Berita Utama
Jumat, 25 Juli 2008, 16:30:35 WIB
Presiden: Indonesia Sambut Tawaran OECD
Presiden SBY memberi keterangan kepada wartawan usai menerima delegasi Economic Cooperation and Development, di Kantor Presiden, Jumat (25/7) siang. (foto: haryanto/presidensby.info)
“Dengan status seperti ini kita mempunyai ruang yang lebih luas untuk bisa menjalin kerjasama. OECD ini memiliki data, statistik dan angka yang lengkap menyangkut perkembangan dunia, terutama perekonomian dunia. Mereka juga melakukan banyak sekali kajian-kajian kebijakan yang dilaksanakan di berbagai negara, negara maju dan negara berkembang, beserta keberhasilan dan kekurangannya,” kata Presiden SBY.
Dalam pertemuan dengan delegasi OECD, dibicarakan kerjasama bilateral antara Indonesia dengan OECD. “Kurang lebih dua minggu yang lalu saya juga diundang untuk menghadiri pertemuan KTT G 8 Plus 8 atau pertemuan puncak G 8 diperluas di Hokkaido, Jepang. Tentu saja mengundang Indonesia pada forum-forum terhormat seperti itu patut kita syukuri. Paling tidak Indonesia sudah masuk radar. Indonesia sudah dijadikan partner untuk membahas masalah-masalah perekonomian global, kerjasama, serta kemitraan global untuk menangani isu-isu aktual sekarang ini, seperti perkembangan ekonomi dunia yang mengalami perlambatan, isu tentang perubahan iklim, isu tentang krisis energi dan pangan,” SBY menjelaskan.
“Pada forum itu, Indonesia bisa memahami jalan pikiran negara-negara maju, negara-negara besar dan juga kita bersama-sama membahas kerjasama internasional seperti apa yang realitis yang kita lakukan, yang membawa manfaat bagi negara maju dan juga negara berkembang seperti Indonesia,” ujar SBY. “Khusus pertemuan saya dengan Sekjen OECD, assessment tentang perkembangan ekonomi kita hingga saat ini menurut laporan itu ada satu perbaikan yang signifikan menyangkut kinerja ekonomi kita. Kemudian dilihat juga pertumbuhan ekonomi, perkembangan investasi dan segi-segi lain dari makro ekonomi kita,” lanjutnya.
Presiden SBY telah membaca ringkasan dari laporan OECD tersebut. “Saya akui betul, meskipun kemajuannya nyata dan signifikan, tetapi hikmahnya masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan seperti terus menerus mengurangi kemiskinan dan pengangguran, membuat iklim investasi di Indonesia lebih bagus lagi, tentang kebijakan, regulasi dan lain-lain. Sebagaimana pula ini juga isu yang dihadapi negara-negara berkembang yang lain,” tambah SBY.
“OECD melakukan studi tentang isu-isu yang strategis seperti lingkungan, perdagangan, investasi, perpajakan, teknologi dan lain-lain. Dengan tawaran itu apalagi kalau kita bisa aktif dalam komite-komite yang mereka tawarkan untuk Indonesia bisa berpartisipasi dalam Development Centre, tentulah membawa manfaat bagi kita. Saudara ketahui bahwa pilihan ekonomi kita sekarang ini, dalam arti kebijakan dasar ekonomi kita, adalah Growth with Equity,” SBY menerangkan. “Bicara perkembangan ekonomi, dewasa ini sudah terintegrasi. Ekonomi Indonesia pun terintegrasi dengan perekonomian global. Oleh karena itu sambil kita terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita, kita juga menggalang ekonomi yang membawa keuntungan terbesar bagi negeri kita,” ujarnya.
Sementara untuk permasalahan equity, permasalahan keadilan, pemerataan ekonomi, permasalahan social safety net, lanjut Presiden SBY, menjadi perhatian penuh dari pemerintah Indonesia. “Kesimpulannya, bekerjasama dengan negara-negara sahabat, lembaga-lembaga internasional, forum-forum internasional seperti ASEAN, APEC, Forum Asia Timur, termasuk Forum G 8 yang diperluas termasuk OECD ini kita ambil manfaatnya untuk memberikan inspirasi bagi pengembangan kebijakan, regulasi kita dan pengelolaan perekonomian pada tingkat nasional maupun pada tingkat daerah,” tandas Presiden SBY. (osa)



