Berita Utama

Peresmian Pembangunan Serat Optik Indonesia Bagian Timur

Presiden SBY meresmkan program Palapa Ring yang menghubungkan Mataram hingga Kupang, di Istana Negara, Senin (30/11) siang.(foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY meresmkan program Palapa Ring yang menghubungkan Mataram hingga Kupang, di Istana Negara, Senin (30/11) siang.(foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan awal dimulainya pembangunan fisik program penggelaran serat optik yang menghubungkan Mataram hingga Kupang, serta meresmikan mulainya operasi program Desa Berdering, Senin (30/11) siang di Istana Negara. Peresmian ini berlangsung dengan menggunakan fasilitas video conference yang menghubungkan Presiden SBY serta Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dan Gubernur NTB Muhammad Zainul Madjid.

Pembangunan backbone Mataram - Kupang Cable System ini merupakan konfigurasi dari program Palapa Ring untuk mempercepat pembangunan kawasan Indonesia bagian Timur. Palapa Ring merupakan megaproyek pembangunan backbone serat optik yang diinisiasi pemerintah, terdiri atas 35.280 Km serat optik bawah laut dan 21.708 Km serat optik bawah tanah, dan 7 cincin meliputi 33 provinsi dan 460 kabupaten.

Jaringan ini akan terintegrasi dengan jaringan yang telah ada milik penyelenggara jaringan telekomunikasi di Indonesia bagian Barat. Program Palapa Ring ini juga merupakan salah satu dari 7 program yang telah ditetapkan oleh Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional yang dibentuk dan diketuai oleh Presiden RI melalui Surat Keputusan Presiden RI No 20 Tahun 2006.

Program ini merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah untuk segera memperkecil kesenjangan informasi (digital divide), sekitar 25.000 desa di seluruh Indonesia pada akhir Januari 2009 atau sebanyak 31.824 desa pada akhir tahun 2010. Momentum peresmian Palapa Ring dan mulai beroperasinya telepon berdering ini demikian strategisnya, karena kedua program tersebut termasuk target utama capaian program 100 hari Menteri Komunikasi dan Informatika

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengungkapkan, kebutuhan pembangunan backbone serat optik di kawasan Indonesia Timur sangat mendesak. "Backbone serat optik tersebut diharapkan dapat menjadi solusi yang komprehensif terhadap keterbatasan kapasitas dan keterisolasian kawasan Indonesia Timur dari jangkauan telekomunikasi," ia menjelaskan.

Menurut Presiden SBY, keterhubungan antarnegara dan keterhubungan di dalam negara sangat penting. "Agar dengan connectivity itu semua negara mendapatkan peluang yang lebih besar lagi, dengan peluang yang lebih besar lagi, diharapkan dapat membangun perekonomian lebih baik lagi," ujar Presiden.

Keterhubungan global, lanjut SBY, itu cakupannya luas. Bisa melalui media transportasi darat, laut dan udara, juga melalui telekomunikasi. "Persis seperti apa yang kita lakukan pada hari ini, meresmikan sejumlah infrastruktur yang mendukung connectivity ini," SBY menambahkan.

Bagi Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, keterhubungan menjadi sangat penting. "idak baik misalnya Jakarta atau kota-kota besar tersambung dengan dunia luar tapi diantara kita, diantara pulau-pulau besar, tidak saling terhubung. Itu tidak boleh dan tidak sepatutnya. Mengapa? Yang mendapatkan peluang, hanya yang terhubung itu saja, sedangkan provinsi yang tidak terhubung lantas tidak maju atau tertinggal dari yang lain. Itu tentu bukan tujuan kita," ujar SBY. Presiden SBY berharap, pembangunan infrastruktur telekomunikasi ini dapat mengembangkan pembangunan di bidang pendidikan, pemerintahan dan dunia usaha.

Usai memberikan sambutan, Presiden SBY meresmikan pembangunan fisik program penggelaran serat optik dan pengoperasian program Desa Berdering dengan menandatangani prasasti. Presiden juga berkesempatan melakukan video conference dengan penduduk di daerah Mataram, NTB dengan menggunakan jaringan serat optik yang sudah tersedia. (mit)