Berita Utama

SBY dan Cepot di HUT 'Rakyat Merdeka'

Presiden SBY bersama dalang wayang golek , Asep Sunandar Sunarya dan tokoh Cepot, pada acara HUT Sewindu harian Rakyat Merdeka, di Hotel Mulia, Jumat (11/5) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY bersama dalang wayang golek , Asep Sunandar Sunarya dan tokoh Cepot, pada acara HUT Sewindu harian Rakyat Merdeka, di Hotel Mulia, Jumat (11/5) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Telah tiba era dalam kehidupan pers untuk lebih mengembangkan self cencoring. tidak ada lagi ada kontrol yang berlebihan terhadap pers, larangan di sana sini, karena kenyataannya hal tersebut sangat kontraproduktif dan tidak sehat. Dengan demikian akan mekar demokrasi di Indonesia, media massa akan menjadi miliki semua, milik demokrasi dan menjadi kebaikan bagi bangsa serta negara Indonesia. Hal tersebut dikatakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada HUT Sewindu Harian Rakyat Merdeka yang dilaksanakan di Hotel Mulia, Jumat (11/5) pukul 20.30 WIB.

Menurut SBY, pemerintah dengan pers adalah hate and love relationship. Hal ini terjadi di negara manapun juga. "Oleh karena itu mari jalin persahabatan ini, karena kita bersama-sama dalam kehidupan demokrasi ini. Meskipun berbeda dalam pikiran politik, meskipun beda kita dalam mengabdi pada bangsa dan negara, kita diniscayakan untuk tetap bersahabat dan memiliki hubungan silaturrahmi yang baik. Ini adalah karakter dari sebuah demokrasi yang semakin matang," tutur SBY.

Turut menghadiri HUT Rakyat Merdeka, antara lain, Mensos Bachtiar Chamsyah, Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Menkominfo Mohammad Noeh, Menhub Djusman Syafi'i Djamal, Menneg PDT M.Lukman Edy, serta Jubir Presiden Andi A. Mallarangeng. Juga hadir perwakilan negara sahabat dan anggota DPR.

HUT Sewindu harian tersebut dilengkapi dengan pagelaran wayang golek "Cepot Pasang Aksi" dengan Asep Sunandar Sunarya sebagai dalangnya. Pentas wayang yang menggunakan bahasa Sunda tersebut berjudul Rakyat Mengadu, Pemimpin Bertindak dalam cerita Wayang Trijaya Sakti. Dan Presiden SBY menjadi bintang tamu spesial dalam pagelaran wayang golek tersebut.

Diceritakan bahwa di Tumaritis, Cepot dan Dawala kedatangan Batara Guru dan Gatotkaca. Mereka meminta tolong kepada Semar untuk membantu menyelesaikan kejadian yang menimpa di Sawarga, karena Sawarga dikuasai oleh para Denawa (raksasa) yang sedang merusak. Semar mengambil keputusan bahwa Gatotkaca sebagai panglima dan Batara Guru sebagai pemimpin, Semar sebagai rakyat harus bersatu. Batara Guru dan Semar masuk ke dalam tubuh Gatotkaca dan berubah menjadi Trijaya Sakti. Kemudian mereka berangkat menuju Sawarga. Di dalam perjalanan Cepot ke Sawarga, Cepot bertemu dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dan berdiskusi mengenai cara mengatasi masalah yang akan dihadapi oleh Trijaya Sakti.

Ketika ditanya oleh Cepot mengenai kabarnya, SBY menjawab selalu sehat walaupun banyak bencana yang menimpa negerinya. "Negara kita ini rawan bencana Cepot, banyak gunung berapi, ada tabrakan, tsunami, gempa dan lain sebagainya. Tapi saya harus tabah demi amanah dari rakyat dan kita harus atasi bersama-sama," kata SBY. Dalam kesempatan tersebut juga, SBY memberikan masukan bahwa Raskin harus diberikan kepada rakyat miskin. "Kalau Cepot jadi ketua RT berasnya diberikan kepada rakyat yang miskin, jangan diberikan kepada saudara-saudara," kata SBY menasihati Cepot.

Usai mengikuti pagelaran wayang golek, Presiden SBY menerima cinderamata berupa wayang Batara Krisna, yang menurut sang dalang akan menjadi simbol kuat dalam memberantas korupsi di negeri ini. Presiden SBY yang didampingi oleh Ibu Ani meninggalkan lokasi pada pukul 10.10 WIB (mit/win)