Berita Utama
Kamis, 15 November 2007, 17:00:43 WIB
Piagam MURI untuk Andi Mallarangeng
Jaya Suprana dan Andi Mallarangeng, pada acara penyerahan Piagam MURI di Ruang Pers Kantor Presiden, hari Kamis (15/11) sore. (foto: tomy-jp/presidensby.info)
"Sebetulnya, Jubir Presiden Andi Mallarangeng ini bisa mendapat dua paigam MURI. Pertama untuk bukunya Dari Kilometer 0,0, yang kedua sebagai Jubir Presiden paling ganteng. Tapi piagam kedua terpaksa dibatalkan, karena Jubir Presiden yang lain yaitu Dino Patti Djalal juga ganteng. Dari pada mengundang polemik berkepanjangan, akhirnya piagam kedua itu tidak jadi kami berikan. Akhirnya hanya satu piagam saja yang kami berikan," kata Jaya dalam balutan dengan warna pakaian khasnya, hitam-hitam.
Kata Jaya, “Kenyataan yang tidak bisa diingkari adalah seorang Juru Bicara Kepresidenan yang menulis dan menerbitkan buku tentang tugasnya, di masa masih bertugas itu, memang tidak ada duanya, kecuali Andi Mallarangeng. Teman kita Wimar Witoelar sebenarnya juga menulis tentang Jubir Presiden. Tetapi beliau kurang beruntung karena sebelum sempat diterbitkan, Presiden Gus Dur sudah mengundurkan diri dari jabatan presiden. Sedangkan Andi Mallarangeng menulis dan menerbitkan buku ketika beliau masih dalam masa tugas,” kata Jaya Suprana.
“Hari ini Museum Rekor Indonesia menganugerahkan piagam kepada Andi Mallarangeng untuk prestasinya yang luar biasa , yaitu Jubir yang menulis dan menerbitkan buku mengenai tugasnya di masa masih menjabat tugasnya. Piagam ini diberikan kepada Dr. Andi A.Mallarangeng. Semoga prestasi Anda akan menjadi teladan bagi seluruh staf presiden akan menulis buku nanti,” kata Jaya, sambil menyerahkan piagam berbingkai kepada Andi Mallarangeng.
Andi menganggap penghargaan MURI tersebut merupakan kehormatan bagi dirinya. “Saya mendapat kehormatan mendapatkan tamu Jaya Suprana dengan Museum Rekor Indonesia, yang hari ini datang ke mari untuk memberikan sertifikat Muri kepada saya. Idenya datang ketika peluncuran buku saya Dari Kilometer 0,0. Kemudian Pak Jaya mengirimkan saya SMS yang isinya mau memberikan sertifikat MURI kepada saya. Pada awalnya saya sendiri menganggap ini barangkali Pak Jaya sedang bergurau lagi kepada saya. Tapi ternyata beliau serius, dan karena setelah bicara dengan beliau, ternyata beliau memang serius, dan ini juga merupakan kehormatan bagi saya. Saya selama ini memang mengikuti pemberitaan rekor MURI tentang berbagai hal, tetapi sendiri tidak pernah bermimpi bisa mendapatkannya. Karena itu saya sampaikan terima kasih. Apapun bagi saya, kedatangan Pak Jaya ini saja sudah merupakan suatu kehormatan,” kata Andi.
“Terima kasih untuk penghargaannya, dan saya melihatnya bahwa Pak Jaya ini ingin memotivasi semua orang untuk menulis buku, sehingga memperbanyak khasanah kita terutama bagi saya kebetulan bidang saya adalah saat ini adalah Juru Bicara Kepresidenan, mudah-mudahan ini memberikan sumbangan terhadap sebuah tradisi intelektual,”lanjutnya.
Hadir pada kesempatan itu istri Andi, Vitri Mallarangeng dan putri kedua Andi, Titang. Juga Pemimpin Umum Harian Jurnal Nasional, N.Syamsuddin Ch Haesy, dan Pemimpin Redaksi Ramadhan Pohan. (nnf)



