Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Ibu Prof. DR. Meutia Hatta Swasono, nggak salah pasti, yang saya hormati Menteri Kesehatan Republik Indonesia Ibu Dr. Siti Fadillah Soepari. Jadi hari ini kita harus apa namanya, bikin bubur merah putih untuk membetulkan nama dari Ibu Menteri Kesehatan kita. Padahal tadi sudah saya ingat-ingat lo bu jangan sampai salah, kalau sampai saya salah memalukan. Ternyata betul-betul memalukan. Maaf ibu ya, kemudian juga ibu-ibu dari Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu, dari lembaga-lembaga internasional yang mempunyai kepedulian kepada masalah kesehatan di Indonesia, yang saya hormati bapak Gubernur Jawa Barat, Bapak Dani Setiawan, Bapak Bupati Karawang, Bapak Dadang Muchtar dan jajarannya, saya melihat disini ada Bapak Pangdam, Bapak Kapolda, Ibu Giwo sebagai ketua KPAI.

Dan hadirin sekalian yang berbahagia,
Pada pagi yang membahagiakan ini marilah kita memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan ridhoNyalah maka pada pagi hari ini kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat walafiat untuk melakukan sebuah acara yang cukup penting.

Bapak dan ibu sekalian yang berbahagia,
Sebelum saya lanjutkan saya ingin menyampaikan salam hangat dari Presiden Republik Indonesia untuk seluruh hadirin yang berada di sini. Dan utamanya tentu adalah kepada Bapak Bupati Karawang, yang Bapak tadi berpesan bahwa teruslah memajukan pendidikan dan kesehatan di wilayah ini, yang kedua ini teruslah mempertahankan Kabupaten Karawang sebagai lumbung pangan nasional. Dan tentu saja untuk menjaga ketahanan pangan nasional pula.

Hadirin sekalian yang berbahagia
Pada pagi hari yang membahagiakan ini saya bersama-sama dengan ibu-ibu yang tergabung dalam Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu saya minta berdiri. Terima kasih. Datang kemari untuk mendukung upaya Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan yang melakukan kerjasama dengan Bupati Karawang dalam rangka ”Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu” atau sering disingkat dengan nama GSI. Yang tentu saja kita ketahui bahwa gerakan sayang ibu ini sudah di canangkan 10 tahun yang lalu, akan tetapi tadi seperti ibu katakan bahwa, makin lama makin memudar.

Untuk itu sebetulnya kita tahu bahwa gerakan sayang ibu adalah sebuah gerakan yang dilakukan oleh masyarakat, bekerja sama dengan pemerintah untuk meningkatkan perbaikan kualitas hidup perempuan melalui berbagai kegiatan yang ditujukan selain untuk menurunkan angka kematian karena hamil, melahirkan dan nifas, juga untuk menurunkan angka kematian bayi. Sebetulnya saya berharap gerakan sayang ibu ini tidak hanya ditujukan kepada ibu-ibu yang sedang hamil, melahirkan dan nifas tapi bagi seluruh ibu Indonesia.

Dan setiap saat Gerakan Sayang Ibu ini harus terus didengungkan, setuju atau tidak ibu-ibu? Sangat setuju dan oh iya, bapak-bapak setuju nggak? Tapi kurang keras ya pak ya, tentu setuju. Gerakan Sayang Ibu ini harus ditujukan bagi seluruh kaum perempuan Indonesia atau kaum ibu Indonesia.

Tingginya angka kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas (AKI) sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pendidikan, pengetahuan, sosial budaya, sosial ekonomi, keadilan dan kesetaraan gender, lingkungan serta kemudahan para ibu untuk mencapai sarana kesehatan modern. Selain itu kita ketahui pula bahwa tingginya AKI disebabkan juga oleh penyebab langsung dan tentu saja ada penyebab yang tidak langsung. Penyebab langsung itu sering kita katakan sebagai adanya pendarahan baik pada waktu hamil maupun nifas kemudian terjadi infeksi, eklamsia atau keracunan karena kehamilan dan partus yang sangat lama atau proses kelahiran yang sangat lama.

Dan penyakit, dan penyebab yang tidak langsung yaitu saya mengingatkan kembali kepada ibu-ibu ada ”3 T atau Tiga Terlambat dan 4 Ter atau Empat Terlalu. Apa itu, saya mengingatkan saja, karena saya yakin bapak dan ibu sekalian sudah tahu.

Tiga T yang pertama adalah, terlambat mengenali bahaya dan memutuskan untuk mencari pertolongan ke fasilitas kesehatan. Kemudian Terlambat membawa ibu ke fasilitas rujukan dan terlambat memperoleh tindakan pertolongan yang tepat di fasilitas rujukan.

Sedangkan empat terlalu adalah:
Terlalu muda untuk menikah. Menurut undang-undang perkawinan wanita boleh menikah apabila berusia sebetulnya 17 tahun, saya mendengar ada Perda disini yang, betul bapak? yang menunda? Ada anjuran dari Bapak Bupati, karena belum berbentuk Perda, agar supaya menikah tidak usah terlalu cepat untuk menghindari kehamilan pada usia yang sangat muda. Kemudian juga terlalu sering hamil, la ini dia ya? Kemudian terlalu banyak melahirkan. Ini tidak sesuai dengan yang namanya mars dari GSI tadi, kita atur kelahiran melalui KB. Kemudian juga terlalu tua untuk hamil.

Nah ini tolong ibu-ibu sekalian diingat-ingat kembali. Dan saya mengingatkan kembali agar 3 Terlambat dan 4 Terlalu selalu menjadi prioritas dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi.

Hadirin sekalian,
Melihat kedua faktor penyebab kematian ibu tadi, dapat disimpulkan bahwa faktor non medis, merupakan faktor dominan yang memberikan kontribusi terhadap kematian ibu karena hamil, melahirkan dan nifas. Bila kita telaah secara mendalam, masalah ini bersumber dari banyak faktor. Selain faktor ekonomi, yang paling dominan adalah tata nilai sosial budaya dan penafsiran ajaran agama pada sebagian masyarakat kita yang belum sejalan dengan kesetaraan dan keadilan gender.

Pandangan yang menganggap kehamilan adalah peristiwa alamiah yang harus ditanggung resikonya oleh kaum perempuan perlu dilakukan perubahan secara sosio kultural agar kaum perempuan mendapat perhatian dari keluarga dan masyarakat sekitarnya, dan memiliki hak terhadap kesehatan reproduksinya.

Besarnya jumlah penduduk terkait dengan tingginya angka pertumbuhan penduduk di Indonesia, terutama dipengaruhi oleh tingkat kelahiran yang tinggi. Untuk itu perlu dipersiapkan kehamilan yang terencana dengan mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Beberapa tahun terakhir ini, utamanya setelah reformasi, nampaknya program keluarga berencana agak terabaikan. Bahkan setelah BKKBN di daerah tidak ada maka saya mendengar bahwa dititipkan, ada yang dititipkan di dinas pemakaman. Saya jadi bingung, kenapa kok jadi dititipkan di dinas pemakaman. Kalau dinas kesehatan masih lumayan, tetapi kalau dinas pemakaman kok kayaknya kurang enak begitu. Saya berharap barangkali bapak Gubernur mungkin kalau ada di kabupaten ataupun di kota yang masih menempatkan BKKBN ini pada urusan pemakaman tolonglah ditinjau ulang, ya ditinjau ulang.

Menurut data dari BKKBN pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49 % /tahun, ini sama dengan 3 juta jiwa/tahun. Saya menghimbau agar masyarakat Indonesia merencanakan jumlah anak, sehingga anak yang akan dilahirkan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Di beberapa daerah terjadi hambatan budaya untuk melaksanakan program keluarga berencana, dimana masyarakatnya masih akrab dengan budaya “banyak anak banyak rejekinya”, ”setiap anak memberikan rejeki sendiri-sendiri“, nampaknya hal ini sudah tidak relevan sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Tentu kita harus berpikir ibu-ibu sekalian, apa jadinya bila penduduk Indonesia bertambah begitu cepatnya, sementara lahan kita tidak bertambah. Bagaimana nanti pendidikannya ? Bagaimana pekerjaannya ? dan bagaimana kesehatannya?.

Kalau sebagian masyarakat mengatakan bahwa seperti tadi, banyak anak, banyak rejeki. Saya kasih nasi sama tempe juga hidup kok. Hidup atau tidak anak dengan nasi dan tempe? Hidup, tapi bagaimana hanya itu saja yang kita berikan kepada mereka, tidak akan mendapatkan yang terbaik, anak tersebut bisa saja rentan terhadap penyakit.

Kita sudah tahu semua bahwa sebaiknya anak-anak kita diberikan 4 sehat dan 5 sempurna, oleh karena itu para orang tua tolong dipikirkan kembali, direncanakan apabila ingin mempunyai putra dan putri lagi.

Faktor-faktor tadi saling kait mengait dan kompleks seperti tadi yang disampaikan oleh ibu Mutia Hatta, sehingga sekali lgai untuk menanggulanginya perlu adanya suatu tekad dan komitmen bersama yang diikuti dengan kerjasama dan keterpaduan yang baik antar berbagai sektor Pemerintah, dan mensinergikan berbagai kekuatan pembangunan lainnya yang ada di masyarakat.

Saya melihat para kader PKK di belakang mereka juga merupakan salah satu komponen masyarakat yang tentu saja kita, kita katakan sebagai tenaga andal yang berada paling bawah di grassroot masyarakat, Posyandu, dll.

Strategi pelaksanaan GSI di daerah sangat diperlukan, yaitu dengan memantapkan koordinasi antar berbagai sektor di daerah. Ibu Mutia Hatta tadi juga sudah menyampaikannya dan merupakan tanggung jawab Kepala Pemerintahan Daerah. Sejalan dengan itu, dengan pengembangan GSI, perlu dikembangkan juga upaya oleh masyarakat untuk mencegah kematian bayi dengan meningkatkan penggunaan air susu ibu atau lebih dikenal dengan nama ASI eksklusif sampai dengan 6 bulan.

Dan tentu saja setelah itu dapat diberikan makanan tambahan, yang disebut dengan nama makanan pendamping ASI. Tolong jangan dikatakan sebagai makanan pengganti ASI tapi pendamping ASI. ASI adalah yang utama kalau bisa 6 bulan. Kemudian tentu saja setelah itu diberikan pendamping ASI dan ASI kalau masih ada tentu boleh tetap diberikan sampai dua tahun. Disini barangkali ada anak saya Annisa, suaminya dulu saya beri juga ketika kecil 12 bulan ASI, 6 bulan ASI eksklusif dan saya kira hasilnya tidak mengecewakan mereka akan tumbuh dengan sehat dan tentu saja bisa mendapatkan yang terbaik. Oleh karena itu saya tetap saja menganjurkan pada kaum ibu Indonesia untuk tetap memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada putra-putrinya dan setelah itu tentu saja berikan makanan pendamping lainnya.

Tentu saja kita tahu ibu, apa, mengapa kok kita berikan ASI, ASI itu kalau saya katakana kadang-kadang adalah sebagai makanan cepat saji, tapi buat bayi ya. Cepat saji, karena apa tidak perlu cari botol dulu, tidak perlu kita mencari air panas, air hangat, air dingin, susunya, gulanya dan lain sebagainya. Cepat saji, begitu anak menangis tinggal kita berikan.

Oleh karena itu maka berikanlah hak anak-anak kita kepada mereka. Karena dengan meminum ASI ini, maka bayi akan lebih kuat, lebih cerdas dan terhindar dari penyakit-penyakit yang berbahaya lainnya. Dan tentu saja saya juga tetap saya juga tetap menganjurkan kepada ibu-ibu sekalian untuk tidak lupa membawa putra-putrinya ke Posyandu untuk mendapatkan satu lagi yang paling penting adalah imunisasi.

Imunisasi ini sangat penting, dulu 10 tahun yang lalu kita pernah dinyatakan sebagai daerah bebas polio, tetapi beberapa tahun yang lalu, kok muncul lagi. Itulah berarti kewaspadaan kita yang menurun, disangkanya polio itu jenisnya itu hanya satu, begitu dia dinyatakan bebas, tidak akan muncul lagi, ternyata ada polio jenis yang lain. Oleh karena itu jangan lupa bawa putra-putrinya untuk datang ke posyandu yang terdekat ataupun puskesmas yang terdekat untuk mendapatkan imunisasi.

Hadirin sekalian,
Saya sebagai Duta ASI Nasional dan Unicef tentu sekali lagi sangat mendukung gerakan sayang ibu ini, karena salah satu kegiatannya adalah meningkatkan penggunaan ASI, demi optimalnya pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik maupun mentalnya. Tadi sudah disebutkan pula oleh Ibu Mutia Hatta bahwa dalam upaya percepatan tujuan, pencapaian tujuan pembangunan global atau sering disebut atau sering di sebut dengan nama MDG’s tahun 2015, dimana saat ini AKI di Indonesia masih sangat tinggi. Menurut data sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan target yang disepakati tadi sudah disebutkan ibu Mutia pada tahun 2015 adalah sekitar 125 per 100.000 kelahiran hidup.

Untuk itu perlu adanya upaya terobosan agar target MDG’s dapat dicapai. Salah satunya melalui gerakan yang akan kita revitalisasi pada hari ini, yaitu revitalisasi Gerakan Sayang Ibu. Mari kita putus mata rantai yang menjadi penyebab meningkatnya AKI dan AKB, karena kematian seorang ibu akan menyebabkan hilangnya kesempatan seorang anak mendapatkan ASI dan kasih sayang ibu yang hakiki. Yang tentu saja dapat mengakibatkan kematian anak pada usia dini pula, karena tentu saja kurang gizi dan juga kurang kasih sayang.

Melalui revitalisasi ini diharapkan dapat menggugah dan meningkatkan kepedulian para Pemimpin Daerah baik Eksekutif maupun Legislatif untuk memprioritaskan program percepatan penurunan AKI dan AKB serta tentu saja penyediaan anggarannya. Tanpa anggaran biasanya segala sesuatu tersendat-sendat, karena kita lihat apa yang dilakukan oleh, ditayangkan dalam video tadi ternyata tentu saja untuk mengangkut ibu yang hamil kerumah sakit pun juga membutuhkan biaya. Biarpun sekecil apapun juga. Selain itu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan keluarga dalam merencanakan kehamilan dan persalinan yang aman dengan kesiapan moril maupun materiil. Dengan demikian, Insya Allah tidak lahir bayi yang kurang gizi dan mudah terjangkit penyakit.

Hadirin sekalian,
Pada pidato kenegaraannya tanggal 16 Agustus 2006 di depan DPR, Presiden SBY mengatakan, “Pemerintah akan terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, guna menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kegiatan penyuluhan kesehatan, menurunkan harga obat generik secara signifikan, membangun puskesmas pada setiap kecamatan, termasuk kegiatan Posyandu juga mulai diaktifkan kembali. Menurut catatan jumlah Posyandu yang telah berhasil diaktifkan kembali kini mencapai 42.221 unit di seluruh tanah air”. Melalui Posyandu kita dapat memantau gizi ibu hamil dan anak balita, serta kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mencegah meningkatnya angka kematian ibu hamil dan balita.

Dengan mewujudkan komitmen bersama antara Pemerintah dengan masyarakat, dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan, utamanya mencegah kematian ibu hamil, melahirkan, dan nifas. Mencegah kematian bayi, dan peningkatan penggunaan ASI dalam rangka peningkatan SDM Indonesia di masa mendatang, mari kita bersama-sama melakukan kegiatan yang nyata di lapangan. Semoga upaya kita yang mulia ini dan luhur tentu saja dapat tercapai.

Contoh yang diperlihatkan oleh Bapak Bupati Karawang beserta jajarannya yang ditayangkan dalam video tadi dapat diikuti oleh seluruh masyarakat di Indonesia ataupun daerah-daerah lainnya. Pencatatan atau boleh dikatakan pemberian stiker itu benar-benar sebuah ide yang sangat brillian. Luar biasa bapak, saya menganggap itu bisa di tiru bagi seluruh daerah-daerah lainnya.

Karena ini adalah wujud nyata dari pemerintah dan masyarakat tentunya untuk memperhatikan mereka, karena dari stiker itu bisa ketahuan, ibu hamil itu sejak kapan, kemudian resiko tinggi atau tidak dan tentu saja sudah tahu kalau nanti melahirkan mana pak rumah sakit rujukannya pake apa dia di bawanya, bahkan tadi dengan becak, kalau ada becak ya becak, ada mobil boks katanya tadi jangan di tangkap ya pak polisi kalau betul-betul memang wanita tersebut dalam keadaan yang mendekati persalinan.

Karena itulah masyarakat kita belum semuanya mampu mempunyai kendaraan sendiri, oleh karena itu apapun yang dipakai caranya, dengan apapun yang dilakukan tentu saja harus kita dukung sepenuhnya. Kalau mungkin ya agak dimaafkan sedikit pak, kalau itu untuk menolong orang yang hamil maupun sakit, terutama saya tahu bapak mungkin polisi sama dengan tentara, saya berasal dari lingkungan militer, yang sering sekali bapaknya itu tugas, tugas bisa saja setahun, bisa 6 bulan, bisa 10 bulan, tapi ketika itu tugas ada janin dalam perut istrinya dan tidak bisa menunggui ketika istrinya melahirkan.

Dan ini adalah suatu hal yang sangat nyata, di lingkungan militer maupun di lingkungan Kepolisian saya kira juga mungkin di lingkungan masyarakat yang lainnya, bahwa mereka ketika melahirkan tidak ada atau tidak ditunggui oleh suaminya. Oleh karena itu kami ketika menjadi istri seorang prajurit sering di ketok malam-malam, took,tok, tok, hanya karena ibu istri saya mau melahirkan. Atau ibu, ibu anu melahirkan dan memang kita semua yang memberika perhatian kepada ibu hamil tersebut dan membawanya ke rumah sakit. Jadi itu yang saya harapkan dan itu yang saya katakan tadi bahwa tindakan yang nyata untuk membantu mereka.

Pada kesempatan yang amat baik ini saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membuka diri dan berpikir positif, serta mendukung langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk secara bersama-sama keluar dari permasalahan bangsa, terutama dalam meningkatkan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan.

Sebelum saya akhiri sambutan ini, saya ucapkan terima kasih kepada ibu Mutia Hatta Swasono dan juga kepada Bapak Bupati Karawang yang telah memungkinkan terselenggaranya acara ini, terima kasih dan akhirnya, dengan mengucapkan: “Bismillahirrahmanirrahim” pencanagan pelaksanaan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) di seluruh Indonesia, dimulai.

Wa billahitaufiq wal hidayah
Wassalamu’alaikum Wrb. Wrt.


* * * *

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Ibu Negara Republik Indonesia - Ny. Hj. Kristiani Herawati
Hak Cipta dilindungi Undang-undang