Berita Utama

Presiden Kutuk Keras Aksi Teror Bom Bunuh Diri di Gereja Solo

Presiden SBY, didampingi Wapres Boediono dan Menko Polhukam Djoko Suyanto, memberi keterangan pers tentang aksi bom bunuh diri GBIS Solo, di Kantor Presiden, Minggu (15/9) petang. (foto: rusman/presidensby.info)
Presiden SBY, didampingi Wapres Boediono dan Menko Polhukam Djoko Suyanto, memberi keterangan pers tentang aksi bom bunuh diri GBIS Solo, di Kantor Presiden, Minggu (15/9) petang. (foto: rusman/presidensby.info)
Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengutuk keras aksi bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo, Jawa Tengah. Ledakan bom terjadi usai para jemaat menyelesaikan kebaktian kedua pada Minggu (25/9) sekitar pukul 11.00 WIB.

"Atas nama negara, saya mengutuk keras atas aksi terorisme, kejahatan luar biasa yang bersifat tanpa pandang bulu, ini yang terjadi di negeri kita," Presiden SBY menegaskan dalam keterangan persnya di Kantor Presiden, Minggu (25/9) pukul 18.30 WIB.

Kepada para korban yang sampai saat ini jumlahnya mencapai 22 orang, Presiden mengatakan, pemerintah akan memberikan bantuan pengobatan sampai selesai. "Kepada yang terluka, pemerintah akan memberikan bantuan pengobatan dan perawatan sampai selesai," SBY menambahkan. Korban meninggal dunia akibat peristiwa ini, saat Presiden memberikan keterangan pers, satu orang. Korban tewas ini diduga pelaku bom bunuh diri. Korban yang dalam kondisi kritis 1 orang dan luka-luka 22 orang. Merewka semua dirawat di RS Dr Oen dan RS Brayat Minolyo, Solo, Jateng.

Menurut SBY, berdasarkan investigasi sementara, pelaku diduga masih terkait dengan jaringan aksi terorisme Cirebon, Jawa Barat, yang enam bulan lalu juga melakukan peledakan bom bunuh diri di sebuah masjid di kompleks Mapolresta Cirebon ketika sedang melaksanakan shalat Jumat.

Terkait peristiwa ini, Kepala Negara kembali menginstruksikan agar investigasi lanjutan segera dilakukan intensif. "Saya instruksikan agar investigasi lanjutan segera dilakukan secara intensif untuk membongkar habis jaringan pelaku pemboman. Termasuk dana, termasuk pemimpin dan penggerak aksi terorisme," ujar Presiden SBY.

Dengan kejadian hari ini, Presiden kembali mengingatkan bahwa ancaman terorisme masih ada dan nyata. "Kalau saya terus mengingatkan bahaya terorisme, itu bukan mengada-ada, tapi didorong oleh kesadaran dan pengetahuan para intelejen," Presiden menekankan.

Ancaman terorisme, lanjut SBY, bukan hanya masalah khas Indonesia, tapi juga di negara lain. "Wajib hukumnya bagi kita untuk waspada, untuk mencegah dan memberantas kejahatan terorisme ini," Presiden menandaskan.

Sebelum menyampaikan keterangan persnya, Presiden mengadakan rapat terbatas mendadak sekitar pukul 17.00 WIB, yang dihadiri, antara lain Wapres Boediono, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kepala BIN Sutanto, Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Mabes Pori Imam Sudjarwo, Kepala Badan Intelijen Strategis Soleman B Ponto, dan Wakil Kabareskrim Bekto Soeprapto. (yun).

 

Link Terkait: