Berita Utama
Kamis, 10 Juni 2010, 21:19:09 WIB
Kolaborasi Perajin, Industri, dan Pemerintah Penting Bagi Keberlangsungan Ekonomi Kreatif
Jakarta: Ekonomi kreatif penting karena dapat menjawab tantangan permasalahan jangka pendek dan menengah yang sedang dihadapi Indonesia. Untuk perlu kerjasama segitiga antara perajin, dunia industri, dan pemerintah. Hal ini dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika membuka Pekan Raya Jakarta ke-43 tahun 2010 di arena PRJ Kemayoran, Kamis (10/6) malam.Pemerintah, ujar Presiden SBY, telah menetapkan rencana pengembangan 14 subsektor industri kreatif 2009-2025. "Cetak biru ekonomi kreatif itu berisi serangkaian program aksi yang ditujukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ekonomi dan industri nasional," SBY menjelaskan .
Terkait akan hal itu, kolaborasi segitiga antara perajin, dunia industri, dan pemerintah harus ditingkatkan. "Ketiganya diperlukan untuk menjamin keberlangsungan ekonomi kreatif di tengah-tengah persaingan ekonomi global," Presiden menegaskan.
Selain itu, melalui ekonomi kreatif, kemampuan dalam bidang ekonomi dan sosial budaya juga bisa diperluas. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai bentuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM). "Perkembangan ini akan menghasilkan lapangan kerja baru, enterpreneur baru, dan investasi baru, yang nantinya akan membantu gerak perekonomian dalam sebuah produktivitas dan optimisme yang lebih baik," ujar SBY.
Untuk mencapai hal tersebut, lanjut SBY, kemampuan teknologi yang tidak saja tepat guna dan pro green economy, namun juga tetap berbasis tradisi budaya dan kreatifitas bangsa harus terus ditingkatkan.
Presiden mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memberdayakan potensi yang dimiliki untuk mengembangkan ekonomi kreatif dan meningkatkan kesejahteraan semua. "Saya bangga kepada saudara-saudara yang telah melakukan inovasi dan kreasi," puji SBY.
Selain itu, SBY juga mengimbau kepada pihak perbankan untuk dapat memberikan kemudahan pada akses permodalan bagi pengusaha kecil dan menengah. Sementara, kepada pengusaha dan pemilik modal, Presiden mengajak untuk terus meningkatkan investasi di Indonesia.
Sebelumnya, Presiden mengatakan bahwa PRJ tahun 2010 ini diakui sebagai sebuah ajang pameran terbesar di Asia Tenggara. "Ini adalah pameran terbesar, yang ditandai dengan peningkatan jumlah pengunjung, jumlah peserta pameran, kualitas penyelenggara, dan nilai transaksi yang dihasilkan," ujar SBY.
Pada tahun 2008, peserta PRJ sejumlah 2.760 dan nilai transaksi Rp 2,1 triliun, tahun 2009 menjadi 2.874 peserta dan nilai transaksi Rp 2,6 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa PRJ dapat menjadi sarana promosi dan pemasaran yang efektif. "Peningkatan nilai transaksi menjadi barometer penting tumbuhnya investasi perekonomian nasional," Presiden menambahkan.
Selain itu, PRJ diharapkan menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan budaya Indonesia. "Kombinasi dan integrasi event ini diharapkan menjadi faktor pendorong bagi tumbuhnya iklim investasi yang tidak hanya berskala nasional tetapi juga internasional," kata Presiden.
Kepada PT Jakarta Internasional Expo, Presiden berpesan agar terus meningkatkan kualitas dan penataan penyelenggaraan yang makin baik dan berdaya saing. "Ciptakan inovasi dengan memadukan penerapan teknologi maju dan warisan budaya lokal khas Indonesia," SBY menandaskan.
Di akhir sambutannya, Presiden mengajak seluruh masyarakat untuk beramai-ramai mengunjungi PRJ dan berbelanja sesuai dengan kebutuhan. (yun)



