Berita Utama
Sabtu, 20 Januari 2007, 13:08:20 WIB
Presiden:
Terimakasih pada Mereka yang Melemparkan Kritik, Saran dan Kecaman
Jakarta: Menanggapi dinamika politik yang terjadi selama dua bulan belakangan ini di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono manyatakan bahwa selama ini dirinya memilih diam. Ini adalah untuk kebaikan dan kepentingan rakyat Indonesia. “Saya mempertimbangkan dengan seksama, apakah kalau saya mengeluarkan statement balasan, itu akan membawa kebaikan atau tidak bagi rakyat,” kata Presiden SBY pada pidato sambutannya saat menghadiri Hari Bangkit ke-5 Partai Bintang Reformasi (PBR) di Puri Agung, Hotel Sahid Jaya, Sabtu (20/1) pagi.“Saya ingat, sebagai pemegang amanah, apabila saya mudah mengeluarkan reaksi dan balasan, barangkali situasinya akan menjadi lebih rumit dan rancu. Oleh karena itu, saya dengan sadar dan sengaja memilih untuk lebih menahan diri. Bahkan ketika ada hiruk pikuk dan hingar bingar politik di Jakarta pada 15 Januari 2007 lalu, saya sedang bersama para petani di Gorontalo, berusaha mencari jalan keluar atas masalah-masalah yang sedang dihadapi mereka agar pertanian kita lebih produktif. Satu hari sebelumnya, saya berada di Tomohon, berdialog dengan petani Aren dan petani bunga, bersama-sama mencari akal meningkatkan kesejahteraan mereka,” lanjutnya
Menurut SBY, sistem demokrasi yang kita bangun tidak boleh mengambil oper model demokrasi negara manapun karena tidak cocok. “Meskipun pada prinsipnya nilai-nilai demokrasi bersifat universal, tetapi budaya, sejarah dan karakter bangsa meniscayakan ada varian dari demokrasi negara satu dengan yang lainnya. Saya ingin demokrasi yang kita bangun di negeri ini, di satu sisi menghormati kebebasan namun di sisi lain juga mengembangkan harmoni dan toleransi. Agar demokrasi itu menjadi ruang dan sistem kehidupan yang baik, maka harus bertumpu pada pranata hukum. Dengan itu semua, insya Allah seperti apapun dinamika, romantika dan kerasnya kehidupan politik, tidak menimbulkan kegoncangan apapun di negeri ini, yang nantinya akan menyengsarakan rakyat,” seru Presiden.
Presiden mengajak seluruh rakyat untuk menghormati konstitusi, aturan main dan etika politik. Presiden mendengarkan kritik. “Saya menghormati mereka yang menyampaikan ekspresi dalam ruang demokrasi. Saya berterimakasih kepada mereka-mereka yang melemparkan kritik, saran, kecaman yang kurang enak di dengar. Saya anggap itu sebagai obat yang rasanya pahit, namun kalau dosisnya tepat, Insya Allah badan akan makin sehat,” kata Presiden SBY di hadapan sekitar 1.500 undangan yang hadir. (osa)



