Berita Utama

SBY Terima Peserta Kongres PPI

Bunga Mawar, Jangan Lihat Duri tapi Lihat Kelopaknya

Preiden SBY menyalami Ketua Panitia Kongres PPI 2007, Mohammad Casey Ntoma, dalam pertemuan di Hotel Four Seasons, Sydney, Senin (10/9) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Preiden SBY menyalami Ketua Panitia Kongres PPI 2007, Mohammad Casey Ntoma, dalam pertemuan di Hotel Four Seasons, Sydney, Senin (10/9) pagi. (foto: anung/presidensby.info)
Sydney: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, tidak baik kalau kita menjadi bangsa yang mutungan, bangsa yang mudah mengajak perang dengan negara lain. "Hal itu tidak cocok dengan era persahabatan dan kerjasama sekarang ini. Tanpa mengorbankan kepentingan kita dan kehormatan kita, kita jalin persahabatan dengan negara sahabat sebaik-baiknya, untuk menunjang kepentingan bangsa kita.” Demikian dikatakan Presiden saat menerima para peserta konferensi PPI (Persatuan Pelajar/Mahasiswa Indonesia) yang belajar di luar negeri di Ballroom Hotel Four Seasons, George St, Sydney, Senin (10/9). Pada acara ini, Presiden didampingi Ibu Negara.

”Tadi malam di ruangan ini, saya juga berbicara di depan para politisi, pengusaha, para akademisi dari Australia, Asialink. Yang saya bedah secara kritis hubungan bilateral Indonesia – Australia, jangan sampai satu isu kecil mengganggu hubungan antar bangsa. Kita ingin bersahabat tulus dan fundamental. Jadi tidak satu atau dua insiden langsung meruntuhkan persahabatan dan hubungan kita. Juga sama seperti dengan Malaysia, ada insiden, dan allhamdulillah semua bisa kita selesaikan,” kata Presiden

Menanggapi tema konferensi para mahasiwa itu, Kembali ke Indonesia atau Mengabdi dari Jauh, Presiden mengatakan, tidak perlu gundah untuk bekerja di luar negeri, asalkan semua tetap mencitai negara Indonesia dan memberikan dedikasi kepada bangsa. "Saya minta para mahasiswa melihatnya dengan jernih dan berpikiran positif. Ibaratnya, bunga mawar memang banyak duri. Tapi kita jangan lihat durinya. Lihatlah kelopaknya, bahwa bunga mawar ini indah. Jangan dijauhi," kata SBY.

Ada tiga hal yang dipesankan SBY kepada para mahasiswa yang tetap memilih belajar dan bekerja di luar negeri. Pertama, SBY minta agar mereka tidak memperolok diri sendiri dan menjelekkan bangsa sendiri. Kedua, mereka menjadi duta bangsa untuk pencitraan yang baik. Ketiga, melakukan jejaring global antara luar negeri dengan Indonesia, seperti yang dilakukan China dan India.

Sebelumnya, Ketua Panitia KIPI 2007, Mohammad Casey Ntoma melaporkan bahwa kongres kali ini diikuti 220 pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri, yang hadir ada delapan negara masing-masing dari Belanda, India, Italia, Jepang, Malaysia, Mesir, Australia dan Indonesia. Kata Casey Ntoma, kongres ini dilaksanakan sebagai sebuah bentuk kepedulian PPI terhadap pertanyaan besar apakah harus kembali setelah menyelesaikan studi, atau harus tetap meniti karir di luar negeri. Kongres berlangsung di Sydney selama tiga hari dari tanggal 7 s/d 9 September 2007.

Tampak hadir Menko Perekonomian Boediono, Menlu Hassan Wirajuda, Mensesneg Hatta Radjasa, Mendag Mari E Pangestu, Meneg Pora Adhyaksa Dault, Menneg LH Rachmat Witoelar, anggota Wantimpres Emil Salim serta Juru Bicara Kepresidenan, Dino Patti Djalal dan Andi Mallarangeng. (win)