Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Keterangan Pers tentang Hasil KTT G20 di Toronto, Kanada kepada Wartawan Indonesia
TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG
HASIL KTT G-20 DI TORONTO, KANADA
KEPADA
WARTAWAN INDONESIA
HOTEL SHERATON, ANKARA-TURKI
28 JUNI 2010
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
KTT G-20 yang baru saja dilaksanakan di Toronto, Kanada, apa saja yang menjadi isu utama serta semangat dan langkah ke depan apa yang dilakukan oleh G-20. Kemudian yang kedua, hal-hal penting berkaitan dengan tentang kunjungan kita ke Turki ini.
Saya akan mulai dari yang pertama. Sebagaimana yang saya sampaikan di Halim sebelum kita berangkat ke Kanada kemarin, kemudian juga di dalam penerbangan, dan setelah sampai di Toronto tentang isu-isu apa saja yang dibahas di G-20 Summit yang dilaksanakan di Toronto. Termasuk pandangan yang beragam dari negara anggota G-20 tentang kebijakan, strategi, prioritas, dan agenda untuk G-20 dalam penyelamatan perekonomian global pasca krisis yang terjadi pada tahun 2008, 2009 yang lalu.
Sebagaimana yang saya sampaikan di tiga kesempatan itu, maka pertemuan puncak, yang sesungguhnya berlangsung dua hari itu telah mengambil kesimpulan-kesimpulan utama. Saudara tentu membaca deklarasi atau Komunike Toronto, rinci. Namun yang ingin saya sampaikan bukan yang itu, tapi suasana kebatinan konsensus yang dapat dibangun, serta tekad dari para anggota G-20, baik kepala negara, kepala pemerintahan maupun institusi-institusi dunia, utamanya yang berkaitan dengan perekonomian.
Nampak sekali dalam pembahasan para pemimpin dunia bahwa semangat yang ada adalah benar-benar untuk menuntaskan proses pemulihan ekonomi pasca krisis, global economic recovery.
Oleh karena itulah, yang seolah-olah akan terjadi dua kubu yang saling berhadapan, sebagaimana dulu diperkirakan dalam G-20 Summit di London juga akan ada seperti itu dan ternyata di London tidak terjadi. Alhamdulillah, kemarin di Toronto juga tidak seseru, tidak seseram yang diangkat oleh berbagai media yang kita baca di Toronto itu.
Oleh karena kita sepakat agar pemulihan ekonomi ini betul-betul tuntas dan sukses. Maka bagi negara yang masih melakukan stimulasi fiskal atau fiscal stimulus dengan tujuan agar lapangan pekerjaan tercipta, kemudian demand bisa dijaga, ada proteksi bagi kaum miskin, dan akhirnya ekonomi kembali bergerak, itu juga dibenarkan. Tentu dalam ruang dan batas-batas yang tepat. Tentu pula sesuai dengan kemampuan negara itu, sesuai dengan ruang, fiscal space yang tersedia.
Bicara defisit memang berbeda-beda, ada yang relatif tinggi atau tinggi sekali di atas 10%, ada yang di atas 5% dan tidak banyak yang defisitnya serendah Indonesia. 2008, 2009, 2010, defisit APBN kita tidak ada yang lebih dari 2,5%, jauh di bawah, seolah-olah kita tidak melakukan fiskal stimulus sehingga defisitnya harus menjadi besar-besaran. Saya katakan tidak banyak yang serendah Indonesia, itupun dalam fiscal space yang tersedia manakala masih ada fiskal stimulus, itu juga tidak keliru disalahkan.
Sebaliknya agar tidak muncul krisis baru, maka negara-negara yang melakukan konsolidasi fiskal, pengurangan defisit atau deficit cut, di Eropa misalnya itu juga tidak disalahkan, karena kalau berlanjut akan sangat tidak sehat dan bisa memunculkan krisis baru. Oleh karena itu, akhirnya kita sepakat, bahwa ada dua tujuan kembar, common growth. Yang pertama, menuntaskan pemulihan perekonomian atau economic recovery dan kemudian setelah itu bisa masuk kepada tujuan yang ketiga, saya sampaikan nanti.
Yang kedua, tujuan kembarnya tadi dalam jangka pendek dan menengah ini, betul-betul upaya mencegah terjadinya krisis baru. Sehingga yang tadinya seolah-olah forum harus memilih, apakah setuju menghentikan stimulus fiskal dan kemudian masuk ke konsolidasi fiskal atau sebaliknya, itu tidak seperti itu. Semua sepakat bahwa keadaan masing-masing negara berbeda. Karena berbeda, diberikanlah ruang bagi pengambilan keputusan secara nasional dengan tetap mengacu pada dua tujuan kembar itu.
Sedangkan tujuan yang ketiga, tiada lain adalah agar benar-benar ke depan ini, bisa dibangun pertumbuhan perekonomian global yang kuat, yang berkelanjutan, dan yang berimbang, strong sustainable and balance global economic growth.
Di sini yang menarik saudara-saudara, karena seolah-olah ada kategori anggota G-20, ada negara maju yang surplus, ada negara maju yang defisit, ada negara emerging atau negara berkembang yang surplus, juga ada yang defisit. Ini tentu berbeda-beda resep dan solusinya.
Tapi forum berpendapat, utamanya bagi negara maju apalagi surplus atau emerging economies surplus, seperti Tiongkok, Indonesia dikategorikan surplus sedikit, maka harus berkontribusi untuk betul-betul masuk dalam upaya global, membangun strong, sustainable, and balance growth tadi. Artinya apa? Global imbalances yang saya sampaikan kemarin betul-betul harus segera kita akhiri dengan langkah-langkah konkret ke depan, tidak boleh ada negara yang sangat surplus, tapi ada negara yang sangat defisit, negara yang memproduksi dan menjual besar-besaran, negara yang menkonsumsi dan membeli besar-besaran.
Didorong bagi negara yang selama ini export oriented apalagi dalam jumlah besar, juga bisa menghidupkan demand di dalam negerinya, menghidupkan pasar domestik di dalam negerinya. Demikian juga yang selama ini sangat konsumtif, itu dilakukan langkah-langkah yang tepat, dengan demikian defisit itu bisa dikurangi.
Atas dasar itulah, kemarin dalam pandangan Indonesia yang saya sampaikan, bagi negara maju, termasuk emerging economies yang memiliki keadaan surplus itu betul-betul bisa ikut menyumbang kokohnya pertumbuhan global itu.
Indonesia sendiri saudara-saudara, saya sampaikan berkali-kali bahwa meskipun 2 tahun berturut-turut 2009, 2010, kita memberikan stimulus fiskal, jumlahnya 76 trilyun waktu itu, tapi kita juga menjaga agar APBN kita tetap prudent, tetap healthy, dan kalau defisit dalam batas yang tepat, yang sudah kita sepakati kurang dari 2,5% dalam realitasnya.
Akibat paduan dari fiskal yang terkelola itu, termasuk stimulus yang tidak berlebihan, maka keadaan perekonomian kita baik dalam arti tidak ada ledakan pengangguran baru, growth kembali terjaga dan insya Allah meningkat kembali, inflansi juga bisa dijaga, demikian indikator fundamental ekonomi yang lain, stabilitas mata uang kita, cadangan devisa kita lebih dari 70 megadolar sekarang, kemudian balance of payment, kalau ada masalah-masalah itu current account, neraca pembayaran, pembayarannya tahun berjalan, karena memang ada sejumlah impor barang modal yang mungkin ada masalah sedikit di situ. Tapi in the long run itu membawa kebaikan karena sekali lagi, yang diimpor barang modal. Kesimpulannya apa yang kita terapkan itu kena.
Dalam G-20 kemarin, saya menyampaikan, apalagi negara-negara yang memiliki kemampuan lebih tinggi lagi. Dengan demikian, bukan hanya retorika, bukan hanya komitmen, tapi actions, bagaimana betul-betul global growth ini bisa diwujudkan di tahun-tahun mendatang.
Tentu sebagaimana yang ada dalam komunike dan deklasari, ada satu langkah konkret yang dilakukan dalam koordinasi G-20 dengan timeline, siapa berbuat apa, siapa bertanggung jawab apa, kemudian ada yang dengan besar-besaran secara nominal. Itu menjadi hasil lengkap dari pertemuan G-20 kemarin.
Saudara-saudara,
Di samping perlunya penuntasan pemulihan perekonomian, perlunya konsolidas fiskal bagi negara-negara yang super defisit, perlunya kembali atau bukan kembali, perlunya kita segera menghadirkan strong, sustainable and balance growth itu, maka putaran Doha, Doha Development Agenda, juga menjadi perhatian kita. Hampir semua kepala negara, kepala pemerintahan mengangkat perlunya penuntasan Doha Development Agenda.
Ini bukan urusan dagang semata, sesungguhnya urusan pembangunan. Namanya development, kalau pembangunan, kalau itu segera selesai, ada konklusi, maka negara-negara berkembang, atau negara yang masih memiliki situasi yang jauh dari yang diharapkan secara internasional, itu juga bisa mendapatkan insentif karena WTO yang baik, Doha Development Agenda yang rampung dan diberlakukan. Oleh karena itu, kemarin para pemimpin, leaders bersepakat meskipun tanpa timeline, tetapi harus sangat serius untuk segera menuntaskan Doha Development Agenda. Hal-hal lain yang disampaikan juga agar semua kesepakatan, konsensus, persetujuan atau agreement dalam summit sebelumnya itu bisa dijalankan.
Dengan penjelasan saya ini saudara-saudara, sesungguhnya hasil dari pertemuan puncak di Toronto ini ya, itu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya sampaikan tiga kali pertemuan dengan delegasi sebelumnya. Tentu menjadi perhatian kita adanya unjuk rasa di Toronto, itu sisi lain dari pertemuan puncak G-20 dan sekarang agak menjadi model itu, entah G-20, G-8, kadang-kadang APEC, dimanapun, itu selalu ada gerakan unjuk rasa.
Gerakan unjuk rasa itu wajar, bukan sesuatu yang luar biasa, tentunya tetap peaceful, dan mentaati hukum dan aturan yang berlaku. Kalau tidak, kalau anarkis, kalau merusak, negara di manapun, polisi manapun melakukan tindakan-tindakan, yang diperlukan, termasuk yang di Toronto kemarin, di London sebelumnya kita saksikan ada tindakan-tindakan.
Jadi saya minta di Indonesia, kalau ada sesuatu yang melawan hukum, unjuk rasa dengan kekerasan, anarkis, ya tentu ditertibkan agar tujuan unjuk rasa itu bisa dicapai, tapi tidak menimbulkan ekses atau komplikasi yang lain. Kembali pada unjuk rasa itu, saya berusaha apa yang menjadi tema unjuk rasa itu. Saya sudah mengatakan saudara, malam itu saya membaca artikel banyak sekali di koran-koran, baik lokal Kanada maupun yang di luar Kanada, untuk memahami seperti apa sih dunia melihat G-20, kritiknya, harapannya, ketidakpuasannya, dukungannya dan sebagainya.
Saya juga sempat mendengarkan wawancara antara televisi lokal dengan pemimpin pengunjuk rasa, apa yang diharapkan. Kalau kita kaji, kita cermati, apa saja sebagaimana yang saya baca, sebenarnya bagi Indonesia nothing new bagi kita. Misalnya, G-20, jangan hanya sibuk untuk mengurusi perekonomian semata, apalagi negara sendiri-sendiri. Ingat MDG, karena masih ada tragedi kemanusian di dunia, kelaparan dan seterusnya.
Jadi urusan MDG, urusan global poverty. Juga ada masalah climate change, kerusakan lingkungan, juga ada masalah WTO, perdagangan yang adil, yang fair, kemudian juga ada biaya yang dikeluarkan untuk perhelatan semacam G-20, apakah dianggap efisien dan tidak efisien dan sebagianya.
Seperti isu seperti MDG, climate change, WTO, Doha Development Agenda, itulah yang disuarakan oleh negara-negara berkembang, itulah yang Indonesia suarakan, itulah yang saya sampaikan dalam retreat ataupun plenary session dari G-20 Summit itu.
Dengan demikian, kalau saya lihat topik dan isu yang diangkat, banyak yang sesuai dengan harapan kita, harapan negara berkembang, harapan rakyat yang belum pada tingkatan, sebagaimana rakyat negara-negara maju dengan income per kapita di atas 25.000 atau 30.000 dolar Amerika Serikat per tahun misalnya.
Yang akan datang G-20 akan dilaksanakan di Korea dan banyak pekerjaan rumah yang dialirkan untuk dibicarakan di Seoul kemarin, termasuk WTO atau Doha Development Agenda, kemudian perlunya menggandeng negara maju dan negara belum maju. Representasi G-20 dari Afrika dan tempat-tempat lain dan sebagainya. Jadi house keeping maupun membikin organisasi ini lebih efektif dan lebih efisien belum semuanya dibicarakan di empat summit sebelumnya, di Washington, London, Pittsburgh dan di Toronto, sehingga masih akan berlanjut pada pertemuan-pertemuan puncak setelah ini.
Saudara-saudara,
Itu bagian pertama dari penjelasan saya. Dan yang kedua adalah tujuan dari kunjungan kita ke Turki ini. Sebagaimana saudara ketahui, Turki adalah negara besar, memiliki peran yang besar, dan negara yang terus berkembang. Turki memiliki kejayaan di masa lalu, waktu Ottoman Empire sedang memimpin banyak wilayah di Eropa abad ke-14 sampai abad ke-17 waktu itu, 300 tahun lebih, itu hampir semua wilayah Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa Timur itu di bawah kekuasaan Ottoman Empire, sehingga pengaruhnya sangat luas.
Turki sekarang tentu dengan dinamika, perubahan, pasang surut di dalam negerinya, masalah politik, masalah ekonomi, masalah budaya, masalah agama, peran militer dan sebagainya. Kini Turki kita saksikan sebagai negara yang makin berperan di tingkat dunia maupun di kawasan negara yang tunbuh dan berkembang perekonomiannya, juga negara yang kuat dengan karakter tradisi maupun warisan-warisan sejarahnya. Oleh karena itu, Indonesia menganggap Turki sebuah sahabat dan partner yang penting bagi Indonesia.
Setelah kunjungan Presiden Soeharto tahun 1985, kunjungan kenegaraan, maka 25 tahun kemudian saya dengan delegasi melakukan kunjungan kenegaraan di Turki ini. Kalau tidak salah, Presiden Abdurrahman Wahid juga pernah berkunjung, tapi dalam kunjungan kerja dalam waktu yang tidak terlalu lama, kalau tidak salah ada kunjungan beliau.
Dengan bagaimana dunia dan Indonesia melihat Turki ini, maka sesuai dengan semangat pimpinan Turki sendiri, kita ingin sungguh meningkatkan kerja sama bilateral di bidang perekonomian, baik itu perdagangan, investasi, kepariwisataan, dan sektor-sektor perekonomian yang lain. Ekspor kita sebelum krisis pada tahun 2008, itu tercatat 2,1 milyar dolar Amerika Serikat cukup besar, kita berada pada posisi surplus, kita mengeskpor 1,6 milyar dolar Amerika Serikat, berarti ekspor Turki sekitar 500 milyar.
Kita ingin lebih meningkat lagi, karena kedua ekonomi juga terus tumbuh, baik Indonesia maupun Turki. Turki berharap setelah mengalami krisis perekonomian tahun ini mencapai 6%, demikian juga kita berharap mendekati 6%. Dengan demikian, bisa kita kembangkan ke depan, termasuk kerja sama dengan negara-negara sahabat.
Masih kerja sama dengan Turki, kita juga ingin sama-sama berperan untuk ikut memecahkan masalah pada isu-isu global tertentu, misalnya Palestina dan perdamaian di Timur Tengah. Dalam hal ini, posisi Turki dan Indonesia kurang lebih sama, mendukung kemerdekan rakyat Palestina, mendukung peace proses, menginginkan Irak, Afganistan juga bisa segera pulih kembali, dan manakala pasukan koalisi sudah meninggalkan negara itu, maka negara itu bisa membangun kembali dengan tentunya proses nation building yang baik dan dibantu oleh masyarakat dunia, utamanya negara-negara Islam.
Turki juga memiliki peran di dalam membangun dialogue among civilization, sama dengan peran kita. Kita ingin berkolaborasi dalam kaitan itu, sehingga tidak harus ada konflik terus-menerus among atau between civilization, barat dengan Islam misalnya. Kita ingin meningkatkan untuk kebersamaan pada agenda itu. Kita dengan Turki juga ingin bersama-sama untuk mengatasi isu global yang lain, perubahan iklim misalnya dan pemulihan perekonomian yang telah terjadi.
Indonesia dan Turki sama-sama anggota OKI, Organisasi Konferensi Islam, sama-sama anggota G-8. G-8 itu adalah delapan negara komunitas Islam utamanya di bidang ekonomi dan pembangunan kerjasama kita. Dan kemudian yang sekarang sedang aktif kita jalankan, keberadaan Turki dan Indonesia adalah di forum G-20. Ini adalah modal yang baik, opportunity yang baik bagi kedua negara untuk sekali lagi berkolaborasi, saling bersinergi dalam memainkan peranannya.
Tentu saja lebih dari itu saudara-saudara. Oleh karena itu, besok, insya Allah setelah pertemuan bilateral saya akan ada penandatanganan 8 MoU, akan dijelaskan besok apa saja. Kemudian dijadwalkan pula ada pertemuan saya dengan dunia usaha di Istanbul. Semangatnya tinggi sekali untuk kedua dunia usaha bisa saling bermitra, mencari peluang, apakah di Turki maupun di Indonesia, agar potensi yang masih ada itu betul-betul bisa dikembangkan secara optimal, itu juga menjadi acara penting.
Di samping besok, saya dijadwalkan untuk berbicara di Parlemen, ini juga forum yang bagus, tidak semua mendapatkan kesempatan bicara di Parlemen. Oleh karena itu, apa yang saya sampaikan tadi, bagaimana kerjasama bilateral kita tingkatkan, peran bersama di forum global juga bisa kita majukan akan menjadi topik utama dalam pidato saya di parlemen esok hari.
Saudara-saudara,
Menutup dari penjelasan saya ini, saya berpesan kepada delegasi, kepada saudara semua, selama kita berada di Turki ini, dua hari kurang lebih dapatkan pengetahuan seluas-luasnya, timbalah pengalaman dari bangsa Turki ini. Kemudian yang baik-baik bisa kita bawa kembali ke tanah air, sesuatu yang berbeda, karena karakternya berbeda, sejarahnya berbeda, isu masalahnya berbeda, ya tentu kita memiliki perbedaan dari segi policy, dari segi strategi dan dari progam, serta agenda pemerintah.
Banyak di antara kita, ini sering saya ucapkan, sering tidak terbuka di dalam melihat sesuatu, termasuk di dalam melihat negara dan bangsa lain, negara dan bangsa sahabat-sahabat kita. Kalau kita ini berjiwa terang, bersikap optimis, berpikir positif, selalulah ada yang bisa kita dapatkan. Dari kita datang berkunjung atau berinteraksi dengan bangsa dan negara lain. Sering ada sikap yang menurut saya kurang tepat di antara kita, bangsa Indonesia, melihat negara lain itu selalu dari kacamata ancaman, itu merugi.
Waspada harus, dalam globalisasi sering masuk nilai yang tidak sesuai dengan nilai kita, benar. Ada kepentingan negara lain yang tidak klop dengan kepentingan kita, bisa jadi. Itu dari sisi threat. Tapi ingatlah bahwa selalu ada sisi opportunity, peluang, apa yang dapat kita dapatkan dengan kerja sama, kemitraan, interaksi dengan bangsa dan negara lain.
Kalau berpikirnya ke situ, tentulah kita insya Allah akan ada yang dapat kita tingkatkan, paling tidak perekonomian, paling tidak kebersamaan kita di forum-forum global dengan Turki. Belum nanti misalnya kerja sama di bidang pertahanan, kerja sama di bidang kepariwisataan, kerja sama di bidang perfilman, kerja sama di sektor-sektor yang lain. Ketika kita mengalami tsunami dulu, kontingen Turki salah satu kontingan yang besar.
Saudara masih ingat Turkey’s bread dulu, roti Turki yang dibagi-bagi di Banda Aceh waktu itu, saya juga datang ke kontingen Turki, ikut melihat masaknya dengan wajan yang sangat besar dan kontingennya besar, bantuannya nyata, termasuk sekolah-sekolah yang dibangun oleh kontingen Turki di daerah bencana waktu itu.
Saya kira banyak yang kita bisa dapatkan dari Turki. Jangan malu-malu kita belajar pada bangsa lain, manakalah itu patut kita belajar, karena bangsa lain pun juga banyak menghormati kita, menghargai kita dan belajar dari apa yang dilakukan oleh bangsa Indonesia.
Itu yang ingin saya sampaikan saudara dan kalau kita berinteraksi dengan anggota G-20 misalnya, dengan anggota PBB yang lain, saudara yang mendampingi saya sering kita mendapatkan penghargaan yang tulus dari mereka atas capaian-capaian bangsa kita, kita syukuri. Mungkin juga ada yang mengkritik kita, masalah-masalah yang mesti kita perbaiki, kita terima. Dengan demikian, kita tidak merasa menjadi bangsa yang kecil terus, karena bangsa kita juga terus berkembang, tapi juga bangsa kita belum segalanya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita tuntaskan.
Saudara-saudara,
Itulah yang ingin saya sampaikan pada sore hari ini. Dan saya kira joint declaration itu sudah bisa diakses, sudah lewat masa embargonya ya sebab tadi malam tidak sempat, karena kita langsung berangkat ke bandara dan langsung terbang ke sini.
Demikian saudara-saudara yang ingin saya sampaikan. Kita masih ada acara lagi besok dan lusa. Dan konferensi pers atau press conference yang ada Q and A, kita rancang nanti mudah-mudahan bisa kita laksanakan di Istanbul setelah bisnis gathering nanti di sana.
Terima kasih, selamat malam.
Wssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



