Jumat, 27 Januari 2012
David, Peraih Tujuh Medali Emas ASEAN Para Games 2011

Presiden SBY bertanding tenis meja dengan David Michael Yakob, peraih tujuh medali ASEAN Paragames VI, di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (26/1) sore. (foto:rusman/presidensby.info)
Perhelatan ASEAN Para Games (APG) VI 2011 yang beberapa waktu lalu digelar di Solo, Jawa Tengah, telah berakhir. ASEAN Para Games (APG) ini adalah acara multi-olahraga dua tahunan untuk atlet dengan cacat fisik yang diselenggarakan segera setelah perhelatan SEA Games dan berada di bawah pengaturan ASEAN Para Sport Federation (APSF). Pertandingan ini diselenggarakan oleh negara yang menjadi tuan rumah SEA Games.
Sama halnya dengan SEA Games, event APG ini masih menyisakan kebanggaan bagi tim atlet Indonesia yang telah berhasil meraih 113 medali emas dan menempatkan Indonesia di posisi
runner-up di bawah Thailand yang meraih 123 medali emas. Ini merupakan suatu prestasi karena di perhelatan terdahulu, Indonesia biasanya hanya berada di posisi keempat.
Diantara para atlet tersebut, terdapat beberapa atlet yang berhasil meraih beberapa medali emas. Kebanggaan inilah yang membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang para atlet yang berhasil meraih medali tersebut ke Istana Kepresidenan Jakarta untuk bersilaturahmi. Diantara atlet tersebut, terdapat atlet tenis meja David Michael Yakob yang berhasil meraih 7 medali emas. Tentulah hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi David karena ini merupakan pastisipasi pertamanya di ajang APG.
“Tentunya saya senang dan bangga bisa dapat 7 medali emas di arena tenis meja, tapi ini merupakan langkah awal bagi saya karena tahun ini ada paralympic,” kata David ketika ditemui usai beramah tamah dan “bertanding” tenis meja dengan Presiden SBY, di halaman tengah kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (26/1) sore.
Namun David yang merupakan anak kedua dari 6 bersaudara ini tidak langsung merasa puas dengan apa yang diraihnya sekarang. Ia berharap dapat terus meningkatkan prestasinya hingga ke ajang dunia bukan hanya ASEAN. “Saya harus bisa meningkatkan kemampuan lagi agar saya bisa berprestasi di ajang yang lebih tinggi, di dunia,” ujar David dengan penuh keyakinan.
David yang difable karena tangan kanannya lebih kecil dari tangan kirinya ini, sedikit menceritakan tentang sebab dari difable yang dimilkinya. “Sudah sejak lahir, tangan saya yang kanan lebih kecil dari yang kiri,” kata pria berdarah Ambon ini. “Jadi ceritanya, waktu saya lahir itu saya divakum. Nah, sewaktu divakum itu ada syaraf saya yang tertarik yang mengakibatkan tangan kanan saya lebih kecil,” David menjelaskan sambil tersenyum.
Bagaimana perasaan David yang berkesempatan bermain tenis meja dengan Presiden? David menjawab bangga dan senang bisa berkesempatan bertanding tenis meja dengan orang nomor satu di Indonesia. “Bapak Presiden bermain dengan baik. Saya mencoba untuk mengimbangi permainan bapak Presiden,” ujar David merendah.
David yang sejak lahir sudah hidup di Jakarta ini, tidak menampik bahwa ia sedikit menahan ritme permainannya karena baginya ini bukan pertandingan melainkan hanya permainan. “Ya sebenarnya sih agak ditahan-tahan sedikit. Kan tidak mungkin tadi saya mainnya smes-smes terus, karena ini bukan pertandingan hanya permainan. Saya hanya mencoba mengimbangi,” kata David tersenyum simpul.
Di lain pihak, Kepala Negara memuji permainan David. Presiden mengatakan David sangat jago meskipun ia seorang difable. "Ini contoh beliau bisa mengalahkan saya. Difabilitas tapi berprestasi. Jago," Presiden memuji kepiawaian David usai pertandingan.
Apa yang diraih David beserta teman-teman atlet lainnya memang patut diacungi jempol dan diberikan senyum kebanggaan. Ini membuktikan bahwa “kekurangan” atau cacat fisik bukanlah hambatan untuk berprestasi. Seperti kata pepatah, “Dimana ada kemauan, disitu ada jalan.
(yun)