Arsip Kibar

« Agustus 2010 »
M S S R K J S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031    

Kibar

Alberthiene Endah

Ibu Ani didampingi keluarga saat peluncuran buku biografinya di Hotel Dharmawangsa, Jumat (30/7) malam. (Foto: abror/presidensby.info)
Ibu Ani didampingi keluarga saat peluncuran buku biografinya di Hotel Dharmawangsa, Jumat (30/7) malam. (Foto: abror/presidensby.info)
Bulan Maret 2009, Alberthiene Endah dikontak oleh sekretaris pribadi Ibu Negara yang menjelaskan bahwa Ibu Ani ingin membuat buku biografi. “Saya kaget dan dalam hati bertanya, apakah ini benar? Baru menyadari bahwa berita tersebut benar setelah saya mendapat panggilan untuk mengikuti kegiatan Ibu Ani ke Aceh, Tawangmangu, dan Pacitan, “ terang Alberthiene Endah yang akrab disapa AE.

Alberthiene menerima tawaran untuk menulis biografi Ibu Ani karena hal tersebut bukan sesuatu yang seratus persen baru baginya. Ia juga pernah menulis beberapa biografi tokoh-tokoh terkenal seperti Titik Puspa dan mendiang Chrisye. "Namun ini adalah biografi Ibu Negara pertama yang pernah dibuat. Yang harus menyesuaikan diri adalah saya. Harus siap kapan saja dan kalau bisa, disaat Ibu Negara ada waktu, jangan sampai saya yang berhalangan,“ ujar Alberthiene.

Judul Kepak Sayap Putri Prajurit dibuat untuk mewakili gambaran kehidupan seorang Ani Yudhoyono. “Saya hanya berpikir, Ibu Ani itu seperti terbang dari anak prajurit menjadi istri seorang prajurit, dan sekarang memiliki anak seorang prajurit juga. Saat saya menyodorkan kata-kata kepak sayap, Ibu Negara langsung menyetujuinya, “ jelas penulis yang mengawali karirnya sebagai seorang jurnalis itu.

Proses penulisan buku ini terhitung cepat, apalagi bagian wawancara. Hal itu karena Ibu Ani adalah pencerita yang sangat baik. “Jika menceritakan sesuatu, Ibu Ani sudah mengerti alurnya. Siapapun yang mewawancarai Ibu Negara pasti akan senang karena tidak akan susah. Seperti mengumpulkan puzzle, “ ujar AE. Di mata AE, Ibu Ani adalah sosok yang sangat humoris. Pada saat melakukan wawancara, AE bisa tertawa terbahak-bahak bersama dengan Ibu Negara jika sedang membicarakan sesuatu yang lucu.

Sedikit mengenai buku biografi Ibu Negara, disana dituliskan mengenai kisah Ibu Ani yang sewaktu kecil jago memanjat pohon. Digambarkan bagaimana kehidupan seorang anak tentara yang sangat sederhana. Dalam buku tersebut menceritakan juga masa-masa awal pernikahannya dengan SBY dan tinggal di asrama tentara yang mengharuskannya mengantri sebelum mandi. “Buku ini menggambarkan bahwa Ibu Ani selain pandai menyesuaikan diri dalam kehidupan yang susah, beliau juga pandai memajukan dirinya, “ jelas Alberthiene Endah.

Di dalam buku biografi tersebut, perkembangan Ibu Ani dari kecil hingga remaja mengambil porsi yang besar, dimana sosok almarhum ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo berperan banyak. “Ketika pertama kali Ibu Ani menghubungi saya, yang diutarakan beliau adalah ingin mendedikasikan buku ini untuk almarhum ayahnya yang memiliki kontribusinya besar dalam mendidik dan membentuk kepribadian beliau, “ terang Alberthiene Endah.

Pesan yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah seperti apapun warna dalam kehidupan, asalkan kita apresiatif dan ingin terus belajar, maka tidak akan ada susahnya. “Kalau melihat pengalaman Ibu Ani yang bisa memanfaatkan semaksimal mungkin pendapatan SBY yang dulu hanya sebesar 52.800 rupiah dengan menanam pohon cabai dan bawang di halaman rumah, hingga bisa mengikuti perjalanan sang suami ke Timor Timur, Amerika Serikat, dan menjadi isteri menteri, itu adalah proses belajar yang tidak pernah selesai,“ kata AE.

Buku yang didominasi warna putih ini ingin menjauhkan kesan bahwa Ibu Negara berkeinginan untuk menjadi capres pada pemilu 2014 nanti. Dengan terbuka Ibu Ani ingin mengungkapkan bahwa peran yang diimpikan hingga akhir hayatnya adalah sebagai istri dan pendamping SBY. Buku setebal 305 halaman ini akan membuat kita tidak bosan membacanya karena selain ceritanya menarik, buku ini juga banyak dihiasi foto-foto indah yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya. (dit)