Berita Utama

Pengrajin Tahu Tempe Diterima di Istana

Jakarta: Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu dan Menteri Pertanian Anton Apriyantono didampingi Juru Bicara Kepresidenan, Andi Mallarangeng, atas instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Senin (14/1) pagi menerima perwakilan pengrajin tahu tempe yang berdemo di depan Istana Merdeka. Mendag dan Mentan menerima sekitar tujuh orang perwakilan pengrajin tahu tempa, di Ruang Rapat Gedung Bina Graha.

Menurut Andi Mallarangeng, pada intinya perwakilan pengrajin tahu tempe minta perhatian pemerintah tentang situasi harga kedelai yang menjadi bahan dasar tempe dan tahu. “Jam satu siang nanti akan ada rapat yang dikoordinasikan Menko Perekonomian Boediono, akan diikuti beberapa menteri termasuk Mendag dan Mentan untuk membahas masalah kenaikan harga kedelai ini,” jelas Andi. “Seperti kita tahu, Presiden SBY sendiri adalah pecinta tempe dan tahu sejati,” candanya

Sementara itu Mentan Anton Apriyantono menjelaskan bahwa fenomena kenaikan harga kedelai yang terjadi tiga bulan terakhir ini diakibatkan Amerika Serikat yang mengurangi 15 persen lahan kedelainya untuk dikonversi menjadi lahan jagung demi kebutuhan bioenergi. “Kenaikan harga kedelai dalam negeri memang sangat dipengaruhi kedelai impor yang memang naik di sana. Inilah yang menyebabkan suplai ke pasar internasional menjadi berkurang, sehingga harganya naik,” kata Anton. “Kemudian Cina juga memproteksi kedelainya. Mereka menerapkan 30 persen bea ekspor. Ini yang menyebabkan tiba-tiba harga kedelai naik, sementara kemampuan produksi di dalam negeri itu masih terbatas, dan itupun juga dipicu oleh harga yang relatif rendah di masa lalu,” lanjutnya.

“Maka langkah yang akan kita lakukan dalam jangka pendek adalah kita akan mempertimbangkan bea masuk impor yang dilakukan apakah secara progresif atau sementara kita bebaskan dulu. Kita juga mencari sumber-sumber kedelai yang bisa dibeli pemerintah dalam jumlah yang cukup untuk melakukan stabilisasi harga kedelai, kalau ada. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah langkah-langkah swasembada kedelai yang sebetulnya sudah dilakukan sejak lama. Tahun lalu misalnya, kita mensubsidi benih kedelai dengan harapan kita bisa bersaing. Namun ternyata masih belum mampu juga karena harga yang masih belum kondusif di tingkat petani. Sekarang kami yakin dengan harga yang membaik seperti ini di tingkat petani, tentunya kita akan mampu,” Anton menerangkan.

Program subsidi benih kedelai, lanjut Anton, tetap akan dilakukan, dan tentunya diimbangi dengan pembinaan serta tersedianya varietas-varietas unggul kedelai. ”Produksi domestik Indonesia sekarang ini, dari kebutuhan dua juta ton hanya mampu memenuhi 30 dan 40 persen saja dalam pertahun. Ini disebabkan karena petani kurang bergairah menanam kedelai. Mereka belum menempatkan kedelai sebagai tanaman utama, karena keuntungan yang masih sedikit,” ujar Anton. (osa)