Berita Utama

Presiden Mencermati Polling Secara Obyektif

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencermati berbagai macam polling yang dilakukan berbagai lembaga yang muncul tiap minggu. Namun SBY juga mencermati mana polling yang dapat dipercaya, obyektif, dan non-profit, sehingga dapat dijadikan masukan dalam berbagai macam hal dalam pemerintahan Presiden SBY. Demikian dikatakan Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng dalam keterangan persnya di Kantor Presiden, Senin (8/10) pagi.

Mengenai hasil polling Lembaga Survey Indonesia (LSI) yang diumumkan Minggu (7/10) sore di Hotel Sari Pan Pacific, Presiden SBY bersyukur bahwa dalam tiga tahun pemerintahan ini ternyata kepuasan rakyat masih tinggi. "Artinya rakyat menganggap bahwa kepemimpinan Presiden SBY tetap pada jalurnya untuk menjalankan amanahnya mensejahterakan rakyat, memajukan perekonomian, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan lapangan kerja," ujar Andi. Dalam jajak pendapat tersebut tersebut, Presiden SBY mendapatkan tingkat kepuasan 58 persen dari pemilih pada Oktober 2007 ini.

Hasil polling LSI ini konsisten dengan jajak pendapat yang dilakukan harian Kompas dua minggu lalu. "Malah kalau di Kompas ada pertanyaan 'Apakah Presiden SBY perlu diganti sekarang ini'? Lebih kurang 73 persen responden mengatakan tidak perlu diganti," terang Andi. "Ada juga pertanyaan 'Apakah anda bangga dengan Presiden SBY'? 69 persen mengatakan bangga," lanjutnya.

"Dari laporan LSI tersebut dapat kita lihat bahwa posisi kepuasan rakyat pada Oktober 2007 sebanyak 58 persen, sementara pada bulan Maret 2007 sebesar 49,7 persen, lalu naik pada bulan Juli 2007 sekitar 55-56 persen. Hal ini menunjukkan tren pada masa kepemimpinan Presiden SBY mengalami kenaikan pada satu tahun terakhir ini walaupun ada beberapa penurunan sedikit pada saat harga BBM naik," Andi menjelaskan.

Hal ini disyukuri Presiden SBY, meskipun masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki. "Presiden memerintahkan untuk mencermati mana hal-hal yang perlu diperbaiki dan mana hal-hal yang perlu ditingkatkan terus," tegas Andi. "Yang menarik, polling tersebut memperlihatkan bagaimana persepsi masyarakat dalam kondisi ekonomi nasional. Yang menyatakan bahwa kondisi ekonomi sama atau lebih baik, makin lama makin meningkat yaitu 63 persen. Sementara yang mengatakan kondisi ekonomi makin lama makin buruk, makin lama makin menurun 32 persen. Nampaknya kepuasan rakyat terhadap kinerja Presiden SBY sejalan dengan membaiknya perekonomian rakyat," Andi menambahkan.

Pada pertanyaan, jika pemilu dilakukan sekarang ini, siapa yang anda pilih? Dari tujuh tokoh yang disampaikan dalam polling tersebut, SBY tetap teratas, yakni 35.5 persen. Jika hanya ada dua calon Presiden, SBY meraih suara 55 persen, Megawati 35.5 persen, dan yang belum tahu 11.5 persen. "Kalau yang belum tahu ini dihilangkan, maka SBY mencapai kira-kira 60-64 persen. Kondisi ini mirip dengan hasil pemilihan Presiden babak kedua pada tahun 2004. Artinya, konsistensi dukungan rakyat pada Presiden SBY tetap bertahan dalam tiga tahun ini. Bandingkan dengan misalnya presiden-presiden sebelumnya yang mengalami penurunan yang sangat jauh dalam tahun-tahun pemerintahannya," ujar Andi.

Dalam jajak pendapat LSI 2007 disebutkan juga bahwa Presiden SBY menempati posisi teratas pada pertanyaan tokoh yang dinilai lebih mampu dalam mengatasi masalah paling mendesak, tokoh yang dinilai lebih dapat dipercaya, tokoh yang lebih memperhatikan rakyat, tokoh yang dianggap lebih tegas, dan tokoh yang dianggap paling pintar. "Jadi artinya bahwa hasil dari tiga tahun pemerintahan Presiden SBY ini ternyata direspon sangat baik oleh masyarakat," kata Andi.

"Presiden SBY sendiri belum puas dengan kinerjanya, beliau merasa masih banyak yang perlu dikerjakan. Maka dua tahun terakhir ini Presiden SBY memfokuskan diri untuk selalu bekerja dan bekerja untuk rakyat. Kalau ada yang mencalonkan Presiden secara dini dan mulai tebar pesona, maka itu adalah hak mereka," tandas Andi Mallarangeng. (osa)