Arsip
| « | Maret 2011 | » | ||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||
TEMPO Interaktif, Jakarta - Ibu negara, Kristiani Herawati Yudhoyono membantah tuduhan dua surat kabar Australia, The Age dan Sidney Morning Herald. Ani Yudhoyono, panggilan akrab ibu negara, mengatakan sejak diangkat menjadi Presiden 2004 Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen untuk tidak mengeruk keuntungan dari jabatannya.
Ani mengaku sangat sedih dengan dengan berita kedua surat kabar itu yang menurut dia tidak mengandung kebenaran sama sekali. “Apalagi dikeluarkan tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada kami,” kata Ani kepada Tempo melalui pesan pendek Jum'at (11/3).
Adapun Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengaku setelah membaca berita kedua surat kabar itu segara mencetak dan menyerahkan kepada Yudhoyono.
Berita utama kedua koran itu mengutip bocoran Wikileaks yang secara eksklusif menceritakan penyalahgunaan kekuasaan oleh Presiden Yudhoyono.
Dalam berita itu, disebutkan Yudhoyono, menurut sumber-sumber diplomat Amerika Serikat di Indonesia yang kemudian dibocorkan Wikileaks, pada Desember 2004 memerintahkan Hendarman Supandji, waktu itu Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus untuk menghentikan penyidikan kasus korupsi yang melibatkan Taufik Kiemas, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat yang juga suami mantan presiden Megawati.
Berita juga menyebut keluarga Yudhoyono, khususnya Ibu Negara memanfaatkan posisi politiknya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
ERWIN DARIYANTO