Berita Utama

Presiden: Negara-negara Maju Harus Bekerja Kurangi Efek Rumah Kaca

Presiden SBY  saat memberi sambutan pada pembukaan Sidang ke 116 IPU di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Minggu (29/4) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY saat memberi sambutan pada pembukaan Sidang ke 116 IPU di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Minggu (29/4) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Nusa Dua: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Sidang ke 116 IPU di Hotel Westin, Nusa Dua, Bali, Minggu (29/4) malam mengingatkan agar negara-negara maju bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengurangi efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh perindustrian mereka. "Ada isu yang penting untuk dibahas pada Sidang IPU ini, yaitu ancaman perubahan iklim global. Dampak dari perubahan iklim ini sangat mencemaskan, berat dan mahal karena bukan hanya merubah geografi tetapi juga akan memperngaruhi kehidupan manusia. Tragisnya yang paling menderita akibat perubahan iklim ini adalah negara-negara miskin," kata Presiden.

"Karena itulah, ada dua pertanyaan yang saya ajukan untuk dibahas di forum sidang IPU ini. Pertama, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim ini. Kedua, apa yang kita bisa lakukan baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri untuk mengendalikan perubahan iklim ini." Menyangkut pertanyaan yang pertama, lanjutnya, "Jelas kita harus mencari satu kesepakatan internasional untuk membantu mengendalikan efek rumah kaca terhadap atmosfir ini. Berarti kita harus kembali kepada Kyoto Protocol. Tetapi lebih penting lagi, kita juga harus mulai memikirkan bagaimana caranya menuju Kyoto Protocol, yang akan berakhir tahun 2012," lanjut SBY di hadapan 1.339 orang anggota parlemen dari 126 negara.

“Karena kita harus memastikan pastikan bahwa negara berkembang akan menjadi bagian dari usaha-usaha global itu. Kita harus pula memastikan bahwa Amerika Serikat, yang menghasilkan seperempat dari emisi dan efek pancaran rumah kaca global, bersedia mengambil bagian dalam langkah setelah berakhirnya Kyoto Protocol," kata SBY.

"Indonesia yang memiliki hutan sebagaimana yang ada Brazil, Kongo, Kosta Rica, Malaysia dan Papua Nugini, harus melakukan sesuatu untuk memelihara hutan yang menjadi paru-paru dunia ini. Kita harus menghentikan pembalakan liar dan mencegah terjadinya kebakaran hutan. Itulah sebabnya Indonesia bekerja dengans serius untuk proyek di Kalimantan, yang akan menciptakan suatu areal seluas 220,000 hektar hutan dengan berbagai jenis tumbuhan," tambah Presiden.

Tetapi, lanjut Presiden, "Nnegara-negara maju juga harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengurangi efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh perindustrian mereka, mobil-mobil mereka, dan gedung-gedung mereka. Negara-negara maju juga harus meningkatkan investasi mereka untuk membangun teknologi untuk energi yang bersih dan aman bagi dunia," kata Presiden.