Berita Utama

Sejak Awal Presiden Fokus pada Persoalan Dalam Negeri

Jakarta: Sejak awal pemerintahannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono fokus pada persoalan dalam negeri, karena perhatian terhadap persoalan – persoalan dalam negeri merupakan komitmen awal pemerintahan Presiden SBY, tanpa meninggalkan peranan Indonesia terhadap pergaulan dan perkembangan dunia Internasional secara proporsional yang juga merupakan amanah konstitusi.

Demikian dikatakan Jubir Presiden, Andi Mallarangeng Senin (29/1) sore, kepada wartawan. Menurut Andi, sejak awal pemerintahannya Presiden fokus pada persoalan dalam negeri, misalnya ketika ada gempa dan tsunami di Aceh, kemudian soal BBM, kita bisa melihat Presiden langsung turun tangan. "Tetapi sesuai dengan amanah konstitusi, Presiden juga melakukan peran – peran internasional secara proporsional seperti bila ada pertemuan KTT Asean di Cebu Filipina, Konferensi Asia Afrika, APEC dan lain – lain, tentu Indonesia tidak mau terkucil,” kata Andi Mallarangeng. Kalau mau dilihat Presiden lebih banyak focus pada persoalan – persoalan domestik, bisa dilihat dan dihitung dari jumlah kunjungan Presiden ke daerah-daerah di Indonesia daripada ke luar negeri, tambahnya.

Mengenai pernyataan Presiden yang akan meninggalkan CGI karena Indonesia sudah mampu membiayai kebutuhan pembangunannya, jelas Andi, bagi bangsa Indonesia, pernyataan Presiden tidak membutuhkan lagiCGI ini adalah merupakan kebijakan mendasar. "Ini adalah bagian dari kemandirian ekonomi Indonesia, Di sini kita bisa lihat watak dasar Presiden SBY, sebagai orang yang dilahirkan dari keluarga sederhana, di daerah tertinggal Pacitan, yang punya kemauan kuat dan kerja keras. Bagi SBY, kemandirian itu merupakan sesuatu yang mendasar,” kata Andi.

“ Karakter kemandirian ini bisa dilihat dari inisiatif Presiden untuk melunasi utang-utang kita kepada IMF, sehingga rasio utang kita makin lama makin turun. Tahun 2004 rasio utang kita dengan PDB sebesar 53 persen, tahun 2005 rasio utang kita dengan PDB turun menjadi 47 persen, tahun 2006 kemarin dengan pembayaran utang IMF, rasio kita dengan PDB sisa 40 persen. Dengan membayar utang itu, bangsa kita tidak jatuh miskin. Cadangan devisa kita sekarang 42,9 milliar Dollar AS, rekor jumlah tertinggi dalam sejarah republik ini,” kata Andi Mallarangeng.(win)