Berita Utama
Kamis, 5 Agustus 2010, 16:44:03 WIB
Hatta Rajasa:
Subsidi Akan Terus Diberikan, yang Tidak Tepat Sasaran Dibenahi
Bogor: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sering mengatakan, untuk menekan angka kemiskinan, diawali dengan strategi pembangunan nasional yang bertumpu pada triple track strategy, yaitu pro growth, pro job, dan pro poor. Pro growth dengan mendorong pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas. Setiap pertumbuhan melahirkan lapangan-lapangan kerja karena didorong oleh investasi dan ekspor yang tinggi. Hal ini dikatakan Menko Perekonomian Hatta Radjasa dalam keterangan persnya di sela-sela rehat Rapat Kerja yang dilaksanakan di Istana Bogor, Kamis (5/8) sore."Oleh sebab itu, triple track strategy ini adalah merupakan satu strategi kita," ujar Hatta. Apabila agenda APBN dibedah, lanjut Hatta, maka ada yang disebut dengan subsidi. "Artinya kita pro kepada poor, yaitu ada program-program subsidi, ada program-program yang biasa disebut Presiden memberikan pancing, memberikan kail, ikan, atau perahu," Hatta menjelaskan. Bagi yang sangat tidak berdaya akan diberikan ikannya. Perlahan dinaikkan dengan memberikan kailnya. Kemudian, terus dinaikkan dengan memberikan perahunya.
Hatta juga menegaskan bahwa Presiden SBY selalu mengatakan negara atau pemerintah tetap akan memberikan subsidi kepada masyarakat yang tidak mampu. Akan tetapi yang harus dikelola adalah subsidi yang tidak tepat sasaran. "Ini harus dibenahi karena akan menimbulkan ketidakadilan," Hatta menegaskan.
Menurut Hatta, hal ini karena sebagian besar dana tersebut yang harusnya dapat dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur, untuk pendidikan dan kesehatan, terserap kepada subsidi yang tidak berhak digunakan. "Jadi yang kita manage adalah subsidi yang diterima oleh mereka yang tidak berhak," Hatta menambahkan.
Lebih lanjut, Hatta juga memaparkan angka-angka penurunan kemiskinan yang merupakan angka resmi yang dibuat Badan Pusat Statistik (BPS). "Statistik kita menunjukkan pada tahun 2010 ini kemiskinan yang semula 14,2 persen pada tahun sebelumnya, sekarang ini 13,3 persen. Kita menargetkan pada tahun 2014, angka kemiskinan sudah harus berada pada 8-10 persen. Ini sasaran kita," Hatta menjelaskan.
Tingkat pengangguran juga mengalami penurunan. Pada tahun 2007 berjumlah 9,1 persen, turun menjadi 8,4 persen pada tahun 2008, dan terus turun menjadi 7,9 persen di tahun 2009, dan pada akhirnya 7,4 persen di tahun 2010. "Terlihat bahwa penurunannya nyata akibat kebijakan yang kita terapkan," ujar Hatta.
Upaya menekan kemiskinan yang telah dilakukan pemerintah adalah melalui program prorakyat. Yaitu dengan memberikan Kredit Usaha Rakyat (KUR) mulai dari Rp 1 juta untuk yang mikro sampai dengan Rp 20 juta tanpa agunan, dan tanpa perlu bertele-tele, serta dibuka aksesnya sampai ke Bank Pembangunan Daerah.
"Ini adalah bagian upaya kita untuk menekan kemiskinan dan meningkatkan lapangan kerja, dan ini sukses," kata Hatta. Menko Perekonomian menambahkan, dari 2,9 juta rakyat yang memperoleh KUR, 400 ribu diantaranya naik kelas. "Artinya, mereka meningkatkan taraf hidupnya dan usahanya naik kelas. Dan bukan tidak mungkin melalui pembinaan, yang 400 ribu ini akan terus tumbuh melahirkan pengusaha-pengusaha sukses," Hatta menandaskan. (yun)



