Berita Utama
Selasa, 5 Desember 2006, 12:47:21 WIB
SBY pada Pembukaan Konfenrensi ASAIHL
Ada Empat Langkah dalam Menghadapi Bencana Alam
Presiden SBY berbincang dengan Alwi Shihab, Mendiknas Bambang Sudibyo, Seskab Sudi Silalahi dan Rektor UI, Usman Chatib Warsa (paling kanan), pada pembukaan Konferensi ASAIHL di Istana Negara, Selasa (5/12) pagi. (foto; abror/presidensby.info)
Di hadapan sekitar 200 dosen dan mahasiswa - mahasiswi UI pada konferensi yang menjadi ajang pertukaran hasil riset di berbagai bidang yang berkaitan dengan bencana termasuk pendekatan interdisipliner tentang bencana ini, SBY mengatakan, Indonesia telah mendapatkan berbagai macam cobaan bencana alam selama beberapa tahun belakangan ini. "Kita telah diterpa oleh dua tsunami, gempa bumi dan juga banjir. Setiap bencana yang kita hadapi akan semakin mengingatkan bangsa Indonesia bahwa sesungguhnya kita rentan terhadap bencana alam, sehingga kita harus tetap waspada dan siap siaga. Kewaspadaan tersebut dapat ditunjukkan dengan mengadakan emergency plan apabila bencana alam akan datang," kata Presiden.
SBY mengungkapkan pengalamannya dalam disaster management yang telah ia pelajari dan lakukan selama 2 tahun belakangan ini. Menurutnya, ada 4 langkah penting dalam disaster management. "Yang pertama adalah kecepatan dalam merespon keadaan setelah bencana alam berlangsung. Karena setelah bencana terjadi, korban - korban bencana alam tersebut yang berada di dalam reruntuhan bangunan atau terseret arus hanya dapat bertahan selama beberapa waktu untuk diselamatkan", ujar SBY. Ditambahkan, kecepatan yang diperlukan dalam upaya penyelamatan dapat berupa kecepatan dalam usaha menolong korban bencana, kecepatan dalam mengirimkan kebutuhan pokok berupa bahan pangan, pakaian serta obat - obatan. Dengan rencana dan upaya penyelamatan yang cepat dan terkoordinasi, banyak orang bisa terselamatkan dari kematian
SBY menggarisbawahi pentingnya koordinasi antara organisasi pemerintah maupun non pemerintah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang ingin berkontribusi dalam memberikan pertolongan bagi korban bencana alam. "Apabila tidak ada koordinasi yang tepat, seluruh bantuan sumbangan akan berakhir tersimpan di gudang penyimpanan dan akan semakin membuat rumit krisis yang terjadi," tambah SBY.
Arus informasi yang akurat dan cepat mengenai keadaan setelah bencana, juga diperlukan dalam disaster management. "Biasanya dalam keadaan krisis, banyak orang yang bingung mengenai apa yang setelah terjadi, berapa banyak jiwa yang telah hilang, kerusakan yang telah terjadi, daerah mana yang paling parah terkena bencana, apa saja yang telah dilakukan dan bagaimana cara membantu korban. Hal ini sering terjadi apabila terjadi bencana, dan hanya akan membuat bingung pihak yang ingin membantu. Apabila ada integrasi yang tepat antara strategi dan koordinasi, maka akan sangat membantu pada korban bencana alam," tambahnya.
Yang terakhir adalah mengoptimalkan peran serta pemerintah lokal dalam upaya penyelamatan serta penanggulangan bencana. Karena pada dasarnya, hanya pemerintah lokal yang mengerti betul keadaan masyarakatnya. "Mereka lah yang seharusnya berada dalam jajaran paling depan dalam upaya penyelamatan korban bencana," tutur Presiden SBY.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yakin bahwa konferensi yang sekarang diselenggarakan UNI ini akan membuahkan banyak ide dan konsep yang baik mengenai disaster management, karena para peserta yang tergabung dalan konferensi ini masih mahasiswa yang memiliki koneksi yang kuat satu sama lain, juga memiliki idealis yang tinggi serta dekat dengan masyarakat. SBY dengan senang hati akan mendengarkan dan belajar dari hasil konferensi tersebut, kata Presiden.(mit)



