Karena itu, mau tak mau, kita harus bersahabat dengan alam sekitar kita. Apalagi, justru struktur alam semacam itu yang juga memberikan kita nikmat kekayaan alam berupa sumber daya alam dan kesuburan tanah. Bersahabat berarti mengenal sifat-sifatnya, mempersiapkan diri menghadapinya, dan mengambil manfaat sebesar-besarnya terhadap kekayaan alam yang datang bersamanya, sembari menjaga kelestarian alam dan makhluk hidup di dalamnya.
Kita prihatin setiap terjadi bencana. Kita berduka setiap ada korban yang tewas atau terluka. Setiap satu orang yang tewas adalah kehilangan yang besar dan setiap kerusakan adalah kerugian bagi negeri. Tapi kita semakin mengerti dan semakin terampil, serta semakin kuat menghadapi berbagai bencana. Bahkan kita bangkit menjadi lebih kuat lagi setiap kali bencana menghadang.
Setiap berita bencana menimbulkan solidaritas anak negeri. Relawan datang dari mana-mana, sumbangan mengalir dari siapa saja. Pemerintah pun, baik pusat maupun daerah, segera turun tangan secara langsung. Tanggap darurat segera digelar, untuk mencari dan menyelamatkan
Melihat kekuatan gempa dengan 7,3 skala Richter itu, banyak negara sahabat menawarkan bantuan kemanusiaan sebagaimana yang dilakukan pada bencana tsunami di Aceh dan gempa di Yogyakarta. Tetapi kali ini, setelah berkunjung ke lokasi bencana dan mendengarkan laporan langsung dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pemerintah Daerah Jawa Barat, maka Presiden SBY menetapkan bahwa kita bisa mengatasi bencana ini dengan kekuatan sendiri.
Kita menghargai dan berterima kasih atas tawaran bantuan dari negara-negara sahabat. Dan di waktu yang lalu, ketika kita memang membutuhkannya, kita membuka tangan untuk menerima bantuan kemanusiaan asing. Sebagaimana kita pun senantiasa siap menawarkan bantuan kemanusiaan kepada negara-negara sahabat yang tertimpa bencana. Tetapi prinsip kita selalu adalah: bantuan negara sahabat kita terima jika kita memang membutuhkannya karena kita tidak mampu melakukannya sendiri. Mungkin karena skalanya yang sangat besar dan luas, mungkin pula karena ada aspek-aspek teknis tertentu yang belum kita kuasai dalam penanggulangan bencana. Tetapi jika kita memang mampu mengatasinya dengan kemampuan sendiri maka tak perlu kita meminta ataupun menerima bantuan asing.
Karena itu, kali ini kita ucapkan thanks, but no thanks kepada sahabat-sahabat yang menawarkan bantuan. Insya Allah kita mampu mengatasinya dengan kekuatan sendiri. Ini saatnya sebagai bangsa kita menunjukkan kemampuan dan solidaritas kita dalam mengatasi bencana ini. Mumpung ini bulan puasa, bulan yang penuh rahmat dan pahala yang dilipatgandakan, mari sumbangkan harta, tenaga, atau keterampilan kita untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana, ataupun untuk membantu upaya pemerintah mengatasinya. Kita bisa, kok.



