Berita Utama
Senin, 28 Juli 2008, 11:30:57 WIB
Presiden: Kredit Mikro Selamatkan Rakyat Miskin untuk Tidak Menjadi Lebih Miskin
Nusa Dua: Kredit mikro berkontribusi besar pada Millenium Development Goal untuk mengurangi kemiskinan. Selama lebih dari setengah abad, keuangan mikro telah menyelamatkan masyarakat miskin untuk tidak menjadi lebih miskin, karena keuangan mikro menyediakan pinjaman keuangan kecil bagi masyarakat miskin untuk memulai bisnis.Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya saat membuka Asia-Pacific Regional Microcredit Summit 2008 di Bali International Convention Centre, Senin (28/7) pagi. "Forum hari ini menyediakan kesempatan yang luas bagi kita untuk menurunkan kemiskinan. Melalui pertemuan ini, kita dapat muncul dengan cara yang lebih inovatif untuk mengurangi penghalang pemberantasan kemiskinan," ujar SBY.
Menurut Presiden, semakin naiknya harga minyak membuat masalah kemiskinan menjadi semakin luas dan semakin menakutkan. "Banyak pemerintahan memperbaiki rencana ekonomi mereka dan merendahkan harapan. Ini adalah ancaman potensial bagi stabiltas politik dan sosial ekonomi kita. Komunitas miskin seringkali adalah komunitas yang sering tidak puas, penuh dengan kefrustasian dan kemarahan. Itulah mengapa pada era globalisasi kita harus mengatasi kemiskinan bersama-sama untuk menjaga kepentingan masa depan," tambahnya.
"Mengapa keuangan mikro?" tanya Presiden SBY. "Karena hal itu berhasil. Jika Anda memiliki pendidikan dan modal yang terbatas tetapi Anda memiliki ide bagus serta memiliki keinginan untuk berbisnis, kredit mikro adalah satu-satunya alternatif. Di dunia perbankan, kurangnya kemampuan dan modal diterjemahkan sebagai resiko yang tinggi, khususnya pada sektor pertanian. Institusi keuangan mikro tidak melihat resiko. Mereka melihat kesempatan untuk komunitas dan untuk mereka sendiri," SBY menerangkan.
"Bank di daerah pedesaan pertama di Indonesia didirikan lebih dari 100 tahun yang lalu. Di awal abad ke-20, 13.000 institusi berbasis komunitas menyediakan pinjaman bagi perusahaan desa. Hari ini Indonesia memiliki lebih dari 50.000 institusi keuangan mikro. Namun 40 juta masyarakat Indonesia masih memiliki akses yang kurang untuk service keuangan," jelas SBY.
"Mereka tidak memiliki akses keuangan mikro, karena pertama, kebanyakan dari mereka tinggal di daerah terpencil tanpa akses pada institusi keuangan, bahkan institusi kredit mikro. Kita dibatasi oleh geografi dan terbatasnya infrastruktur. Kedua, kebanyakan institusi kredit mikro yang ada kekurangan akses modal yang cukup atau kemampuan teknik," ujar SBY. Pemerintah Indonesia menanggapi masalah tersebut secara serius. "Satu dari prioritas utama pemerintahan yang saya pimpin adalah pembangunan daerah pedesaan. Untuk itu kita perlu fokus pada mikro kredit di sektor pedesaan," jelas SBY. (osa)



