Pidato Presiden
Pengarahan kepada Menteri Kabinet Indonesia Bersatu
PENGARAHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA PARA MENTERI KABINET INDONESIA BERSATU
DAN PERANGKAT KEPRESIDENAN
ISTANA NEGARA, 22 OKTOBER 2004
Bapak Jusuf Kalla beserta Ibu,
Al Muqaram Quraisy Shihab,
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas perkenan dan ridho-Nya kita dapat melanjutkan rangkaian ibadah kita, ibadah pada bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh dengan taburan rahmat serta ampunan. Semoga bagi yang menjalankan ibadah puasa, ibadah kita diterima oleh Allah SWT.
Pada kesempatan yang baik ini, sebelum nanti Bapak Quraisy Shihab memberikan bimbingan rohani kepada kita sekalian, ijinkan saya untuk ikut menyampaikan beberapa hal, terutama kepada para Ibu Menteri jajaran Kabinet Indonesia Bersatu, sebagaimana tadi pagi saya sampaikan dalam sidang paripurna kabinet yang pertama kali kita laksanakan, bahwa kita baru saja mengawali sebuah lintasan berat yang insya Allah … lima tahun ke depan ..
Saya mengatakan, disamping jabatan itu adalah amanah, kehormatan, kepercayaan, dari sisi lain juga kemuliaan, tetapi dari perspektif lain adalah cobaan, ujian, dan sekaligus tantangan. Kalau kita letakkan dalam konteks kehidupan keagamaan kita, saya mengajak untuk meletakkan bahwa benar-benar yang kita jalankan ini sebuah tantangan, sebuah cobaan dan sebuah ujian.
Tadi secara sekilas saya jelaskan, belum mulai bekerja, kita sudah mendapatkan reaksi, komentar, tanggapan-tanggapan. Ada yang positif, ada yang setengah positif, ada yang setengah negatif, tapi juga ada yang menyangsikan bahwa kabinet ini bisa mengemban tugas dengan baik. Ada yang skeptis, ada yang pesimis, ada yang mengatakan tidak ada perubahan apapun, dan lain-lainnya. Saya mengajak hadirin sekalian, anggaplah itu juga tantangan.
Anggaplah itu juga ujian, ujian pada mentalitas kita, pada kesabaran kita, pada tekad dan semangat yang harus kita junjung tinggi. Saya mengatakan sekali lagi, tidak perlu kita beradu kata, membalas dengan hal-hal yang sama, tetapi marilah kita jawab semua itu dengan kerja kita, dengan karya kita, dan insya Allah kalau kita bekerja dengan benar, pastilah ada yang dapat kita lakukan untuk kebaikan rakyat, bangsa dan negara. Tanggapan-tanggapan yang miring, ketidakpercayaan, kesangsian itu akan sirna secara perlahan, seiring dengan hasil atau capaian yang insya Allah dapat kita wujudkan di waktu yang akan datang. Ini pertama-tama yang ingin saya sampaikan sebagai wujud dari kebersamaan kita.
Yang kedua, saya mengajak, ini awal dari kebersamaan kita, bahwa yang kita lakukan ini ibadah. Marilah kita menjalankan tugas di lingkungan pemerintahan, di kabinet ini dengan perasaan yang sungguh ikhlas, tulus, ibadah. Hampir pasti kita akan menghadapi tantangan, goncangan, persoalan yang datang dan pergi, seolah-olah kita menjalankan the mission impossible. Tapi, insya Allah, kalau kita betul-betul bertekad bisa melaksanakan, can do spirit, seberat apapun, dengan ridho Allah kita akan bisa laksanakan. Allah akan kasih jalan untuk memecahkan masalah ini. Saya mengajak, mari kita letakkan dalam konteks ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, pengorbanan kita, pengabdian kita, dengan penuh ikhlas dan ketulusan.
Yang ketiga, kita berada dalam satu perahu besar, we are sailing in one boat. Kita sudah tahu akan berlayar kemana, kita punya visi, kita punya road map, lintasan perjalanan sang kapal ini. Ada nahkoda, ada wakil nahkoda, ada peran masing-masing, agar kapal besar ini mengarungi samudera yang luas, mencapai tujuan yang diharapkan. Pasti ada taufan, badai, karang, ombak, dan sebagainya. Tapi karena kita satu perahu, kalau kita menjalankan tugas kita dengan benar, insya Allah, seberat apapun, sedahsyat apapun badai dan taufan itu, kita tidak akan kehilangan arah. Kita bisa menuju pelabuhan tujuan. Ada kalanya kita menghindari karang, ada kalanya kita melihat keadaan untuk memilih jalan yang tepat, tapi tetap pada arah yang kita tuju. Dalam konteks ini, semua menjadi penting. Satu untuk semua, semua untuk satu. Semua penting. Oleh karena itu, kekompakan, keharmonisan, saling bantu, tenggang rasa, menjadi modalitas kita, menjadi sesuatu, menjadi sumber energi untuk kita bisa melaksanakan tugas dengan baik.
Saya mohon dengan hormat, kepada para istri, termasuk istri saya, termasuk Ibu Jusuf Kalla, untuk juga tidak pernah meninggalkan dzikir dan doa. Tidak pernah tidak memberikan semangat kepada kami-kami, karena jelas ke depan nanti akan menghadapi tantangan yang besar, ombak yang besar, gelombang yang dahsyat. Istri atau keluarga bagian dari keberhasilan, part of the solution, part of the success. Saya ingin, meskipun kita terikat dalam undang-undang, dalam peraturan, dalam aturan main dan etika, tapi tetaplah nuansa kekeluargaan, satu untuk semua, semua untuk satu jangan kita tinggalkan. Justru perkokoh dan kita perkuat. Barangkali para suami akan banyak menggunakan waktu senggang, waktu untuk keluarga. PR kita banyak, siang-malam, hari libur, saya mohon pengertian dari Ibu-ibu, pengertian dari keluarga. Karena harapan rakyat tinggi sekali, tinggi sekali.
Kita punya keterbatasan. Tidak ada satu pun diantara kami, saya atau Pak Jusuf Kalla yang punya resep ajaib, there isn’t magic formula. Tidak ada superman diantara kita, seperti membalikkan telapak tangan. Tapi rakyat tahunya 100 hari semuanya serba beres. Pendidikan jadi baik, kesehatan jadi baik, harga-harga jadi murah, dan sebagainya dan sebagainya.
Ini tentu persoalan tersendiri. How to manage the expectation from the people. Managing expectation, tadi kita bahas, dengan hasil, dengan output, dengan capaian. Seratus hari pertama, proses menjadi penting. Agenda yang tepat menjadi penting. Kegiatan kita menjadi penting. Mereka tahu kita mengerti masalah, kita tahu meletakkan masalah dan kita segera memecahkan masalah. The process. Tetapi saya juga ingin the result. Hasilnya apa. Outpu-tnya apa. Apa yang berubah.
Oleh karena itulah saya ingin mengajak bersama-sama, agar kita lakukan sesuatu dengan proses yang benar. Kita punya keyakinan, output-nya juga benar. Jangan berspekulasi, jangan memanipulasi, jangan menyulap-nyulap, jangan memoles-moles sesuatu, karena itu tidak abadi. Akan sangat mudah terkuak ketidakbenaran. Tapi jika kita lakukan dengan benar, dasarnya benar, landasannya benar, undang-undangnya benar, akuntabel, kita pertanggungjawabkan kepada semua, termasuk pada Allah SWT, saya kira akan ada yang bisa kita capai.
Dalam kesempatan inilah, di bulan Ramadhan, bulan yang baik, bangsa kita juga dulu, memproklamasikan kemerdekaan pada bulan Ramadhan, Bung Karno-Bung Hatta, mudah-mudahan berkah Ramadhan bagi kita semua, yang tentunya harus kita jalani semua lintasan pengabdian ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh tanggung jawab, penuh keikhlasan, sebagai suatu ibadah dan kebersamaan diantara kita.
Saya kira itulah yang dapat saya sampaikan, dan kebersamaan seperti ini saya kira, sekali-kali perlu kita lakukan. Tak kenal maka tak sayang, kalu kita makin mengenal, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, one for all, all for one, saya kira, seberat apapun kita akan dapat memecahkan masalah itu. Saya punya keyakinan, Bapak-Ibu, insya Allah, kita bisa. Jangan ragu, jangan cemas, jangan bimbang dengan ketidakpercayaan, dengan skeptis, apa namanya, pesimisme dari yang muncul di media massa, di banyak tempat, tapi dengarkan. Anggaplah itu sekali lagi, pemacu dan pemicu kerja keras kita.
Demikianlah, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungan kepada kita sekalian. Memberikan kekuatan lahir dan bathin kepada kita sekalian untuk betul-betul bisa mengemban tugas bangsa dan negara.
Sekian,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



