Kibar
Minggu, 6 Juni 2010
Jalan Pagi di Fort Marlborough

Presiden dan Ibu Ani jalan pagi di Fort Marlborough, Minggu (6/6) pagi. (foto: abror/presidensby.info)
Benteng ini dibangun kolonial Inggris pada 1714 – 1719 dibawah pimpinan Gubernur Jendral Josef Colin semasa pendudukan mereka di wilayah Bengkulu. Dari berbagai peninggalan yang masih terdapat di dalam bangunan benteng, dapat pula diketahui bahwa pada masanya bangunan ini juga berfungsi sebagai pusat berbagai kegiatan termasuk perkantoran, bahkan penjara. Fort Marlborough juga pernah berfungsi sebagai benteng pertahanan hingga masa Hindia-Belanda pada 1825-1942. Namun sejarah Inggris selaku kepemilikan pertama benteng itu tidak akan pernah hilang.
Lokasi benteng ini berada dipusat kota berbatasan dengan perkampungan China, yang juga kawasan obyek wisata, dan hanya berjarak 1 blok dari kantor Gubernur Bengkulu dan Polres Bengkulu masa ini. Di salah satu kamar benteng ini pernah dihuni Presiden RI pertama Ir. Soekarno ketika menjalani hukuman buangan masa penjajahan Belanda.
Fort Marlborough dibangun di atas tanah berbukit. Setelah masuk dari gerbang benteng yang terbuat dari besi tebal ini, akan ditemui jembatan untuk masuk ke dalam benteng. Konon katanya jembatan ini dahulu sempat dipergunakan secara manual dengan menggunakan rantai untuk menaikkan dan menurunkannya, namun sekarang sudah tidak lagi. Setelah menaiki beberapa anak tangga menuju bagian atas benteng ini, kita akan dapat melihat hamparan samudera hindia yang sangat luas disertai deburan ombak, lengkap dengan sunset-nya ketika matahari terbenam.
Ada beberapa ruangan di dalam benteng ini, diantaranya ruang jaga atau sel militer, barak militer, perkantoran East Indian Company, dan gedung mesiu dimana di bagian atas gedung inilah kita dapat memandang hamparan laut dan matahari terbenam.
Ketika mengunjungi Bengkulu untuk membuka Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-23 di Bengkulu, pada Sabtu (5/6) malam, keesokan paginya, Minggu (6/6), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani beserta rombongan yang menginap di Balai Raya Semarak, komplek kantor Gubernur Bengkulu, menyempatkan diri untuk jalan pagi menuju Fort Marlborough. SBY beserta rombongan bergerak menuju benteng ini pada pukul 07.00 WIB.
Masyarakat sekitar yang menyaksikan SBY berjalan kaki, menyapa dari jarak kejauhan sambil melambaikan tangan. Presiden SBY dan Ibu Ani dengan spontan membalas lambaian tangan tersebut sambil tersenyum. Kala itu, Presiden dan Ibu Ani mengenakan pakaian olahraga dengan warna yang senada yaitu abu-abu tua. Ketika tiba dan masuk ke dalam benteng, SBY berhenti sejenak untuk membaca prasasti Richard Watt Esq. (1705), kemudian dilanjutkan dengan melihat dan masuk ke dalam ruang jaga.
Tak lupa pula, SBY beserta rombongan naik ke bagian atas benteng, tepatnya di atas gedung mesiu untuk melihat hamparan samudera hindia dan pohon-pohon kelapa yang ada di sepanjang pantai. Sebutan untuk pantai ini adalah Pantai Panjang. Setelah itu, SBY dan rombongan keluar dari benteng dan melanjutkan jalan pagi menyusuri pantai panjang, melewati tempat pelelangan ikan menuju pantai zakat.
Sepanjang perjalanan tersebut, masyarakat sekitar sangat antusias menyambut SBY. Mereka ingin melihat langsung dan menyapa SBY dan Ibu Ani dari depan rumah mereka masing-masing. Dalam perjalanan tersebut, SBY juga menyarankan agar taman-taman kecil yang ada di sekitar pantai untuk dirawat atau diperindah lagi. Setelah berjalan cukup jauh dan mengingat waktu yang sempit karena harus kembali ke Jakarta, Presiden pun memutuskan untuk kembali ke benteng sekaligus menyantap hidangan sarapan pagi yang sudah disiapkan. “Ayo kita kembali ke benteng, sudah menunggu bubur ayam dan bubur kacang hijau,” canda SBY disambut gelak tawa rombongan.
Usai sarapan pagi di benteng, SBY dan rombongan kembali ke Balai Raya Semarak untuk bersiap-siap kembali ke Jakarta. Namun, ada peristiwa yang menyentuh disini. Beberapa meter sebelum tiba di tempat, ada sepasang orang tua yang digandeng oleh seorang pemuda berjalan mendekati SBY dan Ibu Ani. Ternyata kedua orang tua tersebut adalah orang tua dari Ujang, salah satu personil Paspampres yang merupakan warga Bengkulu. Baik SBY maupun Ibu Ani menerima mereka dengan sangat ramah. “Wah, orang tua pak Ujang ya? Tinggal dimana? Jangan khawatir, anaknya baik kok bu,” ujar SBY dengan ramah.
Kedua wajah orang tua tersebut terlihat sangat sumringah bercampur haru karena dapat bertemu dan bersalaman dengan Presiden dan Ibu Negara. Spontan warga yang berdiri di sepanjang jalan langsung mendekat. Presiden dan Ibu Ani pun melakukan foto bersama Ujang dan kedua orang tuanya beserta seorang kakaknya. Dan tentu saja, momen langka seperti ini langsung dimanfaatkan warga yang sudah berkerumun untuk bersalaman dengan SBY dan Ibu Ani, bahkan diantaranya terdapat beberapa orang anak kecil.
Yah begitulah pesona bumi Raflesia ini, sampai-sampai Kepala Negara rela memanfaatkan waktu luangnya yang hanya sebentar untuk mengunjungi salah satu objek wisata yang terkenal di kota ini, Benteng atau Fort Marlborough. Memang, belum lengkap rasanya kalau berkunjung ke Bengkulu tapi tidak mampir ke Benteng bersejarah yang memunggungi hamparan samudera hindia ini. (yun)



