Berita Utama

Presiden di Palembang:

Masih Terbuka Peluang Pengembangan Karet dan Kelapa Sawit

Presiden SBY dan Ibu Ani meninjau proses produksi  karet di pabrik  karet milik PT Sri Trang Lingga di Palembang, Sumsel, Selasa (19/12) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY dan Ibu Ani meninjau proses produksi karet di pabrik karet milik PT Sri Trang Lingga di Palembang, Sumsel, Selasa (19/12) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Palembang: Dalam waktu dua atau tiga tahun kedepan, produksi minyak kelapa sawit Indonesia diharapkan akan melampaui produksi minyak sawit Malaysia yang saat ini berkisar 15 sampai dengan 16 juta ton pertahun. Harapan ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (19/12) pagi, dalam sambutannya pada peresmian tiga pabrik karet dan dua pabrik minyak kelapa sawit serta Jembatan Banyuasin, di Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.

“ Volume dan ekspor minyak kelapa sawit kita sangat menggembirakan. Sebagai perbandingan, pada tahun 1980 ekspor minyak sawit baru mencapai 500 ribu ton, dimana total nilai ekspor sekitar 5 juta Dolar AS, dengan harga waktu itu. Alhamdulillah, tahun 2005 meningkat menjadi 10,5 juta ton dengan nilai 3, 7 miliar Dolar AS. Selain itu telah memberikan kesempatan tenaga kerja bagi sekitar 2,7 juta orang. Tenaga kerja sejumlah itu belum termasuk tenaga kerja yang terserap dalam berbagai sub sistem lainnya,” ujar Presiden .

Perkebunan kelapa sawit dan karet memiliki sejarah panjang di negeri kita, sejak jaman penjajahan kolonial. "Melalui kebijakan politik tanam paksa, rakyat kita diwajibkan untuk menanam kelapa sawit dan karet. Selepas penjajahan, kelapa sawit dan karet dikelola oleh masyarakat dan pemerintah. Pada tahun 1980 perkebunan besar baru memcapai luas areal 295 hektar, dengan hasil produksi waktu itu sekitar 721 ribu ton. Tapi melalui kegiatan paket kebijakan akselerasi pembangunan perkebunan 1980 an, pabrik kelapa sawit tidak hanya diselenggarakan oleh perusahan perkebunan tapi juga mulai dikembangkan oleh usaha perkebunan rakyat. Sebagai hasil dari pelaksanaan kegiatan pengembangan perkebunan itu, saat ini lahan kelapa sawit telah mencapai 5,5 juta hektar," kata Presiden.

Sekitar 35 persen merupakan perkebunan rakyat, dan 65 persen perkebunan yang diusahakan oleh BUMN dan swasta. "Saat ini areal perkebunan sawit masih terkonsentrasi di wilayah Riau, Sumut dan Sumsel. Artinya, masih terbuka kemungkinan yang sangat luas untuk dikembangkan dan diintensifkan di wilayah lain. Pada tahun 2005 telah menghasilkan produksi kelapa sawit 14 juta CPO. Dengan jumlah produksi kelapa sawit itu, negara kita menjadi produsen minyak sawit kedua terbesar setelah Malaysia. Kini produksi minyak sawit yang diproduksi negara kita dan Malysia mencapai 85 persen dari total produksi minyak sawit dunia," lanjut SBY.

Ditambahkan, untuk komoditi karet secara nasional saat ini, dari 3,3 juta hektar perkebunan karet, 85 persen merupakan perkebunan rakyat. Sisanya 15 persen perkebunan besar. "Perkebunan karet juga mengalami perkembangan yang positif. Tahun 1980, luas areal dan produksi karet baru mencapai 2,4 juta hektar dengan jumlah produksi sekitar 1 juta ton. Tahun 2005 luas perkebunan karet telah meningkat menjadi 3,3 juta hektar dengan jumlah produksi sekitar 1,9 juta ton. Tentu saja dengan jumlah produksi sebesar itu, negara kita menjadi produsen karet terbesar kedua di dunia setelah Thailand, dan menyerap kesempatan kerja sekitar 1,4 juta tenaga kerja," jelas Presiden saat meresmikan tiga pabrik karet dan dua pabrik minyak kelapa sawit, di Sumsel itu. (win)