Kibar
Rabu, 10 Oktober 2007
Nazaruddin Umar
Diantara sekian acara buka puasa yang dihadiri Presiden SBY dan Ibu Ani, ada penceramah yang terlihat cukup sering hadir memberikan siraman rohani. Dialah Prof. Dr.Nazaruddin Umar, M.A, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama RI, yang selama bulan Ramadhan tahun ini saja sudah tiga kali mengisi acara siraman rohani dalam acara berbuka puasa yang dihadiri oleh Presiden SBY dan Ibu Ani. Acara berbuka puasa bersama para pejabat tinggi negara di kediaman ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, di Mesjid Keramat Penjaringan Jakarta Utara, dan terakhir acara buka puasa bersama dengan keluarga besar Polri yang berlangsung di Markas Besar Polri, Jl. Trunojoyo 3, Jakarta.
Nazaruddin Umar mengatakan, dirinya sudah mengenal SBY ketika masih berpangkat kolonel, dan bertugas memberikan pembekalan materi wawasan kebangsaan di markas Kopassus, kepada 1007 sarjana yang akan bertugas mendampingi para camat di daerah terpencil, tahun 1992-1993. Selain itu, kata Nazaruddin, yang memintanya pulang ke Indonesia, ketika sedang menjadi visiting professor di Georgetown University Washington DC Amerika Serikat tahun 2004 - 2005, adalah SBY ketika menjadi Menkopolkam. “ Pulang saja ke Indonesia Pak, disini (di Amerika) sudah banyak orang pinter, “ kata SBY kepada Nazaruddin Umar ketika itu. Dan saat itu, kata Nazaruddin, bertepatan dengan ibundanya yang sedang sakit keras, sehingga Nazaruddin Umar memutuskan hanya menjalani satu tahun masa visiting professor nya dari seharusnya dua tahun.
“Saya dilantik menjadi Dirjen Bimas Islam ini bertepatan dengan ulang tahun saya ke-47 tahun lalu, “ kata Nazaruddin, yang lahir pada tanggal 23 Juni 1959 ini. Selain menjabat sebagai Dirjen Bimas Islam Depag RI, Nazaruddin juga dikenal sebagai seorang ilmuwan dan juga mubaligh. Yaitu menjabat sebagai rektor Perguruan Tinggi Ilmu Alquran, Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan sebagai mubaligh memiliki jamaah yang cukup besar, seperti di Mesjid Sunda Kelapa Jakarta.
Untuk banyak peran yang disandangnya itulah, Nazaruddin mengatakan dirinya tidak tahu mengapa Presiden SBY sering mengundangnya untuk berceramah. “Saya tidak tahu kapasitas saya diundang itu apakah sebagai Dirjen, apakah sebagai guru besar, atau mubaligh,” katanya. Permintaan untuk memberikan ceramah itu sendiri, menurutnya diminta langsung oleh Presiden SBY, karena dinilai materi ceramahnya menyejukkan.
Mengenai hal ini, Nazaruddin mengatakan bahwa poin yang ingin digarisbawahinya adalah mengenai keberagaman umat beragama di Indonesia. “ Umat Islam di Indonesia ini sedang mengalami pembengkakan kualitas. Dampak dari pembengkakan kualitas ini tentu saja melahirkan berbagai macam produk – produk, dan produk-produk itu ada yang sinis menanggapinya, ada yang bangga,” pria kelahiran Bone ini.
“Ini memang perlu manajemen, karena kalau kemajuan ini tidak diikuti dengan pembinaan-pembinaan, nanti bisa menabrak kanan kiri. Padahal negara kita ini negara kesatuan NKRI. Yang berhak untuk hidup di sini bukan hanya umat Islam, begitu juga umat agama lain. Inilah posisi saya sebagai Dirjen yang bertanggung jawab atas nama negara untuk membina 200 juta umat ini. Terbesar di seluruh dunia, dikumpulkan seluruh umat Islam di negara lain masih besar jumlah penduduk muslim di Indonesia. Dibanding dengan muslim di Arab pun masih banyak umat Islam di Indonesia,” kata Nazaruddin.
“Secara pribadi saya senang dengan Pak SBY, nyambung. Rasanya saya tidak sedang berhadapan dengan seorang kepala negara. Saya seperti berhadapan dengan teman diskusi, seorang ilmuwan. Waktu tahun lalu keliling di Timur Tengah, saya dicari Pak SBY, katanya Pak Nazarudin mana ?Saya jawab, saya masih pake sarung Pak. Nggak apa-apa, saya juga masih pake sarung, kata SBY. Kemudian kita diskusi dari sholat subuh sampai pagi. Plong aja, bercanda, “ kasha Nazaruddin.
“Saya menganggap Pak SBY ini orang yang mau belajar. Tipe orang yang mau mendengar dan pro aktif. Itu kesan saya, dan bagi saya kita beruntung punya kepala negara yang punya sikap keilmuan seperti ini. Saya kok tidak sependapat dengan penilaian media, meskipun saya mengerti bahwa media cuma menulis orang berpendapat, bukan medianya sendiri yang mengatakan, tapi mengutip orang, seolah-olah Pak SBY itu tidak tegas, takut. Saya tegaskan, bahwa kita harus bedakan apakah seseorang itu penakut atau arif. Seorang arif tidak harus, bahkan kadang-kadang meminjam strategi, penakut, walaupun dia tidak takut. Untuk mengatakan tidak, kita kan perlu bahasa lain untuk tidak frontal mengatakan tidak, sama juga dengan yes. Karena yes or not pasti juga ada kontroversi dengan pihak lain. Pak SBY itu tipikal orang Jawa, orang Indonesia dan tipikal orang Islam dan ilmuwan. Beliau tidak ingin menyinggung perasaan orang lain,” katanya.
“Apakah itu salah ? Menurut saya, dilihat dari sudut pandangan agama, hal itu sangat benar. Dari sudut pandang budaya dan keilmuwan juga sangat benar. Memang kalau dilihat dari sudut pandang politik, itu debatable. Menurut saya tetaplah Pak SBY seperti sekarang, menurut saya sudah yang terbaik, jangan memaksakan kepribadian lain harus dianut oleh seorang SBY. Karena itu malah salah jadinya. Kita jangan mencampuri urusan kepribadian seseorang karena itu pemberian Tuhan. Yang penting itu output nya apa itu yang harus kita kritisi. Contoh, yang dikritisi cara pidatonya. Ketika saya taping di sebuah acara TV, saya sampaikan bahwa kita tidak boleh mengkritik karakter seseorang. Karena setiap orang memiliki karakter masing-masing, yang berani mengkritik karakter orang itu harus introspeksi diri. Kesejukan diperlukan bangsa ini, karena bangsa ini terpuruk dari berbagai sudut pandang dan indikator. Masak kita mau gontok-gontokan satu sama lain. Itu yang resah umat kita, masyarakat kita, bangsa kita. Dalam posisi seperti ini kita tidak ingin menidurkan umat supaya melupakan, kelemahannya. Tidak sama sekali. Bukan itu tujuan kita. Kita ingin bahwa jauh lebih memungkinkan untuk menyelesaikan persoalan dalam keadaan tenang , ketimbang grasa grusu. Jauh lebih memungkinkan kita untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa kalau kita selesaikan secara bersama, ketimbang kita bermain dan menyelesaikan sendiri. Jauh lebih cepat untuk menyelesaikan persoalan umat dan bangsa. Melalui pendekatan soft power itu,” kata Prof. Dr.Nazaruddin Umar, M.A. (nnf)



