Berita Utama

Video Conference

Pemimpin Troika dan Sekjen PBB Penting Bagi Suksesnya Negosiasi Perubahan Iklim

Presiden SBY hari Jumat (12/9) malam didampingi Menlu Hassan Wirajuda dan Meneg LH Rachmat Witoelar, melakukan video conference dengan Sekjen PBB, PM Polandia dan PM Denmark, di Istana Negara. (foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY hari Jumat (12/9) malam didampingi Menlu Hassan Wirajuda dan Meneg LH Rachmat Witoelar, melakukan video conference dengan Sekjen PBB, PM Polandia dan PM Denmark, di Istana Negara. (foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa pemimpin Troika dan Sekjen PBB memiliki peran penting untuk memastikan kesuksesan negosiasi perubahan iklim. "Setelah negosiasi dimulai pada Januari 2009, akan hanya ada empat babak termasuk COP-15 di Copenhagen. Konsesus global itu tidak akan mudah dicapai. Peran pemimpin internasional akan menjadi penting untuk memecahkan kebuntuan dan mendorong tercapainya jalan keluar," kata Presiden SBY dalam video conference yang digelar bersama Sekjen PBB, PM Polandia dan PM Denmark di Istana Negara, Jumat (12/9) malam.

"Kita melihat harapan pada level politik di luar proses UNFCCC. G-8 di Hokkaido telah setuju untuk mempertimbangkan dan mengadopso sekurang-kurangnya 50 persen pengurangan emisi global pada 2050. Di Amerika, dua calon presiden telah mengekspresikan niat mereka untuk serius dalam menanggapi isu perubahan iklim," ujar SBY.

Sementara itu negara-negara seperti China, Korea Selatan, India dan negara-negara ekonomi besar lainnya, termasuk Indonesia, telah membangun strategi iklim nasional. "Sektor swasta juga sangat aktif dalam isu perubahan iklim dan ingin sekali menjadi bagian dari solusi. Kita harus memastikan bahwa itu semua mengarah pada konsensus global 2012 dibawah UNFCCC," SBY menegaskan.

Presiden SBY mengimbau agar negara-negara maju dapat bekerjasama dengan negara berkembang. Presiden SBY mencontohkan hubungan kemitraan yang dibuat Indonesia dengan Australia dan Jerman seperti Australian Forest Carbon Partnership dan Indonesia-German Cooperation on Forest dan Climate. "Proyek-proyek ini didesain untuk memperbaiki manajemen hutan di Indonesia dan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Ini adalah contoh kerjasama yang konstruktif antara negara maju dan negara berkembang yang dapat dicontoh pada kerjasama Troika," tandas SBY. (osa)