Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

SoalAgenda Kunjungan ke Eropa

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI
AGENDA KUNJUNGAN KERJA KE EROPA
PESAWAT KEPRESIDENAN MENUJU EROPA
13 DESEMBER 2009



Saudara-saudara,
Saya jelaskan tentang agenda multilateral, termasuk sasaran apa yang hendak kita capai dalam kunjungan itu. Tentu yang membawa manfaat bagi kepentingan nasional, termasuk kepentingan daerah dimana para gubernur memimpin pembangunan sekarang ini. Meskipun puncak agenda kita adalah menghadiri Pertemuan Puncak Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark dan itu adalah acara yang sangat penting, tapi jangan dilupakan kunjungan kita ke Belgia, markas besar dari European Union, European Commission, kemudian ke Paris, Perancis dan ke Berlin, Jerman, itu juga dapat kita gunakan untuk meningkatkan kerjasama bilateral dengan negara-negara itu, baik di bidang ekonomi maupun non ekonomi.

Baik. Kegiatan kita di Brussels sebenarnya melaksanakan pembicaraan dengan Presiden European Commission Baroso, sahabat saya. Saya sudah beberapa kali bertemu, yang bersangkutan juga sudah berkunjung ke Indonesia. Intinya meningkatkan kerjasama ekonomi Uni Eropa dengan Indonesia. Saya akan tentu menjelaskan tentang rencana pembangunan ekonomi 5 tahun mendatang sambil offering opportunity kepada Uni Eropa untuk sebuah kerjasama nanti kita dengan mereka. Tentu saja climate change akan menjadi topik pula untuk kita bicarakan selama kita di Brussels.

Di Brussels, saya kira pagi hari dan setelah pertemuan itu kita segera terbang ke Paris, karena saya akan bertemu dengan Presiden Sarkozy pada hari itu juga sore hari. Dan saya tahu, Presiden Sarkozy mestinya hari itu menerima kunjungan Presiden Husni Mubarak dari Mesir. Pada tingkat tahap II hampir tidak jadi kunjungan itu, tapi begitu Sarkozy barangkali mengetahui beliau langsung acarakan 1 hari menerima kunjungan 2 kepala negara. Karena hubungan kita baik, pertemuan saya dengan Sarkozy sebelumnya kita baik akan kita gunakan untuk getting more opportunities kerjasama di antara kita dengan Perancis. Hampir pasti masalah ekonomi menjadi topik utama, tapi tidak kalah pula perubahan iklim, demokrasi biasanya juga, good governance, hal-hal seperti itu menjadi bagian dari kerjasama Eropa dengan Indonesia secara spesifik.

Ada kebetulan tadi saya bisa menerima beberapa top CEO yang sekarang ini invest di Indonesia atau influence investor di Indonesia. Saya kira baik-baik saja untuk kita lakukan. Tujuannya semakin banyak kerjasama perekonomian, tentu akan membawa manfaat yang baik bagi kita semua.

Saya kira di Paris bermalam. Setelah itu, kita akan melanjutkan perjalanan ke ke Berlin. Akan bertemu dengan ... kurang lebih agendanya sama. Dan Jerman juga sangat committed untuk climate change beberapa kali memuji kita karena sukses di Bali. Demikian juga kerjasama di bidang teknologi, pendidikan, disamping perekonomian dengan Jerman juga sangat penting. Jerman juga peduli pada masalah demokrasi, good governance, rule of law yang mungkin menjadi topik juga pembicaraan kita dalam pertemuan bilateral nanti.

Di Jerman ada business gathering? Tidak ada. Saya akan memberikan public lecture di Berlin, tentu berisi ekonomi, demokrasi, lantas barang kali sedikit climate change untuk menjelaskan tentang negara kita, meskipun dunia sudah mulai mengikuti our progress dan mereka mulai memberikan apresiasi, tetapi saya sebagai juru bicara Indonesia punya kewajiban setiap saat saya bisa menjelaskan tentang negeri kita, supaya tidak ada miss persepsi tentang negari kita yang tidak sepatutnya.

Setelah itu, semula kita akan berkunjung ke Polandia atas undangan Presiden Polandia, tapi Presiden Polandia jatuh sakit, sehingga tidak etis, tidak tepat kalau saya berkunjung ke sana. Kita tunggu, mungkin tahun 2011, 2 tahun dari sekarang. Oleh karena itu, kita akan langsung ke Copenhagen. Kebetulan saya diacarakan untuk bicara pada tanggal 17, intervensi saya di dalam summit itu, sehingga kita memerlukan persiapan, saya di-update tentang what’s going on Pak Rachmat Witoelar ada di sana, yang mimpin delegasi kita. Nanti saya dengan Pak Husni Hatta dan lain-lain akan merumuskan posisi Indonesia. Dan saya bayangkan sebagaimana pengalaman di Bali, itu tidak akan mulus-mulus saja, mungkin akan ada deadlock, ada benturan, macam-macam, sekarang Amerika dengan Tiongkok pun sudah tegang, sudah saling perang ... gitu.

Banyak yang berharap Indonesia jadi part of the solution, manakala terjadi deadlock, karena kita tuan rumah kita pada COP-13 dalam upaya membangun new global consensus. Dan saya akan standby dan barangkali akan melaksanakan lobi-lobi dengan kepala negara yang lain, supaya ada konsensus di Copenhagen tersebut.

Tentu saja di luar itu semua, ada agenda-agenda lain dan seperti biasanya Saudara, terutama para Gubernur dan para Menteri, gunakan kesempatan itu untuk apapun opportunity, to create opportunity, to take the benefit of having talk with others, tolong digunakan dengan sebaik-baiknya. Saya kira dari DPD dan dari DPR RI bersama-sama kita, kalau sudah di luar negeri Merah Putih, Indonesia Incorporated, tidak melihat apakah di Eksklusif, Legislatif, Yudikatif, Businessman, governor, manager, semua membawa panji-panji Merah Putih untuk tanah air kita, untuk rakyat kita. Oleh karena itu, kita jalankan semua agenda dengan sebaik-baiknya.

Nanti di Dubai, itu ada 1,5 jam, saya akan menggunakan mungkin sekitar 30 sampai 40 menit untuk bertemu dengan Syekh Saud yang sudah ketemu saya di Kuala Lumpur dan sudak ketemua di Jakarta. Beliau invest dengan proyeksi 5 billion US Dollars di Kalimantan Timur. Di Kalimantan Timur betul untuk power plant dan segala macam. Saya suka seperti ini, pokoknya kalau ada opportunity, please let me know. Saya sudah bicara di Palangkaraya kepada para gubernur, kalau ada peluang, ada jalan untuk seperti ini dan Saudara memerlukan back up, saya please let me know, saya akan ikut memuluskan supaya jadi apa namanya, kerjasama atau investasi itu.

Di Dubai itu, di lantai 2 ada rumah makan yang enak sekali itu, makanan Timur Tengah, makanan India. Makannya jangan lama-lama nanti enggak muat. Itu masakan India, masakan Timur Tengah enak, enak tenan itu, silakan, jos.

Kemudian yang lain-lain nanti sambil jalan. Oleh karena itu, para Menteri, para Gubernur, rombongan resmi setiap hari lebih bagus mengetahui agenda hari itu. Kepada Mensesneg atau kepada KPN atau kepada staf pribadi saya, dengan demikian bisa diatur kapan-kapan bisa bersama saya, kapan-kapan dengan agenda sendiri. Yang penting kembali ke tanah air kita harus mendapatkan sebanyak-banyak manfaat untuk rakyat dan negara kita.

Sementera itu yang saya sampaikan.

Biasanya kalau kita bermalam di suatu tempat, ini karena hanya 1 hari, 1 hari, saya siasati kita datang, santap malam bersama, sambil bicara di situ. Sebab kalau acara makan, santap malam dulu, baru pertemuan, ada tanya jawab, itu bisa 3 jam dan waktu tidak memungkinkan. Oleh karena itu, kita siasati bertemu dengan mereka, saya makan bareng-bareng, stop di situ, dengan demikian ada interaksi kita dengan duta-duta bangsa yang ada di tanah air.

Disamping itu, saya sudah menulis surat kepada Perdana Menteri Denmark, tuan rumah Rasmussen tentang posisi Indonesia, proposal Indonesia dan bagaimana alternatif yang kemungkinan dipertimbangkan manakala menghadapi deadlock. Beliau sudah menerima surat saya dan responnya positif. Karena beliau juga tahu waktu bertemu dengan saya di Singapura dalam rangka APEC kemarin, pengalaman Indonesia khas. Pertemuan Bali dulu juga hampir gagallah, deadlock, tapi Alhamdulillah saya dengan Ban Ki-Moon bisa mengatasi dan akhirnya melahirkan Bali Road Map dan Bali Action Plans.

Ada juga permintaan dari beberapa negara Australia, China, Norway dan beberapa yang terus berkomunikasi nanti disamping pertemuan-pertemuan agar ya tidak gagallah Copenhagen Summit ini. saya kira kita bersyukur, kita diperhitungkan paling tidak dianggap sebagai partner untuk diajak bicara untuk mencari solusi manakala ada bayang-bayang kegagalan dalam Copenhagen Summit ini.

Saya kira itu dulu Saudara-saudara. Nanti kalau ada yang lain, saya sampaikan juga.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan