Rabu, 19 Agustus 2009
Inong Balee

Selain Laksamana Malahayati, Tjut Nyak Dien merupakan inspirasi bagi perempuan Aceh yang juga mengilhami tarian Inong Balee. (foto: istimewa)
Inong Balee adalah suatu hal yang membanggakan dalam sejarah Aceh dan sejarah Indonesia pada umumnya, terutama bagi kaum perempuan. Inilah satu-satunya armada perang yang pernah ada di Nusantara yang seluruhnya dari kaum perempuan. Mereka adalah para janda yang ditinggal para suami yang gugur dalam peperangan melawan penjajah.
Dalam Pawai Budaya Nusantara 2009 di Istana Negara, Selasa (18/8) siang, provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menampilkan tema Inong Balee. Tak kurang ada 33 provinsi terlibat, dengan personil sekitar 2800 orang, dalam pawai budaya memperingati HUT ke-64 kemerdekaan itu.
Tersebutlah kisah, pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah IV (1589-1604), armada Inong Balee ini dipimpin tokoh perempuan terkenal. Laksamana Keumalahayati namanya. Nama Malahayati kini diabadikan sebagai nama pelabuhan di Banda Aceh. Armada ini, antara lain, berhasil menggagalkan percobaan penyerangan oleh Cornelis de Hautman di Selat Malaka dan pantai timur Sumatera.
Ketika suaminya gugur dalam pertempuran laut melawan Portugis di perairan Selat Malaka, Keumalahayati bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya. Semangat juang dan kepahlawanannya dapat disejajarkan dengan Srikandi, seorang tokoh perempuan dalam kisah Mahabharata. Karena itu ada yang menjuliki Laksamana Keumalahayati sebagai Srikandi dari Aceh.
Selain Malahayati, Aceh juga memiliki tokoh perempuan legendaris lainnya, seperti Tjut Nyak Dien. Ia tampil di garis depan menggantikan kepemimpinan dan perjuangan suaminya, Teuku Umar, yang gugur dalam peperangan melawan kolonial Belanda. Perjuangan Cut Nyak Dien kemudian diangkat ke layar lebar oleh Eros Djarot, dengan judul sama seperti namanya, pada tahun 1988. Film ini memenangi Piala Citra sebagai film terbaik, dan merupakan film Indonesia pertama yang ditayangkan di Festival Film Cannes (tahun 1989).
Tarian Inong Balee yang dibawakan para gadis Aceh dalam pawai di depan Istana Merdeka itu sangat ritmis dan lincah. Narasi menyampaikan pesan Tjut Nyak Dien yang terus hidup dan menjadi bara bagi para perempuan Aceh. Mereka berjalan seiring dengan para lelaki untuk menjaga negerinya dari penjajah.
Inong Balee akan terus kukuh menjaga bumi yang dipijaknya. Inilah cuplikan narasi yang menjelaskan gerak tari yang para perempuan Aceh saat tampil di hadapan Presiden SBY dan Ibu Ani. (win)