Berita Utama

SBY Menguji Kemampuan Peserta ASC

Presiden SBY  memberi sambutan saat  menerima peserta  Asia Science Camp 2008 di Istana Tapaksiring, Bali, hari Selasa (5/8) malam. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY memberi sambutan saat menerima peserta Asia Science Camp 2008 di Istana Tapaksiring, Bali, hari Selasa (5/8) malam. (foto: haryanto/presidensby.info)
Tapaksiring: Saat menerima peserta Asian Science Camp 2008 yang diselenggarakan di Istana Kepresidenan Tapaksiring, Bali, Selasa (5/8) malam, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sempat menguji kemampuan serta pengetahuan para peserta ASC 2008.

Presiden SBY menguji dengan mengajukan tiga pertanyaan seputar permasalahan yang dihadapi oleh seluruh umat manusia di muka bumi. Presiden akan meminta tiga peserta untuk menjawab satu pertanyaan, dan dewan juri yang terdiri dari Ketua Asian Science Camp ke 2, Yohanes Surya serta Rektor Universitas Gadjah Mada Soedjarwadi, akan memilih jawaban terbaik.

Pertanyaan pertama yang diajukan SBY adalah para peserta diminta untuk menyebutkan keunggulan-keunggulan serta kelemahan-kelemahan penggunaan tenaga matahari di Asia. Dengan cepat, puluhan peserta langsung mengangkat tangannya. Namun hanya terpilih tiga peserta yang berhak mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban terbaik diberikan oleh Mahasiswa Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia, Dimas Hokka. Dimas mengatakan bahwa keuntungan dari tenaga matahari adalah ramah lingkungan dan berlimpah terutama di Asia. "Namun, kelemahan tenaga surya di Asia adalah masalah dana. Funding belum kuat untuk mensuplai tenaga surya bagi seluruh Asia. Selain itu, solar panel membutuhkan lahan yang luas, sangat tidak efektif," katanya dengan tegas.

"Jika kalian menjadi pemenang Nobel, apa yang akan kalian sumbangkan untuk kesejahteraan Asia?" kata SBY mengajukan pertanyaan kedua. Setelah mendengarkan jawaban dari tiga orang peserta terpilih, maka para juri akhirnya memutuskan untuk memilih Putu Dyah Laksmi Dewi, siswi SMAN 1 Gianyar, Bali sebagai pemenang. Dyah mengatakan bahwa apabila ia memenangkan Nobel, maka ia akan berusaha untuk menyebarkan ilmu pengetahuan kepada seluruh generasi muda di Asia, karena ilmu pengetahuan dapat meningkatkan pembangunan bangsa-bangsa.

Pertanyaan ketiga, "Apakah sains dapat mengentaskan kemiskinan? Bagaimana caranya?" Rahmat Hidayatullah, mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang menjawab, "Saya sangat yakin sains dapat mengentaskan kemiskinan. Apabila sains dipublikasikan menjadi teknologi dan dikomersialisasikan serta dijual kepada negara lain, maka kita akan mendapatkan keuntungan," kata Rahmat. Selain itu, dengan sains, maka akan terbangun budaya meneliti, dimana semua orang akan terus berusaha mencari solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi.

Presiden SBY puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta. Para peserta pun bahagia karena mendapatkan hadiah bingkisan dari Presiden SBY. (mit)