Berita Utama

Rapimnas TNI

Presiden: Penglihatan Terhadap Geopolitik Jangan Gunakan Mindset Perang Dingin

Presiden SBY foto bersama para pimpinan TNI pada Rapimnas TNI  di Aula Gedung Gatot Soebroto, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, hari Senin (25/1) pagi.(foto: abror/presidensby.info)
Presiden SBY foto bersama para pimpinan TNI pada Rapimnas TNI di Aula Gedung Gatot Soebroto, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, hari Senin (25/1) pagi.(foto: abror/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Senin (25/1) pagi memberikan pengarahan pada Rapat Pimpinan Nasional Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Aula Gedung Gatot Soebroto, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Rapimnas yang mengangkat tema Dengan Meningkatkan Kemampuan Trimatra Terpadu, TNI Siap Menegakkan Kedaulatan Negara, Menjaga Keutuhan Wilayah NKRI dan Keselamatan Bangsa tersebut, juga dihadiri sekitar 150 perwira tinggi, perwira menengah dari lingkungan Markas Besar TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Laut dan TNI Angakatan Darat.

Dalam pengarahannya, Presiden SBY menjelaskan tentang perkembangan geopolitik dan strategic environment pada tingkat global yang tidak bisa dipisahkan dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. "Perlu bagi para perwira senior untuk memahami, guna keperluan pembinaan tentara kita, sekaligus untuk doktrin, strategi, taktik termasuk pendidikan dan pelatihan. Karena semua itu memiliki kaitan dan tugas-tugas pertahanan dan kemaanan negara, baik itu bersifat operasi militer untuk perang maupun operasi militer selain perang," jelas SBY.

SBY menjelaskan, saat ini dunia sudah menjadi dunia yang multipolar. "Sekarang muncul bahwa kita kembali seperti abad ke 15, bahwa dunia adalah multipolar. Konon ada 3 kutub kekuatan dunia, yaitu Amerika Serikat, Republik Rakyat Cina dan kawasan Eropa yang sudah menyatu menjadi Uni Eropa," jelas SBY. Ada juga teori lain yang mengatakan bahwa disampig ketiga kutub itu, tumbuh emerging economies seperti Brazil, Rusia, India, China, Indonesia dan Afrika Selatan.

Presiden SBY mengangkat hal ini agar para perwira memiiliki ruang untuk analisa yang lengkap, luas dan fleksibel. "Jangan sampai penglihatan tentang geopolitik masih menggunakan mindset perang dingin, ataupun mindset ketika dunia belum mengalami krisis. Tolong dimutakhirkan cara pandang Saudara dan juga cara-cara memahami dunia yang tengah dan terus berubah. Itu yang pertama," jelas SBY.

"Yang kedua mengenai tantangan-tantangan dan ancaman-ancaman apa saja terhadap keamanan di era geopolitik. Yang disebut ancaman masih berkisar pada peace and security, perdamaian dan keamanan Timur Tengah. Kita belum bisa mengetahui ending yang pasti dari peperangan yang ada di Irak, Afghanistan kemudian Palestina. Banyak pihak mengatakan dalam 5 - 10 tahun mendatang, kawasan itu menjadi ancaman international peace. Kedua, benturan antar peradaban, jangan kita terus berhadap-hadapan bersaing antara satu peradaban, termasuk dunia Islam dengan Barat, dan kita harus belajar hidup berdampingan secara damai," papar SBY.

Sedangkan yang ketiga adalah sumber konflik tidak lagi seputar ideologi. "Sumber konflik di masa depan adalah persaingan diantara negara-negara di dalam mendapatkan akses terhadap pangan, energi dan air," paparnya. Tak hanya itu, ketidakseimbangan ekonomi global, munculnya penyakit - penyakit menular yang baru serta perubahan iklim juga disebutkan oleh Presiden SBY sebagai ancaman. "Enam hal itulah yang paling tidak, kita bisa sebut sebagai sumber dan jenis ancaman global, semua memiliki kaitan ataupun operasi dengan keamanan dengan arti yang luas," jelas SBY.

Berkaitan dengan hal itu, Presiden SBY berpesan kepada seluruh jajaran TNI untuk terus menciptakan lingkungan dalam negeri yang kondusif untuk pembangunan, memiliki daya antisipasi strategis dan terus memingkatkan postur. "Dalam rangka menghadapi ancaman global, harus memiliki daya antisipasi strategis, cara pandang atau midnset. Dengan demikian akan selalu bisa menghadapi tantangan - tantangan itu, singkatnya, jangan sampai merasa tidak tahu, merasa terlambat mengetahui bahwa dunia berubah dengan segala tantangan - tantangannya. Saudara harus terus menerus meningkatkan postur. Harus semakin handal, semakin modern, makin tangguh, kredibel. Sekaligus peningkatan kemampuan dan kesiagaan," papar SBY.

Presiden SBY juga berpesan agar TNI terus mennyukeskan RPJMN tahun 2009 - 2014, terutama yang berkaitan dengan tugas pokok TNI. "TNI juga harus terus melakukan modernisasi dan pembangunan kekuatan yang terarah, terencana, sesuai dengan hakekat ancaman, kondisis geografi, kemampuan negara serta perkembangan dunia militer. Kemudian, teruslah tingkatkan kesejahteraan prajurit dengan keluarganya. karena kemenangan sebuah peperangan ditentukan oleh 2 hal, adalah semangat, keyakinan dan kesediaan untuk berperang dari para prajurit, dan yang kedua adalah tingkat kesejahteraan dalam arti luas," ujar SBY.

Usai memberikan pengarahan, Presiden SBY beserta seluruh rombongan melakukan peinjauan ke pameran alat - alat pertahanan yang telah disiapkan di lapangan. Tampak hadir mendampingi Presiden SBY antara lain Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyato, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Riset dan Teknologi Suharna Surapranata dan Menteri Keuangan Sri Mulyai Indrawati. (mit)