Berita Utama
Minggu, 28 September 2008, 22:32:40 WIB
Presiden SBY:
"Indonesia Konsisten Menyikapi Masalah Nuklir Iran"
Jakarta: Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat, Sabtu (27/9) waktu setempat atau Minggu WIB, mengesahkan Rancangan Resolusi 1835 yang mendesak kembali Iran untuk menangguhkan kerja bahan bakar nuklirnya. Namun, resolusi itu tidak memberikan sanksi baru, dan hanya menegaskan kembali sanksi yang ada.“Saya terus menerus mendapat informasi dari Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda di New York, memang awalnya saya mengarahkan kemungkinan Indonesia posisi abstain, sama dengan resolusi sebelumnya, 14 lawan 1. Tapi setelah dibacakan pada saya draftnya, kalau kita abstain dan draft itu keluar justru ada elemen-elemen dalam bahasa saya, membahayakan, karena resolusi yang baru ini tidak ada lagi negosiasi dan perundingan. Kalau itu tidak ada, setiap saat bisa ada penggunaan pasal tujuh (chapter seven) dari piagam PBB , berarti penggunaan kekuatan militer,” ujar Presiden SBY
Demikian dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai berbuka puasa bersama wartawan di Istana Negara, Jakarta. Minggu (28/9) malam. Selanjutnya Presioden menambahkan, "Hal kedua yang saya anggap kita tidak bisa menerima, saudara tahu bahwa negosiasi antara Iran dengan anggota tetap DK PBB seperti Amerika, Inggris, Perancis, China, Jerman. Kita lihat mereka negosiasi sendiri, hasilnya dilaporkan pada DK PBB. Dan DK PBB sepertinya hanya menerima hasil dari negosiasi itu. Saya melihat kedua hal ini krusial, dan kalau kita hanya abstain dan muncul, mungkin akan memberi persoalan baru. Bukan hanya pada Iran tapi pada kawasan di Timur Tengah, bahkan itu menyulitkan perdamaian dan keamanan dunia,” jelas Presiden SBY.
“Saya sudah berkali-kali bertemu dengan Presiden Iran Ahmadinejad, dan saya konsisten kalau bertemu beliau. Indonesia tidak akan pernah setuju penggunaan kekuatan militer, kekerasan dalam menyelesaikan isu nukllr Iran. Kami memilih langkah-langkah diplomasi, perundingan dan negosiasi, dan saya sampaikan pada Ahmadinejad bahwa Indonesia berpendapat negosiasi itu seharusnya enklusif bukan hanya Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, China dengan Iran, tapi melibatkan negara-negara lain, bahkan Indonesia menawarkan diri kalau memang bisa masuk di situ supaya lebih balance,” kata Presiden SBY.
“Saya juga sampaikan pada Ahmadinejad supaya tidak bolak balik harus disidangkan di DK dan Indonesia terus bekerja sangat keras untuk menghadapi masalah itu, saya minta Iran betul-betul kooperatif menjalin kerjasama yang baik dengan IAEA (Internasional Atomic Energi Agency). Karena yang mengetahui permasalahan teknis IAEA. Atas dasar itulah saya perintahkan Menlu berkonsultasi dengan semua pihak termasuk Menlu Iran tentang duduk persoalan yang sebenarnya. Sebelumnya saya mendengar Menlu Iran mengatakan resolusi itu kan biasa saja, tidak ada sanksi baru. Tapi diingatkan oleh Menlu Hassan Wirajuda, lihat ada dua point yang tidak ada begitu, baru sadar. Singkat kata kita bekerja all out dalam 24 jam ini, dan allhamdulillah, resolusi yang baru itu ada amandemen-amandemen yang sepenuhnya disumbang oleh Indonesia. Dan yang saya suka, Iran setelah resolusi keluar mengeluarkan statement yang intinya juga berterima kasih kepada Indonesia , “ jelas Presiden SBY.
“ Saya baru terima kawat ini dari New York, tentang bagaimana sikap Iran. Saya bacakan karena agak panjang ini. Setelah pemungutan suara atas rancangan resolusi di DK PBB tersebut, Dubes Iran secara khusus mendekati delegasi Indonesia dan menyampaikan penghargaan, khususnya terhadap pernyataan Indonesia sebelum pemungutan suara. Jadi saya minta sebelum ada vote, ada penjelasan dari kita yang dinilainya sangat seimbang dan menekankan pada proses penyelesaian politik. Pihaknya menyampaikan dua paragraf usulan Indonesia dalam resolusi 1835 tersebut, yang akan digunakan pihak Iran sebagai pijakan untuk menekan, mengenai perlunya segera dilangsungkan kembali proses perundingan politik. Sejalan dengan butir-butir pembicaraan saya dengan Ahmadinejad kita konsisten, konsekuen. Ini harga diri kita. Dunia melihat kita, apa Indonesia konsisten dalam hal ini. Oleh karena itu, kita tidak boleh terombang-ambing kehilangan prinsip dasar dalam menyikapi nuklir Iran ,” kata Presiden SBY.



