Pidato Presiden

Sambutan dalam Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Laos

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI VIENTIANE - LAOS
WISMA DUTA-LAOS, 30 NOVEMBER 2004


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati Saudara Duta Besar beserta Ibu dan keluarga Besar KBRI di Vientiane, Laos.
Saudara-saudara Keluarga Besar Bangsa Indonesia yang berada di Laos,
Hadirin sekalian yang berbahagia.

Pada kesempatan yang baik ini dan Insya Allah penuh berkah, saya mengajak hadirin untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat bertemu di tempat ini, di Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia, di Vientiane, Laos dan semoga kita semua senantiasa berada dalam keadaan sehat walafiat.

Saya berkunjung ke Laos ini untuk sebuah tugas negara. Saya tidak datang sendiri tetapi saya mengemban tugas negara ini bersama sama dengan Beliau-beliau yang mewakili DPR RI, yang mewakili generasi muda kita, yang mewakilki dunia usaha kita. Barangkali tidak semuanya hadir malam hari ini. Kemudian tentunya adalah anggota Kabinet Indonesia Bersatu. Kita juga gembira, di belakang ada yang menggunakan seragam merah dan putih, yang tadi dengan bangga kita saksikan ikut dalam rally ASEAN India Car Rally 2004, yang Insya Allah nanti akan mengakhiri rally-nya di Pulau Batam, di negara kita.

Ada pepatah tak kenal maka tak sayang, datang tampak muka, pergi tampak punggung. Oleh karena itu, supaya suasana malam hari ini, meskipun agak larut malam, tetapi kita ingin melepas rasa rindu. Terus terang kami semua rindu kepada saudara-saudara kita yang ada di luar negeri. Mudah-mudahan Saudara-saudara yang di luar negeri juga rindu kepada Saudara-saudaranya yang ada di Tanah Air, tetap mencintai bangsa dan negaranya, tetap bangga kepada Indonesia dan dapat menampilkan citra yang terbaik untuk kehormatan bangsa yang kita cintai.

Saya akan memperkenalkan diri dari Beliau-beliau yang mewakili DPR RI, ketiganya adalah pejabat senior, senior parlementarian yang mempunyai posisi terhormat di DPR RI. Yang paling kanan adalah Bapak Theo L. Sambuaga, sebelah kiri Beliau adalah Bapak Sudarto Danusubroto, sebelah kiri Beliau adalah Bapak Suripto. Dari Kabinet Indonesia Bersatu yang paling kiri adalah Bapak Widodo AS, ini Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Di sebelah kanan Beliau adalah Bapak Aburizal Bakrie, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Sebelah kanan Beliau, Bapak Yusril Ihza Mahendra, Menteri Sekretaris Negara. Sebelah kanan Beliau, Bapak Hassan Wirajuda, Menteri Luar Negeri beserta Ibu. Kemudian sebelah Ibu Hassan adalah Ibu Marie E. Pangestu, Menteri Perdagangan. Yang paling kanan adalah KAPOLRI kita, Bapak Jenderal Da’i Bachtiar. Di sebelah kiri ada Sekretaris Presiden, Bapak Kemal Munawar. Sebelah kirinya Sekretaris Militer Presiden, Bapak Mayor Jenderal TNI TB Hasanuddin. Sebelah kiri Beliau adalah Dirjen Protokol, Djoko Hardono. Sebelah kiri Beliau adalah mewakili KNPI, Saudara Naddjamudin Ramli. Sebelah kirinya pakai Ramli juga, Bapak Nachrowi Ramli, Kepala Lembaga Sandi Negara. Sebelah kirinya adalah Komandan Pengamanan Presiden PASPAMPRES, Mayor Jenderal TNI. Marini Agung Widjajadi. Kemudian tanpa Beliau paling kiri tidak bisa terbang, Direktur Utama Garuda, Bapak Indra Setiawan. Ada Bapak Brata di sini, Beliau Direktur Jenderal di Departemen Pertahanan. Saya kira ada banyak Pak, tolong yang ikut rally yang mewakili bangsa kita berdiri, ada berapa Bapak. Kita berdo’a supaya Beliau bisa mengangkat nama besar bangsa Indonesia, Insya Allah. Terima kasih.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Duta Besar tadi, bahwa saya mengemban amanat rakyat, mendapat mandat dari rakyat untuk memimpin Indonesia, Insya Allah lima tahun mendatang. Hari ini genap hari keempatpuluh, saya bertugas sebagai Presiden RI, kita berterima kasih, kita memberikan penghargaan kepada Ibu Megawati Soekarnoputri yang dengan dedikasi dan kerja keras Beliau, Beliau telah dapat menyelenggarakan PEMILU yang sangat bersejarah, yang dihormati oleh seluruh dunia, yang disebut PEMILU yang damai dan demokratis. Kita juga berterima kasih kepada Pemerintahan Ibu Megawati, karena setelah negara kita mengalami krisis, tiga tahun terakhir kondisi ekonomi kita membaik , makro ekonomi kita itu memiliki posisi yang baik yang menjadikan landasan bagi pemerintah yang sewaktu nanti untuk melanjutkan pembangunan kedepan. Tentu saja kita berterima kasih, kita memberikan penghargaan, apa yang sudah dicapai pemerintahan yang lalu, yang belum bisa dicapai misalnya pengangguran yang juga masih tinggi, sektor riil yang belum tumbuh benar, tugas saya untuk memperbaikinya di waktu yang akan datang.

Suatu saat, pemimpin Indonesia yang menggantikan saya tentu juga akan melanjutkan apa-apa yang belum saya capai atau belum bisa dicapai oleh pemerintah sebelumnya. Dengan demikian, bagi rakyat, bagi bangsa, pergantian kepemimpinan, pergantian pemerintahan itu bagian dari kehidupan demokrasi. Itu terjadi di negara manapun juga. Oleh karena itulah, wajib hukumnya kita menghormati, kita mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin, sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, karena dengan segala kelebihan dan kekurangan, Beliau-beliau itu telah berbuat, telah berupaya keras untuk meningkatkan nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang sama-sama kita cintai.

Saudara-saudara sekalian,
Saya memang bersyukur bahwa baru satu bulan lebih sepuluh hari, saya mendapatkan peluang untuk bisa bertemu dengan banyak kepala negara, hadir dengan banyak forum yang tidak mungkin saya lakukan kalau saya harus berkunjung satu persatu ke negara-negara sahabat itu. Disamping waktu saya habis, biayanya mahal sekali, dan itu tentu tidak tepat karena justru awal-awal pemerintahan saya, orang sering menyebut seratus hari pertama, saya dan pemerintah memang harus lebih menangani, mengelola permasalahan di dalam negeri. Alhamdulilah minggu yang lalu selama dua hari satu malam, ulangi dua hari tiga malam, saya menghadiri APEC Meeting di Santiago, Chile, itu terbang pulang-pergi tujuh puluh jam, tinggal di Chile-nya itu hanya limapuluh delapan jam. Di situ alhamdulilah saya bisa bertemu dengan duapuluh satu kepala negara, yang kalau saya berkunujung satu-persatu, berapa bulan itu, antara lain untuk kepentingan negara kita. Disamping pertemuan dengan para pemimpin APEC, kami waktu itu, bersama-sama dengan DPR, bersama-sama dengan dunia usaha kita atau KADIN, bersama-sama dengan generaasi muda yang mewakili KNPI, itu bisa melaksanakan pertemuan dengan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Hu Jintao, dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dengan Presiden Amerika George W. Bush, dengan Perdana Menteri Australia John Howard, dengan Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark, dengan Presiden Chile Ricardo Lagos, dengan Perdana Menteri Kanada Paul Martin dan satu lagi siapa kemarin itu, dengan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi.

Dalam pertemuan maraton saya di Chile, alhamdulilah kita telah banyak mendapatkan agenda kerjasama yang insya Allah lima tahun mendatang akan kita jalankan secara sungguh-sungguh, tentu untuk kepentingan kita, kepentingan negara kita, kepentingan bangsa kita dan juga kepentingan di antara Indonesia dengan negara-negara sahabat itu.

Selama dua hari di Laos ini, alhamdulilah, saya dan rombngan para Menteri, DPR dan lain-lain, juga mengikuti beberapa yang disebut Summit atau Konferensi Tingkat Tinggi, yang dihadiri oleh kepala negara atau kepala pemerintahan. Pertama adalah ASEAN Summit, sepuluh negara, ingat sepuluh negara masih hafal, negara mana saja ASEAN itu? Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Thailand, itu enam, ditambah yang baru, Laos, Kamboja, Vietnam dan Myanmar. ASEAN Summit, setelah itu ASEAN plus three Summit, sepuluh tadi ditambah dengan Tiongkok, China, Jepang dan Korea. Kemudian ASEAN plus masing-masing, ASEAN plus China, ASEAN Korea, ASEAN plus Jepang. Jadi itu sudah lima kali Summit, tambah ASEAN plus India. Summit yang keenam, ditambah ASEAN plus Selandia Baru dan Australia. Jadi tujuh kali Pertemuan Tingkat Tinggi, tentu kita membahas untuk kepentingan kita dan kita berjuang untuk kepentingan Indonesia.

Disamping itu, kita juga melaksanakan pertemuan bilateral, baru saja ini sebelum ke sini, dengan Myanmar. Sebelumnya kita pertemuan bilateral dengan antara lain Brunei Darusalam, kemudian dengan India, kemudian dengan Vietnam, dengan Laos, dengan Kamboja, dengan Korea, dengan Thailand, dengan Filipina dan kami melaksanakan pertemuan segi tiga, Thailand, Malaysia, Indonesia.

Waktu saya di Santiago bertemu dengan Presiden Hu Jintau dari China, tapi di Laos saya ketemu dengan Perdana Menterinya. Jadi sudah lengkap, baik itu yang Kepala Negara maupun Kepala Pemerintahan. Dari semua itu, alhamdulilah kita melangkah lebih jauh lagi untuk kerjasama yang lebih kongkret. Apa artinya kerjasama lebih kongkret?.

Saudara-saudara,
Kita ingin Indonesia lima tahun mendatang, ekonominya makin baik, kalau ekonomi makin baik, rakyatnya makin sejahtera, kalau rakyat sejahtera negara kita namanya adil. Kita berjuang untuk itu, oleh karena itulah maraton, kurang tidur, memang, tetapi alhamdulillah kita mulai mengagendakan kerjasama lanjutan, sebagian sudah dirintis oleh Ibu Megawati, sebagian kami lanjutkan dan kami tambah lagi, misalnya kerjasama di bidang perdagangan, kerjasama di bidang investasi, kerjasama di bidang perikanan, pertanian, industri, energi, pendidikan, budaya, pariwisata, termasuk kerjasama di dalam menghadapi kejahatan trans nasional, termasuk terorisme dan kerjasama untuk memelihara atau menegakan keamanan regional. Itulah agenda-agenda konkret kita.

Mengapa kita melakukan kerjasama dengan luar negeri? Pertama-tama, dalam era globalisasi, tidak ada negara di dunia ini, satu pun juga yang tidak bekerjasama dengan negara lain. Itu yang pertama. Akan menjadi bangsa yang merugi, akan menjadi bangsa yang kalah, kalau kita tidak cerdas dalam era globalisasi ini. Mengembangkan kerjasama untuk kepentingan kita, itu yang pertama. Yang kedua langkah-langkah pembangunan ekonomi, pembangunan teknologi, dan bidang-bidang kehidupan yang lain sekarang ini juga ada proses untuk kerjasama dengan negara-negara sahabat, terutama mereka yang memiliki kemampuan untuk kita bisa menimba pengalaman, bisa mengalirkan kelebihan-kelebihan itu ke negeri kita sendiri.

Dan yang terakhir mengapa kita mengadakan kerjasama dengan luar negeri, misalkan kita ingin kawasan Asia Tenggara, kawasan yang stabil yang aman dan damai, karena Undang-Undang Dasar kita, karena amanah konstitusi, karena rakyat kita ingin memang, disamping satu, melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdasakan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, keadilan sosial dan perdamain abadi, itu amanah konstitusi. Oleh karena itulah, kita jangan alergi melaksanakan kerjasama dengan negara lain. Harus, tetapi kerjasama itu untuk sebesar-besar kepentingan rakyat kita. Harus cerdas, harus jernih, harus tepat agendanya, kerangkanya dan aturan-aturan mainnya.

Itulah yang ingin saya sampaikan, dengan demikian, mudah-mudahan dengan doa Saudara-saudara semua yang saya cintai, negara kita terus kita majukan. Masalah-masalah yang sangat komplek, karena negara kita baru saja mengalami krisis enam tahun yang lalu, juga terus dapat kita tingkatkan kondisinya menuju Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang lebih aman, lebih adil, lebih demokratis dan lebih sejahtera. Itulah sebenarnya misi kami, oleh karena itulah meskipun sudah dua hari di sini, rasanya baru sekarang ini agak rileks karena dari jam ke jam, dari pertemuan ke pertemuan, dari diskusi ke diskusi, dari negosiasi ke negosiasi. Jadi tidak terasa, karena kami semua bersemangat, capeknya nanti biasanya. Bersemangat untuk bersama-sama memperjuangkan kepentingan nasional kita.

Bapak Duta Besar,
Saudara-Saudara,
Keluarga Besar KBRI maupun masyarakat Indonesia yang ada di Laos ini,
Saya berharap, saya berpesan, saya memohon, jagalah harkat, martabat, dan nama baik bangsa dan negara kita. Apapun profesi Saudara, jaga kehormatan dan nama baik bangsa Indonesia. Saudara juga duta bangsa, bukan hanya Bapak Rasyid sebagai Duta Besar, Saudara juga duta-duta bangsa Indonesia, jangan cemarkan nama baik kita, tolong junjung tinggi Indonesia adalah bangsa yang besar dari dulu dan kita, insya Allah akan terus membangun diri, betul-betul menjadi negara yang besar, terhormat, baik di dalam negeri maupun di dalam pergaulan masyarakat internasional.

Yang kedua teruslah berjuang sesuai dengan profesi Saudara masing-masing, do the best, berbuatlah yang terbaik, kalau menjadi duta bangsa, menjadi staf, menjadi diplomat, ya jadilah diplomat yang baik, staf yang baik, yang dibanggakan bukan sekedar melaksanakan tugas, bukan bisnis of usual, harus ada nilai tambahnya. Demikian juga yang lain, bergerak di bidang ekonomi, tunjukan Anda seorang wiraswastawan yang baik, antropologi yang baik , jangan nakal-nakalan, yang benar, etikanya benar, profesional, jiwa pengusahanya tinggi sehingga juga mengharumkan nama bangsa dan negara kita. Apapun profesi Saudara, semua profesi itu mulia kalau Saudara jalankan dengan baik, bahkan tak segan melihat, oh ini Indonesia. Saya bangga, saya hormat orang itu baik, dimanapun, sebagai apapun Saudara.

Kemudian yang ketiga, teruslah berkomunikasi dengan saudara-saudara di tanah air. Terus berkomunikasi dengan baik, saling doa, mendoakan baik, tidak ada yang lebih dari doa dari sesama saudara kita, sesama sebangsa dan se-tanah air. Kekuatan doa, kekuatan dzikir, itu adalah kekuatan yang dasyat yang bisa mensukseskan profesi dan tugas Saudara masing-masing.

Dan tentunya saya titip kepada Bapak Duta Besar, semua warga Indonesia yang di Laos ini, tolong diberikan pengayoman dan perlindungan yang baik. KBRI harus tahu orang-seorang warga Indonesia yang ada di Los ini, mendapatkan proteksi, mendapatkan informasi, memberikan pelayanan kalau diminta. Jadi tolong sebagai keluarga besar bangsa Indonesia, berikan kemudahan-kemudahan agar mereka lebih dapat menjalankan kehidupannya yang lebih baik di negeri ini.

Saya kira itulah yang dapat saya sampaikan, dan insya Allah besok saya mohon diri untuk kembali ke tanah air, karena tugas terus menunggu. Besok siang atau sore sudah mendarat, malam saya harus bergerak ke arah Cisarua, ada kegiatan di sana. Paginya akan ada berapa banyak para guru yang akan berkumpul di Jakarta, 10 ribu guru, saudara-saudara kita, para guru datang dari penjuru tanah air, mereka ingin silaturahim dengan kami-kami, tentu karena mereka itu pahlawan, para guru harus diterima dengan baik. Tugas terus menunggu di tanah air, oleh karena itu saya mohon diri besok pulang dan tentunya sekali lagi kita saling mendoakan.

Baiklah, saya sungguh senang malam hari ini, Saudara-saudaraku semuanya, selamat berjuang, jaga diri baik-baik, kita semua mencintai Saudara, doa-mendoakan, negara kita makin maju, makin sejahtera , makin aman, makin adil dan makin demokratis.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungannya kepada kita sekalian.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan