Kalau melihat pemberitaan di media akhir-akhir ini, niscaya kata “kabinet” sedang naik daun. Maklumlah sebentar lagi Presiden SBY akan dilantik untuk masa jabatan yang kedua, dan dengan demikian kabinet baru akan pula diumumkan. Sudah banyak beredar spekulasi tentang calon-calon anggota kabinet, versinya lain-lain tergantung dari siapa yang menyebarkan spekulasi tersebut. Lagi pula, tak mengapa berspekulasi, itu bagian dari kebebasan berbicara. Yang penting tetap mengacu pada konstitusi kita bahwa penentuan kabinet adalah hak prerogatif presiden.
Kata “kabinet” sendiri berarti “kamar kecil” atau bisa juga “perabot yang banyak lacinya.” Kamar kecil dalam hal ini bukan “toilet” seperti istilah populer sehari-hari, tetapi kamar yang kecil tempat petinggi-petinggi penasihat raja melakukan rapat rahasia tentang kebijakan negara. Pada waktu itu di Inggeris abad pencerahan, pemerintahan negara tingkat tinggi mulai beralih dari struktur berdasarkan pengusaan wilayah menjadi struktur berdasarkan portofolio kebijakan.
Dan inilah yang menandakan negara modern, di mana pemerintahan negara dilakukan oleh kabinet yang memimpin portofolio pemerintahan, atau sering juga disebut departemen atau kementerian. Kabinet ini dipimpin oleh seorang perdana menteri dalam sistem parlementer, atau presiden dalam sistem presidensial. Itu pula sebabnya kabinet diibaratkan pula seperti meja perabot yang berlaci banyak, yang masing-masing lacinya diperuntukkan untuk isu-isu yang spesifik.
Menjadi anggota kabinet adalah suatu kehormatan. Tidak banyak orang yang mendapat kesempatan untuk mengurus negeri yang besar ini, berbuat baik kepada bangsa dan negara, walaupun hanya untuk sektor tertentu saja. Tentu saja pastilah tidak mudah mengurus 230 juta anak bangsa, dari negeri yang hampir seluas Eropa atau Amerika. Taruhannya pun besar. Kalau berhasil menjalankan amanah, bisa menjadi sejarah, namun kalau gagal akan dicerca, bahkan bisa masuk penjara.
Ini bukan pekerjaan main-main. Tetapi pelamarnya luar biasa banyak. Ada ratusan Curriculum Vitae (CV) yang sampai ke Cikeas. Lengkap dengan fotonya. Semua merasa mampu untuk menjadi menteri kabinet. Bahkan banyak yang menambahkan “siap ditugaskan untuk posisi apa pun,” seperti balsem yang bisa menyembuhkan segala penyakit.
Bolehkah seseorang menyodorkan dirinya atau melamar untuk posisi di kabinet? Tentu boleh-boleh saja. Sama saja kalau orang mau melamar pekerjaan, lalu mengirimkan CV ke mana-mana. Yang penting, sekali lagi, mengerti bahwa penentuan kabinet adalah hak prerogatif presiden. Lalu, jangan marah-marah kalau namanya tidak disebut ketika kabinet baru diumumkan oleh presiden.
Dalam masa-masa seperti ini, memang disarankan kepada yang merasa mampu dan mau berbakti sebagai anggota kabinet untuk setiap saat dapat dihubungi oleh presiden. Pastikan HP anda bekerja dengan baik. Jangan lupa bawa charger ke mana-mana, kalau-kalau sedang low batt. Kalau anda dihubungi oleh ajudan presiden berkali-kali dan tetap tidak bisa tersambung, apa boleh buat, jangan salahkan orang lain. Namun, sungguh sayang kalau anda menganggap bahwa hidup ini hanya tergantung oleh dering telepon.
Arsip
| « | Oktober 2009 | » | ||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |



