Berita Utama
Senin, 30 November 2009, 10:50:07 WIB
Presiden:
Mari Terus Kita Tingkatkan Perlindungan Terhadap Perempuan
Presiden SBY saat memberi sambutan peringatan 10 Tahun Komnas Perempuan di Gedung BPPT, Senin (30/11) pagi. (foto: cahyo/presidensby.info)
“Kita sepakat ketiga faktor itulah yang penting. Yang kita perlukan bukan hanya kebijakan dan strategi, meskipun itu penting, tetapi juga langkah-langkah operasional bahkan yang praktis, yang bisa segera dilakukan,” kata Presiden SBY saat menghadiri puncak peringatan 10 Tahun Komnas Perempuan di Gedung BPPT, Senin (30/11) pagi.
Presiden SBY meringkas misi negara terhadap kaum perempuan dalam tiga hal. “Pertama, mari terus kita tingkatkan perlindungan terhadap kaum perempuan dari kekerasan, ketidakadilan, pelanggaran-pelanggaran hak asasinya. Jangan dianggap sudah baik-baik saja, belum. Harus terus kita pastikan perlindungan yang tulus untuk membantu mereka di seluruh Indonesia dalam segmen kehidupan apa saja. Kedua, mari kita terus memajukan dan memberdayakan kaum perempuan menjadi human capital,” SBY menegaskan.
“Ketiga, kita memberikan kesempatan dan peluang kepada kaum perempuan untuk memilih dan berperan. Mari kita berikan ruang dan peluang mereka untuk memilih profesi apa dan kemudian kita hormati mereka. Banyak peraturan pemerintah di undang-undang yang kita anggap belum menunjukkan keadilan gender, terhadap undang-undang kewarganegaraan telah kita perbaiki tiga tahun lalu dan sekarang siapapun di negeri ini, apapun agamanya, apapun rasnya, sukunya, daerahnya, semuanya sama, setara dan sederajat yang harus kita junjung tinggi dan hormati,” SBY menjelaskan.
Presiden menegaskan bahwa yang menjalankan tugas besar tersebut adalah negara, masyarakat luas, dan perempuan yang sudah lebih berdaya. “Indonesia telah mengadopsi nilai-nilai universal tentang hak-hak asasi manusia dan hak kaum perempuan. Tapi ingat, disamping kita harus memedomani dan menjalankan nilai universal, ada nilai lokal, nilai adat, dan nilai agama. Tugas kita, mari kita bikin semuanya itu harmonis satu sama lain, tidak harus konflik, tidak harus berbenturan satu sama lain. Saya punya keyakinan, ada pertemuan yang indah nilai universal dan nilai lokal karena pada dasarnya tentu menjunjung tinggi nilai fundamental dari manusia termasuk kaum perempuan,” ujar SBY.
Terhadap masa lalu, Nelson Mandela pernah mengatakan, no future without forgiveness. “Kita melangkah ke depan tidak boleh dengan dendam, dengan luka berkepanjangan. Tetapi saya berpendapat, we should not forget, kita tidak boleh melupakan masa lalu agar yang menjadi korban masa lalu kita berikan keadilan untuk masa kini dan masa depan, serta jangan terjadi lagi kasus-kasus pelanggaran ham dan kesalahan serupa di masa mendatang,” SBY menandaskan. (osa)



