Berita Utama
Sabtu, 29 November 2008, 21:30:53 WIB
SBY Terima Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara
Presiden SBY dan Ibu Negara foto bersama anggota Forum Silaturrahmi Keraton se-Nusantara di Istana Negara, Sabtu (29/11) malam. (foto: abror/presidensby.info)
Tampak hadir mendampingi Presiden SBY dalam acara tersebut antara lain Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menbudpar Jero Wacik, Mendagri Mardiyanto dan Seskab Sudi Silalahi, Acara ini juga dihadiri raja-raja dari Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Timur - Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Maluku dan Papua Barat.
Presiden SBY berharap kepada seluruh peserta yang hadir untuk melestarikan dan membangun peradaban bangsa, termasuk di dalamnya adalah budaya, adat, tradisi dan aspek-aspek lainnya. SBY juga berpesan kepada para peserta untuk memberikan kontribusi langsung di bidang ekonomi, misalnya mengembangkan ekonomi yang berbasiskan budaya.
”Tugas kita, peran kita, ke depan adalah, bagaimana kita membangun , menjadikan Indonesia ini, menjadi rumah bersama, hidup dalam hamoni dan kerukuan di tengah-tengah perbedaan, dan bagaimana kita semua dengan kerja keras dan kebersamaan, membangun Indonesia, menuju negara yang maju, bermartabat dan sejahtera di abad ke 21 ini. Insyaallah kita bisa, Indonesia bisa!,” kata Presiden SBY memberikan semangat kepada seluruh peserta.
Sebelumnya, Ketua Umum FSKN, Raja Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pamecutan IX dari Puri Agung Denpasar, Bali, dalam laporannya mengemukakan, tujuan dibentuknya forum ini adalah untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya keraton, puri, puro, istana dan panembahan di seluruh Nusantara.
“Sekarang sebagai pusat pelestarian dan pengembangan budaya nusantara, dan menjadikan budaya nusantara sebagai sumber kepribadian bangsa, merekatkan persatuan dan kesatuan negara kesatuan Republik Indonesia. Ribuan pulau dan kebhinekaan budaya, adalah aset kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya, yang perlu dilestarikan, dipertahankan dan dikembangkan sebagai modal untuk membangun bangsa,” kata Ida Tjokorda. Namun, menurutnya, saat ini kendala yang dihadapi adalah karena sistem politik, produk undang-undang dan sistem demokrasi, keraton di daerah-daerah makin tercerabut dari akar budaya sendiri. (mit)



