Berita Utama

Secangkir Kopi Bersama Presiden SBY

Jakarta: Kopi adalah minuman yang jujur. Warnanya hitam karena rasanya memang pahit. Tapi bila kita tambahkan gula atau susu, rasanya pasti akan lebih nikmat. Suasana kekeluargaan yang akrab dapat tercipta bila kopi diminum bersama-sama dengan para sahabat. Dalam suasana yang santai dan akrab pula, Usi Karundeng pembawa acara TVRI `Secangkir Kopi Bersama Presiden Republik Indonesia`, berbincang-bincang dengan SBY di halaman tengah Istana Kepresidenan. Acara ini ditayangkan TVRI pada Senin (30/7) pukul 20.00 WIB.

Selama lebih kurang 45 menit, Presiden SBY berbincang-bincang mengenai hasil kunjungan kerjanya ke Korea Selatan, pertemuannya dengan PM Australia John Howard di Bali, perubahan cuaca dunia, dan fitnah dari Zaenal Ma’arif, mantan Wakil Ketua DPR tentang kehidupan pribadinya.

Presiden SBY menaruh perhatian besar terhadap masalah perubahan iklim dunia. ”Perubahan iklim yang terjadi di seluruh permukaan bumi ini mengubah tatanan iklim yang dalam banyak hal mendatangkan banyak bencana. Negara kita sudah mengalami sekarang ini, mudahnya hutan terbakar, curah hujan yang tinggi mendatangkan banjir dan lain-lain. Oleh karena itu demi generasi yang akan datang, demi bumi kita, demi Indonesia kita, kita harus melaksanakan pemeliharaan lingkungan yang sungguh-sungguh, termasuk mengelola climate change ini sebaik-baiknya,” jelas SBY. ”Dan jangan lupa, bahwa pada bulan Desember nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah dari Konferensi PBB tentang climate change. Saya gunakan semuanya ini untuk menggugah komitmen, tanggung jawab dan tindakan nyata kita dan saya ajak juga masyarakat sedunia nanti pada saat konferensi di Denpasar, Bali, sekaligus ya bagaimana kita menjadi tuan rumah yang baik. Kita persiapkan sebaik-baiknya konferensi internasional yang sangat penting ini yang akan datang ini,” lanjutnya.

Ketika ditanya tentang fitnah yang dilontarkan Zaenal Ma’arif terhadap kehidupan pribadinya, Presiden SBY mengaku sangat terkejut. ”Saya manusia biasa, tentu dengan berita yang mengejutkan itu atau geledek di siang bolong sangat menganggu perasaan saya. Saya tidak habis berpikir, kok ada tokoh mengeluarkan begitu saja berita seperti itu tanpa beban begitu ya,” ungkap SBY. ”Keterlaluanlah, ya saya pikir karena dalam kehidupan itu selalu ada etika, apalagi nyata-nyata sesuatu yang tidak benar. Jadi ya terus terang saya terganggu, di tengah-tengah padatnya kegiatan yang saya lakukan tiba-tiba disambut dengan pemberitaan di media massa tentang masalah pribadi saya itu,” jelasnya.

Di akhir acara tersebut, Presiden SBY mohon doa restu dari seluruh rakyat Indonesia untuk mengemban amanah yang dipercayakan kepadanya. ”Percayalah, saya tetap bersemangat dan ingin mengemban amanah yang diberikan kepada saya dengan sebaik-baiknya,” tegas SBY (osa)