Arsip Kibar

« Oktober 2007 »
M S S R K J S
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031   

Kibar

Bryan Jevoncia

Bryan bersama Presiden SBY dan Ibu Ani, di Kantor Presiden, Selasa (23/10) sore,  memperlihatkan foto Bryan di New York. (foto: abror/presidensby.info)
Bryan bersama Presiden SBY dan Ibu Ani, di Kantor Presiden, Selasa (23/10) sore, memperlihatkan foto Bryan di New York. (foto: abror/presidensby.info)
Dilihat sekilas, gaya dan penampilan Bryan Jevoncia mirip seperti anak-anak kecil kebanyakan. Dengan balutan setelan jas dan dasi kupu-kupu yang rapi, mata Bryan menjelajah ke setiap sudut ruangan Kantor Presiden, Selasa (23/10) sore, seolah-olah sedang menyelediki tempat yang baru saja dikenalnya. Lihat saja tingkahnya, Bryan harus berdiri di atas sebuah kursi untuk dapat berbicara di depan podium yang biasanya digunakan oleh para menteri atau juru bicara Presiden yang memberikan keterangan pers. Namun setelah berkenalan lebih akrab lagi, baru orang akan tahu bahwa Bryan Jevoncia adalah siswa kelas II SD Suster di Pontianak, Kalimantan Barat, yang telah mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.

Bryan berhasil meraih Juara Pertama desain perangko PBB tahun 2007 yang bertema “We Can End Proverty”, mengalahkan kurang lebih 12.000 peserta dari 124 negara. Karena prestasinya itulah, lukisan Bryan akan dijadikan gambar perangko PBB seri tahun 2008. Setelah memenangkan penghargaan dari PBB itu, cita-cita Bryan untuk bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono semakin menguat. Presiden SBY dan Ibu Ani yang sangat peduli dengan dunia pendidikan dan mencintai anak-anak, langsung mengundang Bryan untuk datang ke Istana.

"Senang bisa bertemu dengan Presiden," kata Bryan ketika ditanya tentang perasaannya setelah bertemu SBY. ”Presiden itu orang yang paling hebat,” lanjut Bryan. Itulah mengapa ia ingin sekali bisa bertemu dengan Presiden SBY. Saat bertemu dengan SBY, Bryan pun menceritakan pengalamannya selama berada di New York, Amerika Serikat, dan menunjukkan gambar yang bisa membawanya mengunjungi negeri Paman Sam tersebut. "Presiden baik sekali. Presiden ngasih beasiswa, tas sekolah, dan jam supaya nggak terlambat ke sekolah," tutur Bryan dengan gaya anak-anaknya yang lucu.

Menurut Rosina Fardimin, sang ibu, Bryan memang senang sekali menggambar. Di rumah, Bryan selalu menggambar apa saja yang dilihatnya. ”Mungkin karena sering menggambar, dia jadi terlatih dengan sendirinya,” kata Rosina. Lukisan yang membuat Bryan dinobatkan sebagai juara internasional ”Children Art Competition” usia 6-15 tahun itu menggambarkan seorang ibu yang sedang menjahit sebuah baju ditemani anak-anaknya yang juga sibuk membantu. ”Pekerjaan saya sehari-hari memang tukang jahit. Saya sering menerima pesanan baju dari tetangga-tetangga atau orang-orang yang mengenal saya. Mungkin karena sering melihat dan membantu saya, Bryan jadi terinspirasi untuk menggambar tukang jahit untuk lukisannya,” Rosina bercerita.

Namun ketika ditanya apakah cita-citanya akan menjadi seorang pelukis bila sudah besar nanti, dengan tegas Bryan menggeleng. ”Enggak, aku mau jadi insinyur,” ujarnya sambil tertawa. Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Bong Jauw Song, ayahanda Bryan, berprofesi sebagai pemborong bangunan di Pontianak ”Saya bekerja sebagai pemborong bangunan, bantu bikin-bikin rumah,” kata Bong. Karena itulah, jika sudah besar nanti Bryan bercita-cita menjadi insinyur.

Bryan Jevoncia adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ia memiliki satu kakak laki-laki yang juga seorang calon dokter, Ramon Renardho, dan dua kakak perempuan, Vita Felicia dan Ellen Claresta. Di usianya yang baru menginjak 6,5 tahun, Bryan sudah berhasil membuat orang tuanya bangga, meraih Juara Pertama desain perangko internasional PBB, bertemu dengan Sekjen PBB Ban Ki-moon, dan bertemu dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. (osa)