Berita Utama
Minggu, 19 November 2006, 20:30:37 WIB
Presiden Jelaskan 15 Kepentingan Indonesia Mengikuti Sidang APEC 2006
Hanoi, Vietnam: Indonesia hadir dalam pertemuan pemimpin ekonomi APEC 2006 karena inilah forum yang paling baik untuk saling memperjuangkan kepentingannya dalam kerjasama regional dan APEC. “Kita juga punya kepentingan. Sehingga jangan ada pertanyaan, apa kepentingan Presiden Indonesia hadir dalam pertemuan APEC. Tentu ada. Dua hari di sini, tidak mungkin tidak melakukan apa-apa dan tidak memperjuangkan apa-apa,” tegas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam bagian lain keterangan persnya di Excutive Room, Hotel Horison, Minggu (19/11) petang.Presiden menjelaskan bahwa Indonesia memiliki lima belas kepentingan dalam pertemuan APEC 2006 ini. Pertama, akses kepada pasar global dan regional. “Bayangkan kalau ekspor kita tidak ke mana-mana. Ke mana kita akan jual dan pasarkan industri pertanian dan jasa negeri kita. Melalui forum ini, kita bisa mencari peluang dan mengembangkan pasar lebih luas dan lebih aman. Tentu dengan kondisi yang baik untuk kita. Termasuk perjuangan gigih kita memasarkan produk-produk pertanian,” kata Presiden.
Kedua, Indonesia ingin agar Doha Development agenda yang macet ini bisa segera dicairkan kembali. “Sebab bila tidak kita selamatkan dan gulirkan kembali, kepentingan negara-negara berkembang termasuk Indonesia akan sangat terganggu. Kita berada pada pihak yang merugi. Oleh karena itulah kita ingin ada suara APEC yang keras, dengan lebih fleksibel,” lanjutnya.
“Kepentingan ketiga adalah mengharapkan agar investasi jangan hanya mengalir ke China, India, Vietnam dan Malaysia semua. Kita ingin, disampingi investasi dalam negeri, juga ada investasi luar negeri,” ujar Presiden. “Disinilah kita saling bekerjasama, dengan menyampaikan kepada pimpinan APEC, apa saja yang dilakukan Indonesia membangun dan terus membangun infrastruktur agar terus kompetitif,” tambahnya.
Kepentingan keempat adalah meminimalisir kepincangan dan ketimpangan antar ekonomi satu negara dengan negara yang lain, termasuk diantara ke 21 anggota APEC. “Oleh karena itulah, kita dalam kerjasama ini ingin betul-betul agar disparitas sosial ekonomi antar anggota APEC dapat kita kurangi dengan kerjasama yang baik sehingga ada kesetaraan atau Level Playing Field. Kalau Level Playing Field makin bagus, maka kita sesuai dengan tujuan Bogor 1994 ingin menuju ke perdagangan dan investasi yang bebas,” tegas Presiden.
Kepentingan yang kelima adalah fiscal suistainablelity. Satu kerangka kerjasama apabila sebuah negara mengalami kesulitan finansial, ada proses untuk saling membantu. “Disini kita bisa merumuskan bagaimana cooperation menghadapi gangguan monetary dan financial crisis tadi,” jelas Presiden.
“Yang keenam, kita ingin betul pengembangan ICT, Information and Communication Technology di negeri kita makin bagus. Mengapa, karena kalau kita tidak makin berkembang dengan penguasaan ICT, tertinggal kita dengan negara anggota APEC dan non APEC. Produktivitasnya, efisiensinya, daya saingnya. Kita belum punya digital ekonomi yang luas, bagaimana bisa bersaing. Dalam konteks ini kita juga ingin mendapatkan kemajuan,” tambahnya.
”Ketujuh, kejahatan trans nasional makin berkembang, masih tetap eksis. Kita perlu kerjasama dengan negara tetangga. Bagaimana kita saling bekerjasama dan mencegah kejahatan trans national. Illegal fishing, illegal logging, penyelundupan narkotika dan terorisme. Disinilah kita bahas bersama, perlunya capasity building, perlunya kerjasama intelejen dan kepolisian.”
Kepentingan kedelapan adalah korupsi yang bukan hanya menjadi permasalahan nasional, juga menjadi masalah dunia. ”Oleh karena itu kita gigih, karena banyak, masih ada pelarian dari Indonesia yang membawa uang rakyat, uang negara, berdomisili di negara-negara lain. Kita harus gigih, tidak pernah menyerah untuk membawa mereka kembali, mambayar uang yang dibawa kabur dan mungkin digunakan untuk usaha di negara-negara lain,” kata Presiden SBY.
”Yang kesembilan, memerangi avian flu dan penyakit - penyakit menular yang lain. Kesepuluh adalah menangani bencana alam. Kesebelas, bagaimana energi security bisa dibangun. Tadi dalam retreat II saya sampaikan panjang lebar, pandangan Indonesia. Perlunya kita bersama-sama mengembangkan bio-energi yang cocok untuk semuanya. Kemudian yang kita kerjasamakan adalah investasinya, teknologinya, kemudian bagaimana resources yang ada. Itu bisa kita daya gunakan dengan baik,” terang Presiden.
Usaha Kecil dan Menengah adalah kepentingan keduabelas pemerintah Indonesia di APEC. ”Janganlah kerjasama APEC ini hanya kerjasama antar pemeritah saja, atau hanya kerjasama antar pengusaha-pengusaha besar saja. Kita harus pastikan APEC ini harus mengangkat UKM.”
”Kepentingan kita yang ketigabelas, kepentingan kita dibidang turisme. Mari, kita hidupkan kembali dengan cara bikin stabil dan aman negeri kita. Dan mari kita galang kerjasama, promosinya, transportasi udara dan lain-lain. Keempatbelas adalah kesepakat kita untuk membangun komunitas yang harmonis, rukun tetapi kompetitif.”
Kepentingan terakhir melakukan perbadingan Indonesia dengan negara lain. ”Oleh karena itu, saya ingin pastikan bahwa iklim di negara kita, daya saing di negeri kita terus kita bangun semakin bagus. Iklim investasi, kebijakan, pemerintah pusat dan pemda, UU dan seluruh aparatur negara juga bagus.”
Presiden SBY mengajak para pimpinan lembaga negara, MPR, DPR, DPD, MK, MA, PPK, dan semua lembaga-lembaga negara termasuk jajaran pemerintah, para menteri, gubernur, bupati dan walikota untuk terus melakukan pembenahan, pembaruan, perubahan Indonesia di semua sektor dan bidang kearah yang lebih baik. (osa)



