Berita Utama

Presiden: Kerjasama ASEAN-China Jangan Bawa Masalah Berlebihan Bagi Perekonomian Kita

Presiden SBY memimpin pertemuan bersama para pimpinan lembaga  negara,  di Istana Bogor, Jabar hari Kamis (21/1) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Presiden SBY memimpin pertemuan bersama para pimpinan lembaga negara, di Istana Bogor, Jabar hari Kamis (21/1) pagi. (foto: haryanto/presidensby.info)
Bogor: Kerjasama perdagangan bebas dan investasi antara negara-negara ASEAN dengan Republik Rakyat China, jangan sampai membawa masalah yang berlebihan pada masyarakat dan pada perekonomian kita, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam keterangan persnya, usai bertemu para pimpinan lembaga negara hari Kamis (21/1) pagi, di Istana Bogor. "Kita harus lindungi kepentingan rakyat dan ekonomi kita," tegas Presiden.

Menurut SBY, pembahasan perdagangan bebas sudah dimulai sejak tahun 1994 pada pertemuan APEC di Istana Bogor, yang dikenal dengan Bogor Goals. "Dalam perkembangannya dilanjutkan pertemuan di Bali tahun 2003 pada puncak ASEAN plus Three serta mitra ASEAN yang lain. Pembahasan berlanjut lagi, dan akhirnya terbangunlah suatu kesepakatan untuk menjalin kerjasama yang disebut dengan perdagangan bebas antara ASEAN dengan China," ujar SBY.

Dalam perkembangannya, tambah SBY, perdagangan bebas ini menjadi isu hangat di tengah-tengah masyarakat sekarang ini, dimana ada pemikiran untuk tidak begitu diimplementasikan apa yang telah menjadi kesepakatan antara ASEAN dan China. "Maka pandangan pemerintah sudah amat gamblang, dan kita juga sudah berkomunikasi dengan DPR-RI, bahwa setelah kita lihat dan evaluasi kesiapan kita sendiri untuk menjalankan perdagangan bebas itu, memang diperlukan pembicaraan -pembicaraan tertentu. Tujuannya tiada lain jangan sampai niat yang baik dan kesepakatan yang mulia ini membawa masalah yang berlebihan kepada masyarakat kita dan pada perekonomian kita," jelasnya.

"Tentu saja pembicaraan ini harus dilaksanakan dengan baik. Indonesia tidak ingin dianggap tidak menyepakati apa yang telah dirumuskan oleh sepuluh anggota ASEAN, apalagi mereka tahu Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan bahkan kita angggota G20. Kita pun tetap memprakarsai pembicaran dengan pihak RRC tentang ini," tambah SBY.

Oleh karena itu, lanjut SBY, pemerintah akan mengelola permasalahan ini dengan sebaiknya-baiknya. Di satu sisi kepentingan rakyat harus kita lindungi, di sisi lain kita harus memperkuat dan mempersiapkan lebih baik lagi elemen-elemen di dalam negeri kita, dan di sisi lainnya lagi kita tetap menjalin kerjasama sesama negara ASEAN maupunASEAN dengan mitra-mitra ekonominya," tegas SBY.

Hadir dalam pertemuan komunikasi itu antara lain Ketua MPR-RI Taufik Kiemas, Ketua DPR-RI Marzuki Alie, Ketua DPD-RI Irman Gusman, Ketua Maahkamah Konstitusi Mahfud MD, Ketua Mahkamah Agung Arifin Tumpa, Ketua Komisi Yudisial Busro Muqadas, dan Ketua BPK Hadi Purnomo. (win)