Berita Utama

Presiden dan Ibu Ani di Tawangmangu

"Dunia Sebut Indonesia Mega Biodiversity"

Presiden SBY dan Ibu Ani serta Menkes meninjau Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional  Depkes, di Tawangmangu, Karanganyar, Jateng, hari Minggu (8/3) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY dan Ibu Ani serta Menkes meninjau Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Depkes, di Tawangmangu, Karanganyar, Jateng, hari Minggu (8/3) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Tawangmangu: Hari Minggu (8/3) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani meninjau Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) Departemen Kesehatan di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Presiden SBY dan Ibu Ani meninjau kebun riset Tlogodlingo yang berisi tanaman berkhasiat obat.

"Negara kita ini, negara yang sangat kaya dengan tumbuh-tumbuhan dan tanam-tanaman untuk herbal, jamu dan obat-obat tradisional. Dunia itu menyebut Indonesia sebagai mega biodiversity. Sayang sekali kalau kekayaan alam begini tidak kita olah dan kembangkan," ujar Presiden SBY. "Pertama menjadi bagian dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dan juga bisa diolah menjadi sumber perekonomian yang mendatangkan penghasilan," lanjutnya.

"Oleh karena itu diperlukan penelitian dan perkembangan, Litbang. Diperlukan teknologi untuk mengolahnya. Diperlukan industri-industri kecil dan juga mainstream industry yang kemudian dijual. Dijual didalam negeri maupun di luar negeri. Saya memiliki keyakinan bahwa negara kita bisa mengembangkan," kata SBY.

Kepada Menkes, Presiden SBY berpesan agar dilanjutkan Litbang untuk tanam-tanaman yang menghasilkan obat dan herbal ini. "Kedua, setelah terbukti betul-betul berkhasiat segera dikomunikasikan dialirkan kepada industri agar bisa dikembangkan menjadi sumber perekonomian baru. Ketiga, saya meminta petani untuk terus mengembangkan sebagai sumber panghasilan yang baru," SBY menjelaskan.

"Siapa tahu barangkali Tuhan mentakdirkan Indonesia bisa menyumbang obat untuk AIDS, misalnya. Nah kalau ada jalan menuju kesitu, kita bikin proyek khusus. Pemerintah akan memberikan pendanaan yang diperlukan karena ini proyek penting. Kalau bisa membantu bangsa dan dunia kita untuk penyembuhan atau pengobatan kanker atau AIDS, itu terobosan yang luar biasa," paparnya.

B2P2TO-OT telah membina 150 petani tanaman obat. Selain membina petani, balai ini juga menyelenggarakan program wisata ilmiah dalam bentuk kegiatan pembelajaran IPTEK tanaman obat yang disinergiskan dengan aspek wisata. Minat masyarakat terhadap program ini cukup tinggi.

Tidak kurang dari sepuluh ribu tamu dari Aceh sampai Papua berkunjung ke balai ini, mulai dari tingkat SD, sekolah menengah, perguruan tinggi, ibu-ibu PKK dan Dharman Wanita. B2P2TO-OT bermula dari kebun koleksi tanaman berkhasiat obat bernama Usaha Tanaman Obat-obatan Lawu Complex Hortus Medicus Tawangmangu yang dirintis alm. R.M. Santosa dibantu Prof. DR. Sutarman.

Tanggal 1 April 1948, Hortus Medicus Tawangmangu resmi berdiri sebagai Instansi Pemerintah. Tahun 1978 berdasarkan Surat Keputusan Menkes No. 149/1978 balai ini menjadi Balai Penelitian. Tahun 2006, Balai ini meningkat status kelembagaannya menjadi B2P2TO-OT. (osa)