Berita Utama
Selasa, 14 November 2006, 22:10:49 WIB
Di Semarang
Presiden Resmikan Masjid Agung Jateng
Presiden SBY di dalam Masjid Agung Jawa Tengah, di Semarang, usai peresmian, Selasa (14/11) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden dan Ibu Negara tiba di tempat acara disambut iringan syalawatan yang dikumandangkan oleh para santri. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh qori terbaik nasional asal Jawa Tengah, Akhmad Rokhani. Kemudian diputar juga video mengenai peran strategis Masjid Agung Jawa Tengah yang menjelaskan bahwa masjid tersebut berfungsi antara lain sebagai tempat ibadah, pusat pendidikan, pelayanan masyarakat, pusat aktivitas siar, dan juga alternatif wisata religi.
Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto dalam laporannya menyebutkan, Masjid yang dibangun kurang lebih lima tahun ini adalah berangkat dari idealisme dan cita-cita yang paling utama, yaitu Masjid Agung Jateng mampu menjadi pengendali kehidupan sosial ekonomi yang cenderung mengedepankan keduniawian. Menurut Mardiyanto, secara keseluruhan pembangunan Masjid ini menelan biaya sebesar Rp 198.692.340.000.
Presiden dalam sambutannya juga mengingatkan agar masjid ini dikelola dengan sebaik-baiknya dan difungsikan secara optimal. Fungsi utama masjid adalah sebagai tempat ibadah, tentu harus diisi dengan kegiatan yang bernuansa keagamaan seperti shalat, dzikir, membaca Alquran yang merupakan sebagian upaya memakmurkan masjid. Presiden juga mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pemprov Jateng dan umat Islam di daerah ini atas keberhasilannya menyelesaikan pembangunan Masjid ini. “Makmurkanlah masjid ini, dan jadikanlah rumah Allah ini tempat untuk memupuk rasa persaudaraan, kesatuan dan persatuan umat Islam. Dari Masjid Agung inilah kita harapkan akan terpancar semangat ajaran Islam yang berwajah damai, toleran, dan mengayomi seluruh komponen masyarakat," kata Presiden.
Presiden meresmikan Masjid Agung Jateng ini dengan menekan tombol sirine dan penandatanganan replika prasasti. Sedangkan prasati yang asli sudah dipasang secara permanen di halaman depan masuk Masjid setinggi 3,2 meter dengan berat 7,8 ton. Bahannya dari batu alam yang diambil dari lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang, Jateng. Prasasti ini dipahat Nyoman M. Alim yang juga dipercaya membuat miniatur candi Borobudur yang ditempatkan di Minimundus Vienna, Austria, pada tahun 2001.
Usai peresmian, Presiden beserta Ibu Negara dan rombongan terbatas mengadakan peninjauan ke dalam masjid dan melihat maket serta fasilitas yang dimiliki, dipandu Ahmad Fatani selaku desainer dari Masjid ini. Presiden dan Ibu Negara meninggalkan tempat acara pada pukul 21.40 WIB, diringi sambutan masyarakat yang menghadiri acara peresmian masjid ini. Sebelumhnya, diserahkan pula penghargaan secara simbolis kepada lima orang tokoh masyarakat yang membantu pembangunan Masjid ini.
Masjid Agung Jawa Tengah dibangun di areal seluas kurang lebih 10 hektar, dengan luas bangunan induk seluas 7.669 m2, dan mampu menampung 6 ribu jamaah. Sedang pelatarannya seluas 7.500 m2, dilengkapi 6 payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara otomatis seperti yang ada di Masjid Nabawi di kota Madinah, mampu untuk menampung 10 ribu jamaah.
Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Arab, dan Yunani. Di bangunan sayap kanan terdapat Convention Hall atau auditorium yang mampu menampung 2.000 jamaah, sedang di sayap kiri dipersiapkan untuk perpustakaan yang nantinya didesain menjadi perpustakaan modern (digital library), serta ruang perkantoran yang disewakan.
Masjid Agung Jawa Tengah ini, selain disiapkan sebagai tempat ibadah, juga dipersiapkan sebagai objek wisata religius. Untuk menunjang tujuan tersebut, Masjid Agung ini dilengkapi dengan wisma penginapan dengan kapasitas 23 kamar berbagai kelas, sehingga para peziarah yang ingin bermalam bisa memanfaatkan fasilitas.
Daya tarik lain dari masjid ini adalah Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter. Bagian dasar dari menara ini terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam). Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, dan di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Lantai 19 untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha.
Pada awalnya, pembangunan masjid ini diperkirakan menelan biaya Rp 30 milyar, tapi dalam perkembangannya terus mengalami peningkatan hingga mencapai Rp 200 milyar. Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan tanggal 6 September 2002. (nnf/osa)



