Kibar
Kamis, 10 Juni 2010
Hardjito Warno

Hardjito bersama rekan-rekannya diterima Presiden SBY di Kantor Presiden, Senin (7/6). (foto: rusman/presidensby.info)
Hardjito merupakan humas dari KISPA dan salah satu delegasi KISPA untuk Palaestina. Hari Senin (7/6), bersama dengan 4 relawan Indonesia lainnya, Hardjito kembali menginjakkan kaki di tanah air setelah 2 hari menjadi tahanan tentara Israel. Ketika ditemui usai pertemuannya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ditanya mengenai insiden tersebut, Hardjito mengaku bahwa ia sama sekali tidak merasa takut, baik saat tentara Israel menyerang, maupun ketika dalam tahanan.
“Pada saat sholat shubuh rakaat kedua, tentara Israel sudah mengepung kapal kami. Dua di kanan dengan kapal yang besar dan kapal kecil itu saya lihat ada 4, dengan posisi tentara zionis itu berdiri, lengkap dengan senjatanya, dan mulai merapat ke dinding kapal dengan harapan mereka bisa melemparkan tali dan naik ke atas,” kenang Hardjito. Namun usaha pertama tentara Israel itu, menurut Hardjito, berhasil dihalau dengan semprotan air.
“Setelah itu baru datang dua heli. Satu menyorotkan lampu dan satu menurunkan, menerjunkan pasukan ke atas dek kapal. Mulai terjadilah pelawanan, kita mempertahankan diri dengan apa yang ada. Kalau diklaimkan Israel bahwa kita menyerang, itu adalah hal yang salah karena kita tak ada yang membawa senjata,” Hardjito menjelaskan. Menurutnya, pisau atau apapun yang dipakai menyerang merupakan benda-benda yang ada di atas kapal. Selama kejadian ini berlangsung, pihak Israel sudah mulai menembak.
Setelah korban mulai berjatuhan, para relawan diinstruksikan menyerah. Mulai saat itulah mereka menjadi tawanan tentara Israel. “Kita di borgol dari jam 8 pagi, hingga saya paling terakhir, itu jam 7 pagi. Dijaga dengan begitu ketatnya tanpa diberi makan,” Hardjito melanjutkan kisahnya. Usai ditahan, mereka diinterogasi dan dipaksa menandatangani dokumen yang mengatakan bahwa mereka masuk secara illegal ke wilayah Israel, namun mereka menolak untuk melakukannya.
”Kami dimasukkan dalam penjara dari pukul 8 hingga 11 malam. Pukul 11 malam kami dibebaskan dengan adanya inisiatif dari Presiden SBY untuk menghubungi pemerintah Jordan,” kata Hardjito. Hardjito bersyukur dapat kembali ke Indonesia dan berkumpul kembali bersama keluar. Selain aktif di KISPA, Hardjito juga bekerja untuk saluran televisi Al-Jazeera Arab. ”Di sana juga saya melakukan peliputan, untuk Al Jazeera Arab,” tandasnya. (arc)



