Berita Utama

Presiden Menerima Para Gubernur Akmil dan Akpol

Hindarkan Kontak Fisik dalam Pembinaan Taruna

Presiden SBY mengajak wakil Taruna melihat ruang kerja Presiden, usai melakukan diskusi dengan para gubernur Akmil dan Akpol di Kantor Presiden, Selasa (10/4) sore. (foto: anung/presidensby.info)
Presiden SBY mengajak wakil Taruna melihat ruang kerja Presiden, usai melakukan diskusi dengan para gubernur Akmil dan Akpol di Kantor Presiden, Selasa (10/4) sore. (foto: anung/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (10/4) siang di Kantor Presiden, melakukan diskusi dan evaluasi terhadap konsep pembinaan taruna di akademi milter dan kepolisian, serta SMA Taruna dengan para gubernur akademi milier dan Kepala Sekolah Taruna Nusantara.

Para gubernur akademi militer yang hadir adalah Laksda TNI Sosialisman Komandan Jenderal Akademi TNI, Gubernur Akademi Militer (Akmil) Mayjen TNI Sriyanto, Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) Mayjen TNI (Mar) Agung Widjajadi, Gubernur Akademi Angkatan Udara Marsda (AAU) TNI Erry Biatmoko, Gubernur Akademi Kepolisian (Akpol), Kepala Sekolah SMA Taruna Nusantara Brigjen TNI (Purn) Djuwari Sarmiyanto. Saat menerima tamunya, Presiden didampingi antara lain oleh Menko Polhukam Widodo AS, Menhan Juwono Sudarsono, Panglima TNI Marsekal Djoko Soeyanto, Kapolri Jenderal Sutanto.

Panglima TNI Djoko Soeyanto dalam keterangan persnya usai pertemuan menjelaskan, inti dari semua konsep pembelajaran, pengajaran, pengasuhan, dan pelajaran akademis harus diketahui dengan benar sasaran atau tujuannya. Prajurit TNI atau Akpol, katanya, suatu saat akan menghadapi tugas dengan tingkat stres yang tinggi. ”Itu harus kita pahami bersama, sehingga metode latihan harus ada dalam konteks itu. Latihan yang sangat keras, latihan yang sangat spartan dalam frekwensi dan intensitas yang tinggi, tetapi harus dipikirkan tidak boleh membahayakan, dan itu sudah menjadi metode aturan-aturan yang berlaku di Akmil atau Akpol," Djoko Soeyanto menambahkan.

Kegiatan-kegiatan latihan fisik atau mental, menurut Djoko Soeyanto, memang harus dilakukan seperti itu. "Di Akmil dan Akpol tidak ada lagi kontak fisik dalam upaya pembinaan. Kontak fisik sudah lama diubah menjadi pembinaan fisik," kata Panglima TNI.

Djoko Soeyanto juga mengklarifikasi bahwa seolah-olah cara-cara yang dilakukan oleh oknum taruna IPDN dalam tayangan televisi adalah cara-cara pendidikan militer. ”Saya kira itu tidak benar, karena cara-cara pendidikan militer bukan seperti itu. Seperti yang disampaikan para Gubernur Akmil dan Akpol, sudah tidak ada lagi kontak-kontak fisik seperti itu, tapi diarahkan kepembinaan fisik," jelas Djoko Soeyanto.

Dalam pertemuan tadi, ujar Djoko Soyento, Presiden SBY mengintruksikan, pertama harus dipastikan kehidupan korps taruna, baik Akmil maupun Akpol, harus sehat dan menghindari tindakan-tindakan kontak fisik. Pembinaan fisik harus diartikan lain dengan kontak fisik. Kedua, Presiden meminta dilakukan evaluasi apabila ada metode-metode latihan atau aturan-aturan yang tidak mengarah kepada intruksi yang pertama tadi.

Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan, memang banyak tradisi yang masih baik dan perlu terus dilakukan. "Tetapi apabila dalam hasil evaluasi nanti dipandang tidak perlu, maka akan dilakukan perubahan,“ Marsekal ujar Djoko Soeyanto. Presiden SBY, lanjutnya, memberikan tugas kepada Panglima TNI, Kapolri, maupun para Gubernur Akmil dan Akpol untuk melakukan evaluasi konsep pembinaan tersebut.

Usai melakukan diskusi dengan para gubernur akademi militer dan kepolisian, Presiden SBY mengajak beberapa taruna melihat ruang kerja Presiden. Kepada para taruna, Presiden antara lain menjelaskan tentang konsep NKRI. (win)