Berita Utama

"Kita Tak Boleh Siarkan Berita Yang Tak Akurat"

Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terus mengikuti perkembangan kegiatan tanggap darurat pasca gempa Sumatera Barat, baik melalui menteri, pejabat pemerintahan pusat maupun daerah, juga dari media dalam negeri maupun luar negeri. Tapi Presiden menekankan pentingnya sinkronisasi data mengenai jumlah korban jiwa di lokasi bencana.

Dalam rapat terbatas evaluasi tanggap darurat serta rekonstruksi dan rehabilitasi Sumatera Barat di Kantor Presiden hari Senin (5/10) sore, Presiden mengatakan, "saya menyimak pemberitaan, termasuk pemberitaa dari media asing. Saya ikut ikuti running text, cuplikan-cuplikan pemberitaan di televisi. Ada yang harus disinkronkan, ditata. Gubernur Jambi melaporkan, jumlah warga yang meninggal dan hilang adalah 950 jiwa, dan jumlah korban luka berat serta luka sedang sekitar 2.500 orang. Tetapi dalam running text yang ditayangkan di program berita CNN, dikatakan bahwa jumlah korban yang meninggal sekitar 4.000 warga," kata SBY.

"Saya minta dicek. Saya minta menteri terkait aktif, BNPB aktif mencari dari mana sumbernya. Kita tidak boleh menyiarkan berita yang tidak akurat. Nanti membuat bingung antara masyarakat kita sendiri dan masyarakat dunia," kata SBY. Presiden minta pemerintah Sumatera Barat seakurat dan sekomunikatif mungkin dengan para wartawan, baik wartawan dalam negeri maupun wartawan luar negeri. (mit)