Berita Utama

Presiden di Medan

Ada yang Sudah Kita Capai, Ada yang Belum. Kita Harus Jujur

Presiden SBY  dan Ibu Negara  menghadiri acara silaturahmi dengan pimpinan dan tokoh masyarakat Sumut, di  Hotel Grand Angkasa Internasional, Medan, Kamis (17/7) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY dan Ibu Negara menghadiri acara silaturahmi dengan pimpinan dan tokoh masyarakat Sumut, di Hotel Grand Angkasa Internasional, Medan, Kamis (17/7) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Medan: Sepuluh tahun kita bergulat dan berjuang keras menghadapi krisis moneter. Kalau kita pandai bersyukur, mesti kita katakan allhamdulillah karena ada sejumlah capaian, sambil dengan jujur dan terbuka kita akui masih ada pula yang belum kita capai. Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat silaturahmi bersama Bupati, tokoh agama dan masyarakat, serta tokoh pemuda se Sumatera Utara, di Hotel Grand Angkasa Internasional, Medan, Kamis (17/7) malam.

Menurut Presiden SBY, kalau ekonomi tumbuh lebih tinggi maka kemiskinan akan menyusut, pengangguran berkurang, dan kesejahteraan akan naik. Kemiskinan masih menjadi masalah seluruh negara berkembang. ”Tahun demi tahun kita perbaiki, kemiskinan semakin susut, dengan kerja nyata bukan dengan berteori dan berwacana. Kemiskinan tahun ini, menurut hasil survey Maret 2008 adalah yang terendah dalam 10 tahun terakhir,” ujar Presiden SBY.

Mengatakan semuanya gagal, tidak ada kemajuan, bahkan mundur, ujar SBY, adalah tidak jujur. "Allah SWT tidak senang pada umatnya yang tidak punya kejujuran dan kesediaan untuk mengakui yang baik itu baik, yang salah itu salah. Sebaliknya yang mengatakan semuanya baik-baik saja berarti sombong dan berbohong," Presiden menambahkan. Masih banyak masalah di daerah, baik kabupaten/kota maupun provinsi. "Maka mari kita carikan jalan keluarnya, kita atasi bersama,” Presiden SBY menambahkan.

Indonesia sebelum terkena dampak krisis moneter, lanjut SBY, dipuji oleh dunia, bahkan dijuluki dengan istilah New Asian Tiger. Ekonomi kita tumbuh 7 hingga 8 persen. Namun setelah dilanda krisis, bangunan ekonomi Indonesia collaps. Lalu dimana-mana muncul kekerasan, konflik komunal, dan gangguan keamanan. Muncul pula kebebasan tanpa batas.

“Kemudian kita berjuang, meskipun ada bencana tsunami dan rangkaian bencana lainnya di negeri kita. Sebahagian karena kehendak Allah, sebahagian lagi karena kesalahan umat manusia. Meskipun harga minyak meroket, keuangan global bergejolak, pangan melejit harganya, ekonomi kita bisa tumbuh 6 persen lebih tahun lalu dan insya Allah tahun ini ada titik cerah. Allhamdulillah bergerak meskipun harus kita tingkatkan lebih tinggi lagi,” kata Presiden SBY.

Sementara itu Gubernur Sumut Syamsul Arifin dengan gayanya yang santai menyampaikan kepada Presiden SBY bahwa pilkada Sumut berjalan lancar dengan satu putaran saja. Dengan pilkada satu putaran, ujar Syamsul, sekitar Rp 150 miliar dana Pilkada bisa dihemat. Sisa dana ini dikembalikan oleh Polri, Panwas, dan KPU. ”Sukses ini tentu berkat keinginan kuat masyarakat Sumut yang berjiawa besar, bisa menerima siapapun pemenang Pilkada dan mementingkan persatuan,” Syamsul menjelaskan.

Syamsul menambahkan, masyarakat Sumut ternyata sangat mencintai Presiden SBY. Hal ini dibuktikan ketika Presiden SBY dan rombongan meninggalkan bandara menuju Hotel Angkasa, ribuan masyarakat tumpah ruah memenuhi kiri kanan jalan. Padahal mereka ini tidak dimobilisasi. ”Sebenarnya saya sengaja untuk tidak memobilisasi masyarakat, saya ingin melihat langsung. Ternyata masyarakat tumpah ruah ke jalan, bahkan saya melihat beberapa ibu-ibu sambil menggendong bayinya dengan pakaian seadanya turut menyambut Presiden, sambil melambaikan tangannya. Apalagi ini kunjungan ke 15 Presiden SBY ke Sumut,” ujarnya .

Hadir mendampingi Presiden dalam acara ini, antara lain, Seskab Sudi Silalahi, Mendagri Mardiyanto, Menbudpar Jero Wacik. (win)